Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

OPTIMALISASI PENERAPAN SIPP DALAM MEWUJUDKAN KETERBUKAAN INFORMASI DI PN DENPASAR Kadek Putri Nirmala Dewi; Bagus Gede Ari Rama
Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 6, No 9 (2023): Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jpm.v6i9.3286-3292

Abstract

Di era sekarang ini, dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, semua aspek kehidupan manusia tidak bisa lepas dari sistem yang serba digital. Kecepatan tuntutan perubahan di zaman sekarang berimplikasi pada perkembangan pelayanan publik pengadilan. Isu pelayanan publik merupakan isu penting yang dihadapi penyelenggara layanan publik Indonesia saat ini. Tujuan dari dilakukannya penelitian mengenai optimalisai penerapan sipp dalam mewujudkan keterbukaan informasi di pn Denpasar ini guna mencari tau bagaimana pelaksanaan pengoptimalisasian ini, apakah sudah berjalan lancar atau belum dan bertujuan untuk mempermudah masyarakat dalam memahami bagaimana cara mengakses sipp dalam web pengadilan negeri Denpasar. Metode yang digunakan dalam optimalisasi penerapan sipp untuk mewujudkan keterbukaan informasi di pn Denpasar adalah dilaksanakannya sosialisasi dan wawancara, agar diperolehnya data-data yang relevan untuk dibahas lebih lanjut. Dapat disimpulkan bawasannya tidak semua informasi mengenai suatu perkara dapat diumumkan atau dapat diakses oleh masyarakat kalangan luas, karena sebelum memberikan informasi kepada pemohon atau memasukannnya dalam situs SIPP, petugas informasi wajib mengaburkan informasi yang dapat mengungkap identitas pihak-pihak dalam putusan atau penetapan hakim
OPTIMALISASI PENERAPAN SIPP DALAM MEWUJUDKAN KETERBUKAAN INFORMASI DI PN DENPASAR Kadek Putri Nirmala Dewi; Bagus Gede Ari Rama
Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 6, No 9 (2023): Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jpm.v6i9.3286-3292

Abstract

Di era sekarang ini, dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, semua aspek kehidupan manusia tidak bisa lepas dari sistem yang serba digital. Kecepatan tuntutan perubahan di zaman sekarang berimplikasi pada perkembangan pelayanan publik pengadilan. Isu pelayanan publik merupakan isu penting yang dihadapi penyelenggara layanan publik Indonesia saat ini. Tujuan dari dilakukannya penelitian mengenai optimalisai penerapan sipp dalam mewujudkan keterbukaan informasi di pn Denpasar ini guna mencari tau bagaimana pelaksanaan pengoptimalisasian ini, apakah sudah berjalan lancar atau belum dan bertujuan untuk mempermudah masyarakat dalam memahami bagaimana cara mengakses sipp dalam web pengadilan negeri Denpasar. Metode yang digunakan dalam optimalisasi penerapan sipp untuk mewujudkan keterbukaan informasi di pn Denpasar adalah dilaksanakannya sosialisasi dan wawancara, agar diperolehnya data-data yang relevan untuk dibahas lebih lanjut. Dapat disimpulkan bawasannya tidak semua informasi mengenai suatu perkara dapat diumumkan atau dapat diakses oleh masyarakat kalangan luas, karena sebelum memberikan informasi kepada pemohon atau memasukannnya dalam situs SIPP, petugas informasi wajib mengaburkan informasi yang dapat mengungkap identitas pihak-pihak dalam putusan atau penetapan hakim
PROBLEMATIKA YURIDIS PEMBONCENGAN REPUTASI (FREE RIDING) DALAM HUKUM MEREK INDONESIA Kadek Julia Mahadewi; Kadek Indra Dewan Tara; Bagus Gede Ari Rama
Kertha Semaya: Journal Ilmu Hukum Vol. 14 No. 7 (2026)
Publisher : Fakultas Hukum Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/KS.2026.v14.i07.p08

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konstruksi dan batasan normatif konsep persamaan pada pokoknya dalam hukum merek Indonesia serta mengkaji parameter penilaian itikad tidak baik (bad faith) dalam sengketa merek, khususnya dalam kaitannya dengan praktik pemboncengan reputasi (free riding). artikel ini menggunakan metode penelitian hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan, pendekatan kasus, dan pendekatan konseptual. Bahan hukum yang digunakan terdiri atas bahan hukum primer, sekunder, dan tersier yang dianalisis secara kualitatif melalui metode penafsiran hukum dan analisis deskriptif-analitis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konstruksi normatif konsep persamaan pada pokoknya dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis masih bersifat abstrak dan belum memiliki parameter operasional yang jelas, sehingga penerapannya sangat bergantung pada interpretasi hakim. Dalam Putusan Nomor 10/Pdt.Sus-HKI/Merek/2025/PN Niaga Semarang, hakim telah menerapkan konsep tersebut secara substantif dengan mempertimbangkan kesamaan visual, fonetik, dan konseptual serta potensi kebingungan konsumen (likelihood of confusion), sekaligus memberikan perlindungan terhadap merek terkenal. Selain itu, penelitian ini menemukan bahwa parameter bad faith dalam sengketa merek dapat diidentifikasi melalui adanya pengetahuan terhadap merek pihak lain, kesengajaan meniru unsur dominan, tujuan memperoleh keuntungan tidak sah, serta tetap dilakukannya tindakan meskipun telah diberikan somasi. Dalam perkara “Sensatia”, seluruh parameter tersebut terpenuhi sehingga penggunaan merek oleh Tergugat 8dapat dikualifikasikan sebagai tindakan yang dilakukan dengan itikad tidak baik sekaligus sebagai bentuk pemboncengan reputasi (free riding). Dalam perspektif hukum merek Indonesia, meskipun konsep free riding belum diatur secara eksplisit, substansinya tercermin dalam perlindungan terhadap merek terkenal dan prinsip itikad baik. Oleh karena itu, diperlukan penguatan norma dan standarisasi parameter hukum guna meningkatkan kepastian hukum dan konsistensi dalam penegakan hukum merek di Indonesia. This study aims to analyze the construction and normative boundaries of the concept of “substantive similarity” in Indonesian trademark law and to examine the parameters for assessing bad faith in trademark disputes, particularly in relation to free-riding practices. This article employs a normative legal research method using statutory, case-law, and conceptual approaches. The legal materials used consist of primary, secondary, and tertiary sources, which were analyzed qualitatively through legal interpretation and descriptive-analytical methods. The research findings indicate that the normative construction of the concept of similarity in Law No. 20 of 2016 on Trademarks and Geographical Indications remains abstract and lacks clear operational parameters, making its application highly dependent on judicial interpretation. In Judgment No. 10/Pdt.Sus-HKI/Merek/2025/PN Niaga Semarang, the judge applied this concept substantively by considering visual, phonetic, and conceptual similarities as well as the likelihood of consumer confusion, while also providing protection for well-known trademarks. Furthermore, this study found that the parameters of bad faith in trademark disputes can be identified through knowledge of the other party’s trademark, the intentional imitation of dominant elements, the intent to obtain unlawful profit, and the continued commission of the act
PENERAPAN MONETISASI DAN KOMERSIALISASI HAK EKONOMI DALAM KLAIM HAK CIPTA PADA PLATFORM YOUTOUBE Kadek Julia Mahadewi; I Putu Edi Rusmana; Dewa Krisn Prasada; Bagus Gede Ari Rama; Anak Agung Sagung Mirah Pratiwi
Repertorium: Jurnal Ilmiah Hukum Kenotariatan Vol. 14 No. 2 (2025): Repertorium
Publisher : Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28946/rpt.v14i2.4938

Abstract

Penelitian ini mengkaji secara komprehensif keberadaan perlindungan kekayaan intelektual dalam hukum hak cipta, khususnya terkait pengaturan dalam Pasal 9 Undang-Undang Hak Cipta (UUHC) dan penerapannya pada platform digital YouTube. Fokus utama diarahkan pada posisi kreator sebagai pemegang hak eksklusif atas ciptaan, serta mekanisme sistem Content ID dalam proses identifikasi, klaim, dan perolehan monetisasi atas konten yang diunggah. Dalam praktiknya, implementasi perlindungan hak cipta dan skema monetisasi di platform digital menghadapi berbagai tantangan, antara lain sengketa klaim hak cipta, misuse atau penyalahgunaan klaim oleh pihak tertentu, asimetri informasi antara platform dan kreator, serta keterbatasan regulasi positif yang secara spesifik mengatur model perlindungan dan komersialisasi konten digital. Permasalahan pokok dalam jurnal ini adalah bagaimana penerapan monetisasi dan komersialisasi dalam klaim hak cipta pada platform YouTube serta sejauh mana perlindungan yang diberikan kepada konten kreator dan masyarakat pengguna. Tujuan penulisan jurnal ini adalah agar masyarakat dan konten kreator memahami hak dan kewajiban mereka terkait perlindungan hak cipta di ruang digital. Metode yang digunakan adalah penelitian hukum empiris dengan pendekatan perundang-undangan. Sumber data terdiri atas data primer dan sekunder yang dianalisis secara kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan monetisasi di YouTube masih menghadapi banyak tantangan, sehingga peran pemerintah dan pembuat kebijakan sangat diperlukan dalam merumuskan pengaturan dan pengawasan yang lebih jelas, tegas, dan adaptif terhadap perkembangan platform digital.