Made Ika Kusuma Dewi
Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar, Indonesia

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

SIMBOL GENDER DALAM UPAKARA WIWAHA DI BALI Ida Ayu Tary Puspa; Made Ika Kusuma Dewi; Ida Bagus Radhakrisnyam Saitya
Dharmasmrti: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan Vol. 23 No. 2 (2023): Dharmasmrti: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan
Publisher : Pascasarjana Universitas Hindu Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32795/ds.v23i2.4893

Abstract

Gender dalam budaya Bali yakni patriarki. Hal ini terlihat pada upacara wiwaha ataupun perkawinan. Wiwaha bisa menyebabkan pertalian hukum kekeluargaan seseorang putus dengan pihak orag tua ataupun pihak ayahnya dan saudara-saudaranya. Seorang perempuan yang melakukan perkawinan akan menjadi anggota keluarga pihak suaminya dan terikat pada pertalian anggota keluarga pihak suaminya dan terikat pada pertalian hukum kekeluargaan suaminya dan putus dengan pertalian hukum kekeluargaan pihak ayahnya. Upacara wiwaha akan memerlukan upakara/banten sebagai simbol kesetaraan gender. Upakara tersebut akan berisi perlengkapan yang menyimbolkan laki-laki dan perempuan dalam kesetaraan karena ditampilkan berdampingan. Namun sebagai simbol ekspresif yang dirasakan oleh masyarakat Bali, tetap saja para perempuan belum bisa mencapai kesetaraan dan keadilan. Semakin sebuah keluarga yang terbentuk dari perkawinan menghormati perempuan, maka relasi gender akan semakin baik karena menempatkan perempuan pada posisi yang tidak tersubordinasi dan sesuai dengan yang disimbolkan dalam wiwaha tersebut.