Pada saat ini banyak Perusahan yang harus bertahan dengan situasi yang berat, dimana banyak faktor eksternal yang mengharuskan perusahaan melakukan efisiensi di setiap proses agar tidak mengalami kerugian dan tetap kompetitif dengan para pesaingnya. Banyak perusahaan manufaktur melakukan aktivitas Cost Reduction untuk menstabilkan keuangan mereka. Begitupun dengan PT. XYZ yang merupakan perusahaan Manufaktur dituntut untuk bisa tetap memberikan service terakit produk dan jasa kepada konsumen. Untuk memenuhi permintaan Pelanggan salah satu aktivitas yang dilakukan adalah analisis terakit Overall Equipment Effectiveness (OEE) dengan dipadukan analisis Six Big Losses. Metode yang digunakan menghitung besarannya elemen dasar dari OEE yaitu Availability Ratio, Performance Ratio dan Quality Ratio yang dipadukan dengan Six Big Losses yang terdiri dari Equipment Failure, Set Up and Adjustment, Idling and Minor Stoppages, Reduce Speed, Rework dan Scrap. Berdasarakan hasil perhitungan didapatkan bahwa nilai OEE mesin tersebut 60% dengan penyumbang loss terbanyak pada faktor Scrap 25% dan Reduce Speed 17%. Scrap ini dikarena produk yang sudah jadi dibawah standar dan tidak bisa dilakukan rework, sehingga menjadi scrap. Produk NG tersebut juga dipengaruhi karena adanya faktor Reduce Speed, ketika cycle time tidak stabil, maka output produk juga tidak bisa stabil, selain itu reduce speed juga mengakibatkan output secara total berkurang dari target yang sudah ditentukan. Untuk mengantisipasi semakin buruknya kualitas produk maka ada beberapa saran perbaikan yang dilakukan yaitu menempatkan orang yang terbaik di pross tersebut, melakukan review terhadap Molding, Pergerakan Mesin dan Operator untuk menghindari proses yang tidak diperlukan dan kontrol terhadap berat material yang digunakan, untuk memastikan tidak ada yang beratnya kurang atau berlebih dengan menambahkan automatic weighing pada proses pemotongan material.