Ahmad Haidar
Program Studi Manajemen Komunikasi, Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran Bandung, Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Variasi Makna Ujaran Kebencian Oleh Snowflake Generation Di Jatinangor Dengan Studi Fenomenologi Ahmad Haidar
Cakrawala Repositori IMWI Vol. 6 No. 4 (2023): Cakrawala Repositori IMWI
Publisher : Institut Manajemen Wiyata Indonesia & Asosiasi Peneliti Manajemen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52851/cakrawala.v6i4.456

Abstract

Variasi Makna Ujaran Kebencian Oleh Snowflake Generation di Jatinangor dengan Studi Fenomenologi memiliki bahasan motif penggunaan ujaran kebencian, pengalaman komunikasi, dan variasi makna ujaran kebencian. Bahasan tersebut dirumskan karena banyak isu mengenai ujaran kebencian yang bersinggungan juga dengan hak kebebasan berekspresi. Untuk itu, dilakukan penelitian untuk mengungkap variasi makna ujaran kebencian dengan pengumpulan data yang dilakukan melalui wawancara mendalam serta observasi demi mendapatkan variasi makna ujaran kebencian dari Snowflake Generation di Jatinangor. Hasil penelitian menunjukan bahwa motif dari penggunaan ujaran kebencian oleh Snowflake Generation di Jatinangor adalah untuk memudahkan komunikasi, menggunakan ujaran kebencian karena adanya kedekatan diri, menggunakan ujaran kebencian sebagai media evaluasi, dan untuk menggunakan ujaran kebencian dalam menyalurkan emosi. Kemudian, variasi makna ujaran kebencian bagi Snowflake Generation di Jatinangor yaitu sebagai ekspresi kebencian, sebagai simbol pemaknaan orang lain terhadap diri, dan sebagai bercandaan. Makna-makna tersebut berasal dari pengalaman komunikasi para Snowflake Generation di lingkungan pergaulan keluarga, pertemanan, kolega kerja, dan media sosial. Berdasarkan hasil penelitian, peneliti mengharapkan seluruh masyarakat khususnya yang terkelompok sebagai Snowflake Generation, untuk tidak menerima ujaran-ujaran dengan sensitivitas dan menghasilkan emosi yang berlebihan. Agar bisa menghindari hal tersebut, peneliti mengharapkan masyarakat untuk tidak memaknai suatu ujaran kebencian sebagai suatu tindak diskriminasi, kekerasan, dan/atau konflik sosial secara personal seperti yang terjadi pada informan-informan penelitian ini. Cobalah untuk berdiskusi dalam mengenali lebih dalam akan ujaran yang diberikan orang lain.
Variasi Makna Ujaran Kebencian Oleh Snowflake Generation Di Jatinangor Dengan Studi Fenomenologi Ahmad Haidar
Cakrawala Repositori IMWI Vol. 6 No. 4 (2023): Cakrawala Repositori IMWI
Publisher : Institut Manajemen Wiyata Indonesia & Asosiasi Peneliti Manajemen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52851/cakrawala.v6i4.456

Abstract

Variasi Makna Ujaran Kebencian Oleh Snowflake Generation di Jatinangor dengan Studi Fenomenologi memiliki bahasan motif penggunaan ujaran kebencian, pengalaman komunikasi, dan variasi makna ujaran kebencian. Bahasan tersebut dirumskan karena banyak isu mengenai ujaran kebencian yang bersinggungan juga dengan hak kebebasan berekspresi. Untuk itu, dilakukan penelitian untuk mengungkap variasi makna ujaran kebencian dengan pengumpulan data yang dilakukan melalui wawancara mendalam serta observasi demi mendapatkan variasi makna ujaran kebencian dari Snowflake Generation di Jatinangor. Hasil penelitian menunjukan bahwa motif dari penggunaan ujaran kebencian oleh Snowflake Generation di Jatinangor adalah untuk memudahkan komunikasi, menggunakan ujaran kebencian karena adanya kedekatan diri, menggunakan ujaran kebencian sebagai media evaluasi, dan untuk menggunakan ujaran kebencian dalam menyalurkan emosi. Kemudian, variasi makna ujaran kebencian bagi Snowflake Generation di Jatinangor yaitu sebagai ekspresi kebencian, sebagai simbol pemaknaan orang lain terhadap diri, dan sebagai bercandaan. Makna-makna tersebut berasal dari pengalaman komunikasi para Snowflake Generation di lingkungan pergaulan keluarga, pertemanan, kolega kerja, dan media sosial. Berdasarkan hasil penelitian, peneliti mengharapkan seluruh masyarakat khususnya yang terkelompok sebagai Snowflake Generation, untuk tidak menerima ujaran-ujaran dengan sensitivitas dan menghasilkan emosi yang berlebihan. Agar bisa menghindari hal tersebut, peneliti mengharapkan masyarakat untuk tidak memaknai suatu ujaran kebencian sebagai suatu tindak diskriminasi, kekerasan, dan/atau konflik sosial secara personal seperti yang terjadi pada informan-informan penelitian ini. Cobalah untuk berdiskusi dalam mengenali lebih dalam akan ujaran yang diberikan orang lain.