Naufal Allam Gumelar
Universitas Sebelas Maret

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Representasi Maskulinitas Lelaki Abad 21 dalam Lirik Lagu Pop Indonesia Naufal Allam Gumelar; Aprilia Rizki Arifah; Chafit Ulya
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 9 No. 2 (2023)
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/onoma.v9i2.2828

Abstract

Konsep maskulinitas dapat bergeser sesuai dengan kondisi budaya dan sosial. Konsep baru maskulinitas tergambarkan pada banyak kebudayaan. Salah satunya pada lirik lagu sebuah musik. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan representasi maskulinitas lelaki abad 21 dalam lirik lagu pop Indonesia. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Metode dalam penelitian ini adalah analisis isi pada lirik lagu. Data penelitian dikumpulkan dari lagu pop berjudul “Komang” karya Raim Laode, “Duka” dari Last Child, dan “Rumah Singgah” karya Fabio Asher. Pemilihan lagu tersebut didasarkan pada Top Spotify Indonesia tahun 2023. Teknik pengambilan data dilakukan dengan cara simak dan catat. Teori maskulinitas yang digunakan, yaitu teori maskulintas Janet Saltzman Chafetz. Hasil penelitian menemukan bahwa terdapat 3 ciri maskulinitas yang merepresentasikan lelaki abad 21, yaitu ciri emosional, intelektual, dan karakter pribadi. Representasi emosional, yang di dalamnya terdapat dua temuan yakni lelaki dengan kontrol emosi stabil dan tidak stabil dalam tiga lagu top Indonesia tersebut. Selanjutnya ciri dimensi intelektual dalam temuan ini ditemukan bahwa laki-laki berpikir logis. Selain dimensi di atas, juga terdapat ciri dimensi karakter pribadi yang terdiri dari karakter pribadi egois, karakter pribadi bangga, dan karakter pribadi moral. Persepsi terhadap maskulinitas diharapkan mampu lebih inklusif dan reflektif. Tentunya agar terjadi kesetaraan gender dalam kehidupan sehari-sehari.
Assesmen dalam Pembelajaran Berdeferensiasi Materi Cerita Rakyat di Sekolah Dasar 01 Doplang Kabupaten Karanganyar Tahun 2023/2024 Slamet Slamet; Naufal Allam Gumelar
Prosiding Seminar Nasional Kajian Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya: Semnas Kabastra Vol. 1 No. 1 November (2024): Prosiding Seminar Nasional Kajian Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya: S
Publisher : UPA Bahasa Universitas Tidar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to describe (1) assessment planning carried out by teachers in differentiated learning, (2) assessment and mapping process (needs, interests and learning styles) of students carried out by teachers in differentiated learning, and (3) process and results of differentiated learning of folklore material at SD N 01 Doplang, Karanganyar Regency. This study uses a qualitative approach, with a nativistic naturalistic paradigm, with a single case study. Data: (1) planning of differentiated learning assessments were collected using observation techniques, by reviewing teaching modules made by teachers, and interviews with teachers (2) Diagnostic assessment data for the mapping process (needs, interests, and learning styles) were collected using interview techniques with teachers and (3) Learning outcome data were collected using written assessment techniques. Data validity was carried out by triangulation (methods and informants). Data analysis applied the interactive analysis model of Miles & Huberman. Based on the data collected, it can be concluded that (1) teachers do not prepare diagnostic assessment plans properly. (2) assessment in the teaching module cannot be carried out by teachers to identify needs, interests and learning styles, because teachers do not make diagnostic assessments at the beginning (3) teachers carry out mapping for differentiated learning based on students' real daily abilities (more focused on students' reading abilities). (4) assessment of differentiated learning with national folklore material (not local folklore) shows an average score of (50.7) which is better than local folklore material (47.3). (5) assessment of differentiated learning with local folklore material with the title Telaga Madirda is the best with an average score (49.4) than the local story material with two other titles: Eyang Joboleko with an average score (48.4), and Sunan Lawu, with an average score (44.2).