Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PENDAMPINGAN IBU HAMIL RESIKO TINGGI PAPARAN DEBU BATUBARA DI DESA BUNTU KARAU KABUPATEN BALANGAN Suhraward Suhraward; Januarsih Januarsih; Ahmad Rizani
J-ABDI: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 3 No. 6: Nopember 2023
Publisher : Bajang Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53625/jabdi.v3i6.6772

Abstract

Bayi berat lahir rendah (BBLR) adalah berat badan saat lahir kurang dari 2500 gram. WHO mencatat bahwa Indonesia berada diperingkat ke-9 dunia dengan persentasi >15,5% dari kelahiran bayi setiap tahunnya. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 menunjukan bahwa proporsi BBLR sebanyak 6,2%.3 Kasus BBLR di Kalimantan Selatan sebanyak 4,53%.4 Data Dinas Kesehatan Kabupaten Balangan tahun 2018 menunjukkan bahwa pada tahun 2017 persentase BBLR mengalami kenaikan sebesar 3,4% dibandingkan dengan tahun 2016 yaitu sebesar 3,3%. Kasus BBLR terbanyak di Kabupaten Balangan adalah wilayah kerja Puskesmas Margasari yaitu terdapat kasus BBLR sebanyak 7,5%, kasus ini meningkat dari tahun sebelumnya yaitu sebesar 2,2%. Bayi berat lahir rendah (BBLR) akan meningkatkan angka morbiditas dan mortalitas bayi. BBLR dapat menyebabkan risiko infeksi yang tinggi, kekurangan gizi, kondisi cacat pada masa kanak-kanak, risiko penyakit degenerative ketika beranjak dewasa, dan masalah-masalah lain yang berkaitan dengan produktivitas anak. Wilayah Desa Buntu Karau Kecamatan Juai Kabupaten Balangan terkena dampak langsung dari kegiatan operasional pertambangan, merupakan lokasi dari keberadaan fasilitas utama perusahaan, dimana masyarakat memiliki frekuensi hubungan tinggi dengan perusahaan. Lingkupnya adalah satu atau beberapa desa yang wilayah atau area pencarian hidupnya terkena dampak langsung dari kegiatan perusahaan, baik yang bersifat dampak lingkungan dan social berdasarkan studi baseline (pendahuluan) dan Amdal (Analisa mengenai dampak lingkungan) sehingga masuk dalam kriteria Ring 1 untuk daerah tambang Batubara
SENAM NIFAS SEBAGAI UPAYA PREVENTIF TERJADINYA BABY BLUES DI WILAYAH PUSKESMAS HANTAKAN Januarsih Januarsih; Rita Kirana; Ahmad Rizani
J-ABDI: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 3 No. 6: Nopember 2023
Publisher : Bajang Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53625/jabdi.v3i6.6773

Abstract

Pengalaman menjadi orang tua tidak selamanya menyenangkan, terlebih menjadi seorang ibu. Realitanya tanggung jawab sebagai seorang ibu seringkali menimbulkan konflik dalam diri seorang wanita. Seorang wanita postpartum membutuhkan adaptasi fisik maupun psikis pada minggu-minggu pertama setelah melahirkan. Dalam proses adaptasi tersebut sebagian wanita berhasil beradaptasi dengan baik tetapi sebagian lainnya tidak berhasil menyesuaikan diri dan mengalami gangguan psikologis dengan berbagai gejala atau syndrome yang disebut Baby Blues Syndrome. Salah satu upaya pencegahan terjadinya Baby blues adalah dengan melakukan aktifitas fisik. Aktifitas fisik yang berupa senam nifas yang bisa dilakukan segera setelah persalinan dengan gerakan yang meningkat setiap hari sesuai kemampuan ibu. Senam nifas dengan teratur dapat mempercepat pemulihan status kesehatan fisiologis dan psikologis pasca persalinan. Pemulihan kesehatan fisiologis yang paling terpenting adalah percepatan penyembuhan rahim, perut, dan otot pinggul yang mengalami trauma serta mempercepat kembalinya bagian-bagian tersebut kebentuk normal. Secara psikologis senam nifas dapat menambah kemampuan ibu menghadapi stress dan bersantai sehingga mengurangi depresi Pasca Persalinan. Berdarakan penilaian estetika atau kecantikan senam nifas akan memperbaiki elastisitas otot-otot yang telah mengalami penguluran, mempertahankan postur tubuh yang baik, dan mengembalikan kerampingan tubuh.