dimas kukuh nur rachim
UIN SUltan Maulana Hasanuddin Banten

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Pengaruh Konsentrasi Karbondioksida (CO2) Terhadap Kondisi Iklim Di Antartika dimas kukuh nur rachim
JEMST (Jurnal of Education in Mathematics, Science, and Technology) Vol. 4 No. 1 (2021): JEMST Vol 4 No 1 2021
Publisher : Faculty of Education and Teacher Training, State Islamic University of Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/jemst.v4i1.48

Abstract

Di Antartika salju jarang sekali mencair bahkan saat musim panas berlangsung. Hal ini menyebabkan suhu udara di sana tidak pernah berada di atas titik beku secara signifikan selama ratusan ribu tahun lamanya. Salju yang turun tersebut terakumulasi hingga membentuk lapisan es yang kokoh hingga mencapai empat kilometer. Namun, saat ini kondisi di Antartika memperlihatkan adanya bongkahan es raksasa yang pecah. Bongkahan es tersebut terlepas dari tepian beku Antartika ke laut Weddell dan menjadi gunung es yang terbesar mengapung di dunia. Hal itu merupakan bagian dari siklus alami yang diakibatkan oleh kondisi temperatur suhu di Antartika. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi karbon dioksida terhadap kondisi iklim di Antartika. Dengan menggunakan metode analisis regresi dari data yang didapat dengan bantuan program SPSS, maka didapatkan hubungan antara kedua variabel tersebut dinyatakan dalam persamaan regresi berikut . Persamaan Regresi yang diperoleh selanjutnya dapat dilakukan estimasi temperatur suhu di Antartika berdasarkan nilai kadar karbon dioksida yang diberikan yakni sejak tahun 2017 hingga tahun 2030 mendatang. Dari hasil estimasi diperoleh peningkatan temperatur suhu yang cukup signifikan di Antartika seiring dengan bertambahnya kadar konsentrasi karbon dioksida, diperkirakan temteratur suhu di Antartika mencapai 20.037 . Hal ini tentu saja dapat mencairkan seluruh es yang ada di Antartika dan meningkatkan permukaan air laut di seluruh dunia.