Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pengaruh Masker terhadap Akne Vulgaris (Maskne) Khoirunnisa A. Mokoagow; Marlyn. G. Kapantow; Herry E. J. Pandaleke
e-CliniC Vol. 12 No. 1 (2024): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v12i1.45242

Abstract

Abstract: During the Covid-19 pandemic, Indonesian people were required to wear masks during their daily activities that caused increased duration of wearing masks associated with increased incidence of acne vulgaris. This study aimed to determine the relationship between the use of masks and acne vulgaris (maskne). This was a literature review study. Sources of information were obtained from journals and research articles in Pubmed, Google Scholar, and the British Journal of Dermatology which discussed the relationship between mask use and maskne. The results obtained 10 literatures with a cross sectional design that fulfilled the inclusion and exclusion criteria. Review of the 10 literatures resulted in a relationship between the use of masks and the occurrence of mask-induced acne (maskne). The distribution of respondents based on the incidence of maskne was most common in women and the type of mask most often used was the surgical mask. The majority of respondents replaced their masks twice daily with duration of use for 4-8 hours. In conclusion, there is a relationship between the use of masks and the occurrence of maskne. Keywords: mask; acne vulgaris; maskne   Abstrak: Selama pandemi Covid-19 masyarakat Indonesia diwajibkan menggunakan masker selama melakukan kegiatan sehari-hari sehingga durasi penggunaan masker meningkat dan meningkatnya kejadian akne vulgaris. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan penggunaan masker dengan akne vulgaris melalui suatu literature review. Sumber informasi didapatkan melalui jurnal maupun artikel penelitian pada Pubmed, Google Scholar, dan British Journal of Dermatology yang membahas mengenai hubungan penggunaan masker dengan mask-induced acne (maskne). Hasil penelitian mendapatkan 10 literatur yang sesuai kriteria inklusi dan eksklusi dengan desain potong lintang. Kajian 10 literatur ini mendapatkan adanya hubungan penggunaan masker dengan kejadian maskne. Sebaran jumlah responden berdasarkan kejadian maskne paling banyak pada perempuan dan jenis masker yang paling sering digunakan ialah masker bedah. Didapatkan paling banyak mengganti masker dua kali sehari dengan penggunaan selama 4-8 jam. Simpulan penelitian ini ialah terdapat hubungan penggunaan masker dengan kejadian maskne. Kata kunci: penggunaan masker; akne vulgaris; maskne
Prevalensi Skabies pada Warga Binaan di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Tuminting Manado Raul C. Zachawerus; Nurdjannah J. Niode; Marlyn. G. Kapantow
Medical Scope Journal Vol. 6 No. 2 (2024): Medical Scope Journal
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/msj.v6i2.53598

Abstract

Abstract: Scabies is a contagious skin disease caused by the mite Sarcoptes scabiei var, hominis. The prevalence of scabies in Indonesia in 2016 is estimated at 4.6-12.9% of the 261.6 million population. Scabies ranks 3rd out of the 12 most common skin infections. This study aimed to determine the prevalence of scabies among inmates in Lembaga Pemasyarakatan kelas IIA Tuminting Manado (correctional insitution). This was a quantitative and descriptive study with a cross sectional design using The DeSkab (Deteksi Skabies) questionnaire. The results showed that 86 inmates out of a total of 190 inmates were detected of having scabies (45.3%) dominated by age 25-44 years (51.2%), middle education (76.7%), and unqualified occupancy density (100%). The most common distributions of lesions were between fingers (30.7%), followed by front part of wrist (20.2%), and elbow (13.5%). Cardinal signs of scabies were itching worse at night (98.8%), followed by lesions (86.1%), and itching complained by roommates (70.9%). In conclusion, the prevalence of scabies in Lembaga Pemasyarakatan kelas IIA Tuminting Manado is 45.3%. Inmates with detected scabies are dominated by age 25-44 years, middle education, unqualified occupancy density, distribution of lesion between fingers, and cardinal sign as itching worse at night. Keywords: scabies; correctional institution; inmates    Abstrak: Skabies merupakan penyakit kulit menular yang diakibatkan oleh tungau Sarcoptes scabiei var, hominis. Skabies menempati peringkat 3 dari 12 penyakit infeksi kulit tersering. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi skabies pada warga binaan di Lembaga Pemasyarakatan kelas IIA Tuminting Manado. Jenis penelitian ialah deskriptif kuantitatif dengan desain potong lintang dan menggunakan kuesioner DeSkab (Deteksi Skabies). Hasil penelitian mendapatkan 86 warga binaan dari total 190 warga binaan yang terdeteksi skabies (45,3%), didominasi oleh usia 25-44 tahun (51,2%), tingkat pendidikan menengah (76,7%), dan kepadatan hunian yang tidak memenuhi syarat (100%). Sebaran lokasi lesi yang terbanyak ialah sela jari tangan (30,7%), diikuti pergelangan tangan depan (20,2%), dan siku luar (13,5%). Tanda kardinal skabies yang tersering muncul ialah keluhan gatal pada malam hari (98,8%), diikuti adanya bintil/lecet/borok (86,1%), dan keluhan gatal pada orang lain (sekamar) (70,9%). Simpulan penelitian ini ialah prevalensi skabies pada warga binaan Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Tuminting Manado sebesar 45,3%. Warga binaan terdeteksi skabies didominasi oleh usia 25-44 tahun, tingkat pendidikan menengah, kepadatan hunian yang tidak memenuhi syarat, sebaran lokasi lesi di sela jari tangan, dan tanda kardinal skabies keluhan gatal pada malam hari. Kata kunci: skabies; lembaga pemasyarakatan; warga binaan