Ahmad Kamalul Fikri
STAI Ki Ageng Pekalongan

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Konstruksi Wacana Media Online terhadap Program Makan Bergizi Gratis di Lembaga Pendidikan Indonesia Tahun 2026 Ahmad Kamalul Fikri; Dhion Meitreya Vidhiasi
Action Research Journal Indonesia (ARJI) Vol. 8 No. 2 (2026): Action Research Journal Indonesia (ARJI)
Publisher : PT. Pusmedia Group Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61227/arji.v8i2.781

Abstract

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada lembaga pendidikan di Indonesia tahun 2026 memunculkan perdebatan publik yang tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan gizi siswa, tetapi juga dengan tata kelola program, mutu implementasi, dan legitimasi kebijakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pola konstruksi wacana dan mengomparasikan framing pemberitaan  program MBG pada Detik.com dan Tempo.co. Penelitian ini tidak dimaksudkan sebagai penilaian atas keberhasilan atau kegagalan program MBG, melainkan sebagai kajian akademis terhadap konstruksi wacana media dalam membingkai kebijakan publik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode desain analisis wacana kritis model Norman Fairclough, dipadukan dengan pendekatan sosio-kognitif Teun A. van Dijk, serta analisis framing Robert Entman. Data penelitian berupa berita online dari Detik.com dan Tempo.co periode Januari–Maret 2026 dan dipilih secara purposif berdasarkan relevansi dengan isu MBG di lembaga pendidikan. Data dikumpulkan melalui dokumentasi, pengarsipan teks, dan koding tematik, lalu dianalisis pada level teks, praktik diskursif, praktik sosial, struktur wacana, kognisi sosial, dan elemen framing. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Detik.com cenderung menonjolkan persoalan teknis-implementatif, sedangkan Tempo.co lebih menekankan akuntabilitas kebijakan, politik anggaran, dan legitimasi publik. Penelitian ini berkontribusi memperkuat pembacaan multidimensi atas wacana media mengenai kebijakan pangan pendidikan di Indonesia. Temuan penelitian merekomendasikan agar masyarakat, khususnya komunitas pendidikan, mengembangkan literasi media yang kritis dengan tidak mudah terbawa konstruksi wacana dan framing pemberitaan, melainkan melakukan verifikasi langsung berbasis pengalaman dan data praksis di lapangan."
Hajj Resilience in Crisis: Analysis of Fairclough's Critical Discourse from Detik.Com's 2026 Hajj Coverage Ahmad Kamalul Fikri; Mohammad Andi Hakim
TATHO: International Journal of Islamic Thought and Sciences Volume 3, Issue 2 (2026)
Publisher : International Tatho Academics

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70512/tatho.v3i2.187

Abstract

This article examines how Detik.com discursively constructed Hajj 2026 amid escalating Middle Eastern tensions involving Iran, the United States, and Israel. While previous Indonesian applications of Fairclough’s Critical Discourse Analysis have largely focused on electoral politics, religious moderation, and domestic ideological contestation, limited attention has been given to how online news frames pilgrimage resilience during geopolitical crisis. Using Norman Fairclough’s three-dimensional CDA, this study analyzes ten Detik.com reports published between March and April 2026. The analysis focuses on textual strategies, discursive production, and sociocultural explanation. The findings show that Detik.com systematically framed Hajj as safe, continuous, and spiritually protected through repetitive reassurance, dominant reliance on official voices, and narratives of economic shielding. At the textual level, the reports privilege certainty, continuity, and calm; at the discursive level, they circulate an official reassurance frame across multiple channels; and at the sociocultural level, they prioritize spiritual stability and state legitimacy over geopolitical anxiety. This article offers a conceptual contribution through the notion of hajj resilience discourse, defined as a mediated formation in which language, authority, and religious symbolism jointly sustain trust in worship under crisis conditions.