Nafisah Innayati
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

KONSEP SYURA DALAM AL-QUR’AN (ANALISIS SEMIOTIKA ROLAND BARTHES) Nafisah Innayati; Fikru Jayyid Husain
CONTEMPLATE: Jurnal Ilmiah Studi Keislaman Vol 4 No 1 (2023): Juni 2023
Publisher : LP2M Institut Agama Islam Al-Qur'an Al-Ittifaqiah Indralaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53649/contemplate.v4i1.242

Abstract

Abstrak Tulisan ini membahas tentang konsep syu>ra> atau musyawarah dalam Al-Qur’an. Di era kontemporer, syu>ra> sering di kaitkan dengan beberapa teori politik modern, diantaranya seperti sistem demokrasi. Hal tersebut tentunya akan mereduksi makna dari syu>ra> dan demokrasi. Tulisan ini akan mendiskusikan apakah konsep syu>ra>, sebagai lembaga dan pranata kenegaraan di zaman modern, dapat diintegrasikan dengan sistem demokrasi. Untuk menjawab problematika tersebut, penulis menggunakan pendekatan kebahasaan sebagai pisau analisisnya, yaitu pendekatan semiotika. Istilah syu>ra> merupakan simbol atau tanda dari penyampaian pesan yang harus di interpretasikan. Salah satu dari teori semiotika yaitu pendekatan yang ditawarkan oleh Roland Barthes. Terdapat dua tahapan dalam teori semiotika Barthes. Tahapan pertama yaitu sistem linguistik atau makna denotasi dan tahapan kedua yaitu sistem mitologi atau makna konotasi. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah: pertama, pada sistem linguistik atau makna denotasi kata syu>ra> / musyawarah memiliki makna mengambil madu (pendapat), perundingan, dan perembukan yang bertujuan untuk mendapatkan suatu keputusan bersama. Kedua, sistem mitologi atau makna konotasi, kata syu>ra> / musyawarah dalam sistem ini sering di sebut sebagai demokrasi karena kedua konsep tersebut memiliki kesamaan yaitu untuk mewujudkan suatu pemerintahan yang berasaskan keadilan sesuai dengan keputusan bersama. Akan tetapi menyamakan kedua istilah tersebut sebagai satu kesatuan dalam arti sinonimitas bukanlah hal yang tepat, karena selain memiliki kesamaan, syu>ra> dan demokrasi juga memiliki perbedaan yang sangat signifikan.
Intertekstualitas Tafsir Maqasidi dalam Marah Labid dengan Mafatih al-Ghaib pada Ayat Ahkam Husain, Fikru Jayyid; Nafisah Innayati
At-Tahfidz: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 4 No. 2 (2023): Juni 2023
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53649/at-tahfidz.v4i2.244

Abstract

Tafsir Maqa>s{idi> sebagai salah satu alternatif penasiran yang dianggap imbang dalam menyikapi teks dan konteks tidak serta merta menempati posisi urgennya di zaman kontemporer ini. Ada dinamika yang cukup panjang, bermula kajian Maqa>s}id dari ranah Us}u>l Fikih hingga menyentuh tafsir Al-Qur’an. Dalam rentang dinamikanya, Nawawi al-Bantani juga hadir sebagai mufassir yang menggunakan Tafsir Maqa>s{idi> melalui kitab tafsirnya, Mara>h} Labi>d. Artikel ini berusaha mengelaborasi hadirnya Tafsir Maqa>s}idi> dalam ayat-ayat Ah}ka>m surah al-Baqarah. Nawawi al-Bantani dalam tema ayat salat, puasa, pemeliharaan Baitullah, perpindahan arah kiblat, pernikahan lintas agama, dan kisas menggunakan Tafsir Maqa>s{idi>. Penafsiran tersebut dianalisa menggunakan intertekstualitas Julia Kristeva untuk menemukan teks rujukan Nawawi al-Bantani dan ideologemenya. Hadirnya Tafsir Maqa>s{idi> dalam Mara>h} Labi>d disebabkan rujukan langsung Nawawi al-Bantani dari tafsir Mafa>ti>h} al-Ghaib karya al-Razi. Ar-Razi sebagai seorang mufassir yang berkontribusi dalam perkembangan Maqa>s}id al-Qur’an mempengaruhi Nawawi al-Bantani dalam memproduksi Tafsir Maqa>s{idi> dalam Mara>h} Labi>d. Alasan rujukan Nawawi al-Bantani juga berkaitan dengan tafsir ar-Razi sebagai tafsir ensiklopedik yang dijadikan rujukan banyak mufassir suni setelahnya