Asri Subkhan Mahulette
Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Pattimura Ambon

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pengaruh Inokulasi Fungi Mikoriza Arbuskular dan Komposisi Pupuk Organik Terhadap Pertumbuhan Bibit Cengkih Tuni (Syzygium aromaticum L.) Asri Subkhan Mahulette; Ramadhan Solissa; Anna Yuliana Wattimena
AGROLOGIA: Jurnal Ilmu Budidaya Tanaman Vol 12 No 2 (2023): Agrologia : Jurnal Ilmu Budidaya Tanaman
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Pattimura Ambon, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/ajibt.v12i2.10731

Abstract

Cengkih Tuni merupakan salah satu cengkih unggul asal Maluku yang telah dilepas oleh Kementerian Pertanian RI pada tahun 2013. Penggunaan pupuk kimiawi untuk meningkatkan produksi cengkih Tuni dapat dilakukan, akan tetapi penggunaan dalam jangka panjang dapat memberikan dampak negatif terhadap lingkungan dan kualitas hasil panen. Untuk itu diperlukan input teknologi budidaya ramah lingkungan sejak di pembibitan seperti pemanfaatan FMA dan penggunaan pupuk organik. Penelitian bertujuan untuk menguji pengaruh interaksi FMA dan komposisi pupuk organik terhadap pertumbuhan bibit cengkih Tuni. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dua faktor. Faktor pertama adalah dosis inokulum mycofer FMA yang terdiri atas empat taraf yaitu 0 spora/tanaman (0 g/tanaman), 50 spora/tanaman (2 g/tanaman), 100 spora/tanaman (4 g/tanaman), 150 spora/tanaman (6 g/tanaman), 200 spora/tananamn (8 g/tanaman). Faktor kedua adalah komposisi media pembibitan berupa campuran pupuk organik dengan tanah (v/v) yang terdiri atas lima taraf yaitu tanpa pemberian pupuk organik (kontrol), tanah : pupuk organik 1:1, 2:1, 3:1, 4:1. Hasil penelitian didapatkan interaksi terbaik terdapat pada interaksi antara inokulasi FMA 100 spora/tanaman (4 g/tanaman) dan komposisi pupuk organik 2:1 terhadap hampir keseluruhan peubah pengamatan. Kolonisasi FMA kategori tinggi dalam penelitian didapatkan pada dosis inokulasi FMA 4 g/tanaman pada keseluruhan kombinasi perlakuan, sedangkan kategori sedang terdapat pada dosis inokulasi FMA 2, 6, dan 8 g/tanaman pada keseluruhan kombinasi perlakuannya.
Karakteristik Morfologi Tanaman Salak (Salacca zalacca Gaertn. Voss.) di Negeri Mamala Kecamatan Leihitu Kabupaten Maluku Tengah Abdul Karim Kilkoda; Abu Bakar Kelsaba; Asri Subkhan Mahulette
AGROLOGIA: Jurnal Ilmu Budidaya Tanaman Vol 13 No 1 (2024): Agrologia : Jurnal Ilmu Budidaya Tanaman
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Pattimura Ambon, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/agrologia.v13i1.12378

Abstract

Tanaman Salak (Salacca zalacca Gaertn. Voss.) di Negeri Mamala Kecamatan Leihitu Kabupaten Maluku Tengah merupakan salah jenis buahan yang banyak dibudidayakan oleh petani. Sejauh ini informasi tanaman salak yang dibudidayakan di Negeri Mamala belum banyak diinformasikan terutama terkait keragaman morfologi dan karakter pencirinya. Penelitian bertujuan untuk menganalisis keragaman morfologi tanaman salak di Negeri Mamala, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah beserta karakter penciri tanamannya. Penelitian menggunakan metode survei dan pengambilan sampel tanaman salak untuk pengukuran dilakukan secara acak. Penelitian dilakukan terhadap 30 tanaman salak milik petani berumur >3 tahun terhadap 48 karakter morfologi. Karakter yang dianalisis berupa karakter pohon, pelepah, daun, bunga, buah, biji. Data hasil pengukuran dianalisis menggunakan Hierarchical Cluster Analysis (HCA) terhadap 48 karakter morfologi untuk mendapatkan dendogram persentase kemiripan morfologi kemudian dilanjutkan dengan Principle Component Analysis (PCA) terhadap 29 karakter morfologi untuk menentukan karakter penciri tanaman. Hasil HCA didapatkan dua kelompok besar tanaman salak dengan koefisien ketidak miripan sebesar 28%. Kelompok pertama terdiri atas 29 aksesi yang mengelompok dengan koefisien kemiripan 82% (ketidakmiripan 18%), sedangkan kelompok kedua hanya terdiri atas satu aksesi yang memiliki koefisien ketidakmiripan sebesar 28% dengan kelompok pertama. Hasil PCA didapatkan total keragaman sebesar 27.60%%, dimana didapatkan karakter penciri berupa panjang helaian daun, panjang tangkai daun, panjang pelepah, jumlah anak daun menyatu di ujung daun, diameter duri terpanjang di pelepah, dan jumlah tulang halus pada anak daun. Karakter tersebut teridentifikasi sebagai karakter penciri tanaman salak jenis Salacca zalacca.