Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Transformasi Pembelajaran Sains Anak Usia Dini di Abad ke-21: Tinjauan Sistematis tentang Strategi Pembelajaran yang Sesuai dengan Perkembangan Anak: Transforming Early Childhood Science Learning in the 21st Century: A  Systematic  Review  of Developmentally Appropriate Instructional Strategies Ahmad Syaikhu; Ketut Budiastra
Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini Indonesia Vol. 3 No. 2 (2026): Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini Indonesia
Publisher : YAYASAN YASZOY CAYAHA NUSANTARA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71049/ydgfj145

Abstract

Tuntutan pendidikan abad ke-21 mengharuskan pembelajaran sains anak usia dini bergerak melampaui sekadar penyampaian materi menuju pengembangan rasa ingin tahu, literasi sains awal, kreativitas, dan disposisi pemecahan masalah. Pembelajaran sains dalam pendidikan anak usia dini (PAUD) memainkan peran fundamental dalam membentuk sikap anak terhadap belajar serta kesiapan mereka untuk terlibat dalam praktik ilmiah pada jenjang pendidikan berikutnya. Tinjauan konseptual ini mensintesis dan membandingkan penelitian internasional mengenai strategi pembelajaran sains anak usia dini yang selaras dengan prinsip-prinsip pembelajaran abad ke-21. Dengan menggunakan pendekatan tinjauan literatur sistematis kualitatif, penelitian ini menganalisis artikel jurnal internasional yang telah ditelaah sejawat (peer-reviewed) dan diterbitkan antara tahun 2015 hingga 2025. Tinjauan ini berfokus pada strategi pembelajaran yang sesuai dengan tahap perkembangan anak, meliputi inkuiri terbimbing berbasis bermain, kegiatan STEM awal, percakapan dan penjelasan ilmiah, eksplorasi berbasis model konkret, serta berpikir komputasional dasar. Temuan menunjukkan bahwa pembelajaran sains anak usia dini yang efektif dicirikan oleh eksplorasi terbimbing, konteks autentik, interaksi sosial, penyediaan perancah (scaffolding) eksplisit terhadap praktik ilmiah awal, serta integrasi teknologi yang terarah namun terbatas. Analisis komparatif mengungkapkan bahwa tidak ada satu pun strategi pembelajaran yang secara mandiri mampu menjangkau seluruh dimensi literasi sains awal. Sebaliknya, penggunaan berbagai strategi secara terintegrasi menghasilkan capaian yang paling kuat ketika diselaraskan dengan kebutuhan perkembangan dan konteks belajar anak. Penelitian ini memberikan implikasi pedagogis dan rekomendasi praktis bagi pendidik anak usia dini, pengembang kurikulum, dan pembuat kebijakan yang ingin memperkuat pembelajaran sains pada abad ke-21.
Karakteristik Generasi Z Awal dalam Pembelajaran Sains Anak Usia Dini dan Pendekatan Pembelajaran yang Sesuai dengan Perkembangan Anak: Early Generation Z Characteristics in Early Childhood Science Learning and Developmentally Appropriate Instructional Approaches Ichwan; Ketut Budiastra
Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini Indonesia Vol. 3 No. 1 (2026): Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini Indonesia
Publisher : YAYASAN YASZOY CAYAHA NUSANTARA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71049/rcz09254

Abstract

Anak-anak Generasi Z awal memasuki pendidikan anak usia dini (PAUD) dengan karakteristik pembelajaran yang berbeda yang dibentuk oleh paparan berkelanjutan terhadap media digital dan teknologi interaktif. Karakteristik ini menghadirkan peluang dan tantangan pedagogis untuk menumbuhkan literasi sains dini, khususnya terkait dengan perhatian yang terfragmentasi dan ketergantungan teknologi. Studi ini menggunakan tinjauan literatur sistematis kualitatif dari 30 studi internasional yang ditinjau sejawat yang diterbitkan antara tahun 2019 dan 2025 untuk mensintesis bukti yang muncul tentang ciri-ciri Generasi Z dan pengajaran sains yang sesuai dengan perkembangan. Temuan menunjukkan bahwa pembelajaran sains dini yang efektif paling baik didukung melalui penyelidikan terbimbing berbasis permainan, aktivitas STEM eksperimental, eksplorasi multimodal, dan penggunaan strategis alat digital sebagai kerangka kognitif daripada pengganti konten. Pendekatan instruksional yang menekankan pemodelan, pertanyaan, dan dialog reflektif ketika selaras dengan kesesuaian perkembangan sangat penting untuk memupuk penalaran ilmiah dini. Tinjauan ini memberikan implikasi praktis bagi pendidik dan pembuat kebijakan dalam merancang lingkungan pembelajaran yang kaya sains yang responsif terhadap tuntutan era digital.
Penguatan Kompetensi Digital Guru SD melalui Pembelajaran Mendalam dan Smart Learning Berbasis Kemitraan di Kota Sungai Penuh Ikhsan Ikhsan; Ketut Budiastra; Suhartono Suhartono; Mudayat Mudayat; Eval Setiawan; Elsa Safitri
SAKALIMA: Pilar Pemberdayaan Masyarakat Pendidikan Vol. 3 No. 1 (2026): January - March | SAKALIMA: Pilar Pemberdayaan Masyarakat Pendidikan
Publisher : WISE Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70211/sakalima.v3i1.741

Abstract

This community engagement program aimed to strengthen the digital capacity of elementary school teachers in Sungai Penuh City, Jambi, through the integration of deep learning as a pedagogical approach and smart learning as a technology-supported learning ecosystem. The program was implemented as a follow-up to the institutional collaboration between Universitas Terbuka and the Sungai Penuh City Government and involved 30 elementary school teachers selected by the local Education Office. A needs-based capacity-building design was employed through field assessment, face-to-face training, technology demonstrations, problem-based practice, interactive discussion, and planned online mentoring. The training introduced learning management systems, artificial intelligence, three-dimensional video, 360-degree cameras, virtual reality, and augmented reality, while emphasizing their alignment with instructional objectives, differentiated learning, and local school conditions. The results indicated active participant engagement and initial capacity development in distinguishing pedagogical deep learning from computational deep learning, identifying appropriate digital tools, connecting technology with differentiated instruction, and designing context-sensitive learning alternatives. The program also revealed major implementation challenges, including limited infrastructure, uneven internet access, and parental misconceptions regarding digital learning. However, these constraints could be partially addressed through low-cost contextual media, institutional collaboration, professional online forums, and peer dissemination. Because the program did not employ validated competency instruments, pretest-posttest measurements, a comparison group, or classroom observations, the findings should be interpreted as implementation evidence and indications of initial capacity development rather than causal proof of improved digital competence. These findings imply that sustainable teacher digital development requires continuous mentoring, product-based assessment, classroom implementation, institutional support, and longitudinal evaluation.