Supatmo Supatmo
Universitas Negeri Semarang

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

MOTIF DAN POLA ORNAMEN CANDI KALASAN YOGYAKARTA Supatmo,, -
Imajinasi Vol 5, No 1 (2009): Imajinasi
Publisher : Jurusan Seni Rupa, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Candi Kalasan merupakan salah satu candi Budha yang berada di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Berbagai sumber menyebutkan bahwa candi Kalasan memiliki ornamen yang kaya dan indah. Oleh karena itu ornamen candi Kalasan, dalam hal ini motif dan pola hiasnya menarik untuk dijadikan kajian penelitian. Tujuan penelitian ini adalah ingin mengidentifikasi dan menjelaskan jenis, bentuk dan prinsip pemolaan motif ornamen candi Kalasan Yogyakarta. Melalui penelitian ini diharapkan diperoleh manfaat praktis dan teoretis dalam bidang seni rupa khususnya ornamen Nusantara. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif. Teknik pengumpulan data adalah observasi dengan alat bantu kamera. Teknik analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, sajian data, verifikasi dan penarikan simpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis motif ornamen yang ditemui pada candi Kalasan adalah motif Kala, Makara, Jambangan, Sulur, Roncean Bunga, Antefik, Kain/Permadani, geometris dan pilar. Motif tersebut ditampilkan sebagian besar menonjol di atas permukaan. Prinsip pemolaan yang digunakan adalah simetris dan paralel. Saran yang dikemukakan adalah perlu dilakukan dokumentasi yang lebih sistematis, dan perlu dilakukan penelitian lanjutan dengan membandingkan ornamen-ornamen pada kompleks percandian yang lain.
FENOMENA ESTETIKASI KEHIDUPAN SEHARI-HARI DALAM SENI RUPA KONTEMPORER INDONESIA -, Supatmo
Imajinasi Vol 1, No 2 (2005): Imajinasi
Publisher : Jurusan Seni Rupa, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Seni rupa kontemporer Indonesia menemukan spirit awal dari lahirnya Gerakan Seni Rupa Baru (1975) dengan gejala-gejala penolakan dan penentangan terhadap mainstream seni rupa moderen, yang dianggap sewenang-wenang atas nama universalitas, ditandai dengan penggunakan berbagai ragam media ungkap alternatif di luar tradisi fine art (seni lukis, seni patung, dan seni grafis), seperti seni rupa instalasi, seni rupa pertunjukan (performance art), seni rupa lingkungan (environmental art), video art, hingga seni rupa dengan media barang jadi (readymades). Penolakan itu juga diwarnai nuansa penghapusan (erasures) atas pengkotak-kotakan antarcabang seni rupa, antarcabang seni, percampuran berbagai gaya dan aturan (eklektik), hingga pengaburan batas antara seni dengan kehidupan sehari-hari. Dunia seni pada wacana seni rupa kontemporer tidak lagi dipandang sebagai “dunia agung”, yang terpisah dari dunia kehidupan sehari-hari. Pengaburan batas, bahkan penghapusan antara seni dengan kehidupan sehari-hari (estetikasi kehidupan sehari-hari) merupakan bentuk integrasi baru antara “dunia seni” dengan “dunia kehidupan sehari-hari” yang dilandasi oleh pemikiran akhir moderenisme (post modernism). Pemikiran posmoderenisme dalam konteks seni rupa yang sangat fenomenal dinyatakan secara filosofis oleh Arthur Danto, “The End of Art”, mengiri pameran “Brillo Box”-Andy Warhol (1964). Pernyataan filosofis “berakhirnya seni rupa” itu, pada tataran pemikiran, menandai berakhirnya seni rupa (mainstream moderenisme), sehingga mempersuasi lahirnya era seni rupa baru dengan paradigma posmoderen. Dinamika seni rupa dengan berbagai gejala dan fenomena yang bersumber dari padadigma posmoderen, yang di Indonesia lebih dikenal dengan terminologi seni rupa “kontemporer”, kembali menjadi arus besar yang mendominasi wajah seni rupa Indonesia mutakhir. Istilah seni rupa kontemporer tidak berhenti pada pengertian yang mengacu pada waktu (masa) sezaman atau masa kini, tetapi lebih berorientasi pada gejala-gejala dan fenomena anti-moderenisme. Berbagai perhelatan seni rupa kontemporer Indonesia, dalam wacana maupun praktik, sarat nuansa fenomena estetikasi kehidupan sehari-hari, yang dalam berbagai hal terasa epigonal dengan fenomena suatu masa perkembangan seni rupa di dunia Barat. Hal ini menandakan bahwa dinamika seni rupa kontemporer Indonesia selalu berputar-putar mengikuti superioritas arus besar seni rupa Barat. Kata kunci: estetikasi, readymades, moderenisme, posmoderenisme, kontemporer.
Meneguhkan Literasi Multikultural Melalui Pendidikan Seni: Perspektif dan Urgensi Pembelajaran Seni Budaya Abad 21 di Sekolah Supatmo Supatmo
Prosiding Seminar Nasional Pascasarjana Vol. 4 No. 1 (2021)
Publisher : Pascasarjana Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Keberagaman budaya, adat-istiadat, tradisi, bahasa, suku, ras, agama, keyakinan, status sosial, pandangan politik, mata pencaharian, dan sebagainya merupakan keniscayaan dan realitas sosio-kultural bagi bangsa Indonesia. Maraknya isu-isu intoleransi di media sosial dan terjadinya peristiwa-peristiwa kekerasan sosial bernuansa suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) yang merebak di berbagai daerah akhir-akhir ini mengindikasikan masih lemahnya literasi multikultural bagi sebagian masyarakat. Oleh karenanya diperlukan peneguhan literasi multikultural guna membangun kesadaran budaya Indonesia sesuai semboyan Bhineka Tunggal Ika. Artikel ini hendak membahas perspektif pembelajaran Seni Budaya di sekolah sebagai suatu upaya dalam meneguhkan literasi multikultural demi mewujudkan masyarakat Indonesia yang menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi, apresiasi, kerja sama, persatuan, saling menghormati, dan solidaritas atas keragaman budaya. Dari dimensi kebudayaan, pendidikan seni di Indonesia dengan segenap sifat-sifat, karakteristik, dan potensinya, merupakan bagian integral Sistem Pendidikan Nasional dalam menumbuhkembangkan dan membangun kesadaran Bhineka Tunggal Ika bagi peserta didik dan masyarakat luas. Praksis Pendidikan Abad 21 yang saat ini sangat terkonsentrasi pada problematika teknologi dan industri dikhawatirkan bermuara pada lunturnya nilai-nilai kemanusiaan, termasuk nilai multikultural. Pendidikan seni (pembelajaran Seni Budaya di sekolah), dengan sifat-sifatnya yang multilingual, multidimensional, dan multikultural, bisa berperan sebagai garda depan dalam meneguhkan literasi multikultural. Dalam perspektif ini, pendidikan seni menjadi medium pengejawantahan dan internalisasi nilai multikultural (education through art), menumbuhkembangkan kesadaran kolektif atas keberagaman budaya Bangsa Indonesia (Bhineka Tunggal Ika). Pada titik tertentu, literasi multikultural akan mereduksi dan menangkal isu-isu atau peristiwa-peristiwa intoleransi bernuansa SARA yang berpotensi menjadi ancaman sosio kultural Bangsa Indonesia saat ini dan masa mendatang.