Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Review: Studi Kandungan Fitokimia, Aktivitas Antioksidan, dan Toksisitas Ciplukan (Physalis angulata L.) I Gusti Ngurah Trisna Meyana Putra; Ni Made Widi Astuti
COMSERVA : Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 3 No. 06 (2023): COMSERVA : Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/comserva.v3i06.1014

Abstract

Antioksidan adalah senyawa yang mampu memblokir reaksi oksidatif melalui prosedur menangkap radikal bebas serta molekul yang bersifat reaktif. Serbuan radikal bebas terhadap molekul disekelilingnya mampu menciptakan reaksi berkesinambungan yang pada akhirnya mampu mendatangkan senyawa radikal baru. Tujuan dilakukannya review artikel ini adalah untuk mendata dan mengumpulkan informasi kandungan fitokimia, aktivitas antioksidan, serta efek toksisitas ciplukan (Physalis angulata L.). Metode penyusunan artikel ini dengan menggunakan literature review yang diperoleh dengan menggunakan pencarian Google scholar dan Researchgate dengan rentang tahun 2018-2023. Hasil review menunjukkan bahwa P angulata memiliki kandungan senyawa alkaloid, fenolik, kuinon, steroid, glikosida, flavonoid, saponin, terpenoid, dan tanin. Pengujian antioksidan menggunakan beragam metode, salah satunya dengan metode pemeriksaan 2,2-diphenyl-1-picrihidrazyl (DPPH). P angulata dilaporkan memiliki aktivitas antioksidan pada semua bagian tanaman dengan aktivitas tertinggi pada ekstrak etanol bagian daun yang menghasilkan nilai IC50 yaitu 32,10 µg/ml yang mengindikasikan bahwa sifat antioksidan ekstrak etanol daun P angulata sangat kuat (< 50 µg/ml). Hasil pemeriksaan toksisitas ekstrak etanol 70% P angulata berdasarkan metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT) mendapatkan nilai LC50 yaitu 886,11 ?g/mL yang mengindikasikan bahwa ekstrak etanol 70% bersifat toksik (<1000 ?g/mL). Berbanding terbalik dengan ekstrak n-heksana dan ekstrak etil asetat yang bersifat non-toksik yang menghasilkan nilai LC50 berturutan sebesar 1602,75 ?g/mL  dan 1617,74 ?g/mL. Hasil review artikel ini diharapkan dapat menjadi landasan dasar sebagai informasi awal akan kandungan fitokimia, aktivitas antioksidan, dan keamanan ekstrak dengan memperhatikan sifat toksik dari tanaman P angulata.
Pemanfaatan Kulit Jeruk Bali (Citrus Maxima) Sebagai Dietary Fiber Untuk Pengendalian Penyakit Radang Usus Kadek Ayu Wikaningtyas Kusuma Giri; Ni Made Widi Astuti
COMSERVA : Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 3 No. 06 (2023): COMSERVA : Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/comserva.v3i06.1024

Abstract

Penyakit Radang Usus atau Inflammatory Bowel Disease (IBD) baru-baru ini meningkat di Asia dan Timur Tengah. Perubahan faktor lingkungan, khususnya gaya hidup kebarat-baratan, dianggap sebagai salah satu pendorong utama meningkatnya prevalensi penyakit radang usus. Serat makanan atau dietary fiber (DF) adalah bagian tanaman yang dapat dimakan, yang dapat difermentasi seluruhnya atau sebagian di usus besar dengan tidak tercerna dan tidak dapat diserap di usus kecil manusia. dietary fiber dapat dibagi menjadi serat pangan larut dan serat pangan tidak larut. Dietary fiber memiliki efek meningkatkan kesehatan usus, karena dapat melindungi penghalang usus dan meningkatkan panjang usus, salah satu contoh serat makanan yang dapat dimanfaatkan yaitu jeruk. Dalam jeruk terdapat kandungan pektin yang sering ditemukan pada bagian kulit jeruk. Kulit jeruk bali mengandung pektin dalam konsentrasi tinggi. Pektin adalah suatu komponen serat yang terdapat pada dinding sel primer dan lapisan lamella tengah pada tanaman. Pektin banyak digunakan pada industri pangan karena memiliki kemampuan sebagai bahan dasar pembentuk jelly. Artikel ini bertujuan untuk mengetahui kandungan pektin pada kulit jeruk sebagai dietary fiber dalam upaya penurunan resiko radang usus. Metode yang digunakan dalam penyusun artikel ini adalah metode literature review. Hasil yang menunjukkan bahwa ditemukan beberapa studi yang melibatkan 170.776 wanita dewasa, yang diikuti secara prospektif selama 26 tahun, mengungkapkan bahwa konsumsi jangka panjang serat makanan dikaitkan dengan penurunan penyakit radang usus. Namun, sampai saat ini masih belum banyak buku dan situs web yang membahas mengenai kandungan pektin pada kulit jeruk sebagai dietary fiber dalam upaya penurunan resiko radang usus.
Implementasi Pelayanan Telefarmasi di Apotek Jejaring X di Bali Sesuai dengan Standar Pelayanan Kefarmasian Ni Made Widi Astuti; Victorya Hartawan Makmur; Ni Wayan Febriari Lestari; Ni Made Wuni Anamaptani
Indonesian Journal of Legal and Forensic Sciences Vol. 14 No. 1 (2024): Indonesian Journal of Legal and Forensic Sciences
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/IJLFS.2024.v14.i01.p05

Abstract

Telefarmasi didefinisikan sebagai bentuk pelayanan kefarmasian yang dilakukan oleh tenaga kesehatan kepada pasien melalui jarak jauh dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi. Pelayanan telefarmasi dapat diimplementasikan pada seluruh pusat pelayanan kesehatan, seperti rumah sakit atau apotek. Pelayanan telefarmasi di apotek menghadirkan tantangan dan peluang baru bagi apoteker untuk memperluas cakupan praktik pelayanan kefarmasian yang diberikan. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif observasional dengan melakukan wawancara terhadap manajer, apoteker pengelola dan TTK yang bekerja di apotek Jejaring X terkait pelayanan telefarmasi yang dilakukan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memberikan gambaran terkait implementasi sistem pelayanan telefarmasi di Apotek Jejaring X Provinsi Bali sesuai dengan KepMenkes RI Nomor HK.01.07/MENKES/4829/2021, PMK No.14 tahun 2021, dan Peraturan BPOM No.8 tahun 2020. Objek penelitian ini dikhususkan pada Apotek Jejaring X yang berlokasi di Provinsi Bali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelayanan telefarmasi yang dilakukan pada Apotek Jejaring X telah dilakukan sesuai dengan regulasi yang berlaku. Layanan tersebut melibatkan berbagai aspek, seperti evaluasi resep, penyaluran obat, pemberian KIE dan PIO, kegiatan konseling, monitoring terapi dan efek samping obat, hingga pelayanan farmasi di rumah. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa layanan telefarmasi di Apotek Jejaring X Provinsi Bali telah memenuhi regulasi yang berlaku dan dijalankan dengan baik oleh apoteker.