p-Index From 2021 - 2026
0.444
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Widya Bhumi
Sudibyanung Sudibyanung
Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional, Yogyakarta, Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Kelayakan Nilai Ganti Kerugian Tanah Musnah Sebagai Penanganan Dampak Sosial Pada Pengadaan Tanah Satriya Parama Putra Wibawa; Priyo Katon Prasetyo; Sudibyanung Sudibyanung
Widya Bhumi Vol. 3 No. 2 (2023): Widya Bhumi
Publisher : Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31292/wb.v3i2.63

Abstract

Development can include land acquisition since it compensates entitled communities fairly. The Demak Regency Land Office and evaluation had trouble calculating compensation for coastal land parcels obliterated by tidal floods. This research will assess the field's physical state and the process for determining compensation for obliterated land to manage social repercussions with rules and economic calculations. This study employs quantitative descriptive research. According to research, an income capitalization technique based on market value is more practical than Presidential Regulation (Perpres) Number 52 of 2022 for assessing compensation for obliterated land. Different uses of devastated land in Bedono Village, Purwosari Village, and Sriwulan Village affect the revenue capitalization approach's kerohiman fund acquisition. According to Presidential Decree No. 52 of 2022, Bedono Village receives less compensation for obliterated land than Purwosari Village, however the income capitalization technique yields the reverse. For precise and reliable findings, the appraiser must choose a technique to calculating compensation for obliterated land. Pengadaan tanah menjadi pilihan dalam pembangunan dengan memberikan ganti kerugian yang layak dan adil bagi masyarakat yang berhak. Kantor Pertanahan Kabupaten Demak dan appraisal mengalami kendala dalam menentukan besar nilai ganti kerugian terhadap bidang-bidang tanah di wilayah pesisir yang musnah karena tertutup banjir rob. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelayakan, kesesuaian kondisi fisik lapang  dan mekanisme perhitungan nilai ganti kerugian tanah musnah sebagai bentuk penanganan dampak sosial dengan peraturan yang berlaku dan perhitungan secara ekonomi. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kuantitatif. Temuan penelitian menyebutkan bahwa penentuan besaran nilai ganti kerugian tanah musnah dengan pendekatan kapitalisasi pendapatan berdasarkan nilai pasar lebih layak daripada Peraturan Presiden (Perpres) No. 52 Tahun 2022. Kondisi fisik tanah musnah di Desa Bedono, Desa Purwosari dan Desa Sriwulan terdapat perbedaan dalam pemanfaatannya, sehingga mempengaruhi perolehan besaran dana kerohiman berdasarkan pendekatan kapitalisasi pendapatan. Mekanisme perhitungan besaran nilai ganti kerugian tanah musnah di Desa Bedono lebih kecil dari Desa Purwosari jika mendasarkan pada Perpres No. 52 Tahun 2022, namun berdasarkan pendekatan kapitalisasi pendapatan memperoleh hasil sebaliknya. Oleh karena itu, appraisal harus bisa menentukan pilihan dalam menggunakan pendekatan penilaian ganti kerugian tanah musnah demi hasil yang tepat dan akurat.
Mengukur kepercayaan masyarakat atas kinerja Kementerian ATR/BPN melalui analisis sentimen pada platform digital Reza Nur Amrin; Ridho Darman; Asih Retno Dewi; Sudibyanung Sudibyanung
Widya Bhumi Vol. 6 No. 1 (2026): Widya Bhumi
Publisher : Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31292/wb.v6i1.254

Abstract

Governments increasingly leverage social media for institutional reputation management, yet a significant gap often persists between institutional narratives and public perception. This study aims to analyze the topical and sentimental disparities between the Instagram posts of Indonesia’s Ministry of Agrarian Affairs and Spatial Planning/National Land Agency (ATR/BPN) and netizens' responses throughout 2023. Employing a quantitative approach, this research applies lexicon-based sentiment analysis and descriptive content analysis to 15,198 comments across 1,213 posts. The results reveal a striking digital communication paradox. While the institutional agenda is heavily dominated by the celebration of land certificate handovers and ministerial visits, 56.5% of public comments exhibit negative sentiment. Netizens actively repurpose the comment section into a grassroots grievance mechanism for agrarian disputes, bureaucratic hurdles in land certification, and reports of land mafias. Consequently, there is a diametrical clash in the contextualization of the core lexicons "land" and "certificate" between the glorification of government performance and the reality of public service delivery. This study concludes that social media exposure does not holistically reflect successful land governance. The findings highlight a critical policy implication, urging government institutions to shift their digital governance paradigm from a mere public relations tool to an evaluative instrument for responsive public service.   Pemerintah semakin gencar memanfaatkan media sosial untuk membangun citra kelembagaan, namun seringkali terdapat kesenjangan antara narasi institusi dan persepsi publik. Penelitian ini bertujuan menganalisis disparitas topik dan sentimen antara unggahan Instagram Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) dan respons warganet sepanjang tahun 2023. Menggunakan pendekatan kuantitatif, studi ini mengaplikasikan analisis sentimen berbasis leksikon (lexicon-based) dan analisis isi deskriptif terhadap 15.198 komentar dari 1.213 unggahan. Hasil penelitian menyingkap sebuah paradoks komunikasi digital. Sementara agenda institusi didominasi oleh selebrasi kinerja penyerahan sertipikat dan kunjungan kerja menteri, 56,5% komentar warganet justru bersentimen negatif. Warganet secara aktif mengalihfungsikan ruang komentar menjadi wadah pengaduan sengketa agraria, hambatan prosedur administrasi, hingga pelaporan indikasi mafia tanah. Terdapat benturan pemaknaan diametral pada leksikon "tanah" dan "sertipikat" antara glorifikasi kinerja pemerintah dan realitas layanan publik di akar rumput. Studi ini menyimpulkan bahwa eksposur media sosial belum merefleksikan keberhasilan tata kelola pertanahan secara holistik. Implikasi dari temuan ini menuntut institusi pemerintah untuk menggeser paradigma tata kelola digital dari sekadar instrumen kehumasan (public relations) menjadi instrumen evaluasi pelayanan publik yang responsif.