Agus Budi Purnomo
Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Universitas Trisakti

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

TIPOLOGI KANTOR SEWA BERTINGKAT DI JAKARTA BERDASARKAN KARAKTERISTIK CORE Dwi Rosnarti; Etty Kridarso; Agus Budi Purnomo
METRIK SERIAL HUMANIORA DAN SAINS (E) ISSN: 2774-2377 Vol. 4 No. 2 (2023): Oktober 2023
Publisher : Bekasi: Konsorsium Cendekiawan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Core adalah komponen penting bangunan bertingkat. Ada beberapa fungsi core yang di bahas dalam penelitian ini. Pertama, core sebagai pengkaku struktur. Kedua, core juga bertindak sebagai saluran utilitas dan sirkulasi manusia. Tujuan penelitian yang dilaporkan dalam paper ini ialah untuk membentuk tipologi kantor sewa bertingkat atas dasar karakteristik core nya. Ada 427 kantor sewa di Jakarta yang digunakan sebagai kasus penelitian ini. Dari setiap kasus diukur 20 variabel corenya. Ada dua metode analisa yang digunakan dalam penelitian ini. Pertama, Factor Analysis (FA) digunakan untuk mengelompokkan variabel-variabel core. Selanjutnya untuk mengelompokkan kantor-kantor sewa berdasarkan faktor-faktor tersebut, digunakan Hirarchial Cluster Analysis (HCA). Dari penelitian ini diperoleh 5 faktor, dan 5 tipe kantor sewa. Tipe-1 adalah kantor sewa yang mempunyai karakteristik Faktor-1 (Faktor-Lift atau kelompok variabel-variabel yang terkait dengan lift). Tipe-2 adalah kantor sewa yang memiliki aksesibilitas core yang relatif tinggi (Faktor-4). Kantor sewa Tipe-3 memiliki karakteristik Faktor-5, yaitu faktor yang merupakan kelompok variabel-variabel tentang keberadaan fasilitas-fasilitas yang bersifat eksekutif. Tipe-4 adalah kasus dengan sifat Faktor-2 (kelompok variabel-variabel yang menyangkut toilet atau Faktor-Toilet). Kasus Tipe-5 dengan sifat Faktor-3 memiliki luas lantai, Gross Floor Area dan core yang relatif besar daripada tipe lain.
Pengaruh Parameter EEC Greenship Homes melalui Perhitungan OTTV terhadap Kepuasan Pascahuni Penghuni Rumah Bersertifikat Platinum Terravia BSD Hendryan Tandi; Agus Budi Purnomo; Tulus Widarso
Metrik Serial Teknologi dan Sains Vol. 7 No. 2 (2026): agustus
Publisher : Konsorsium Cendekiawan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tingginya kontribusi dari sektor pembangunan konstruksi dan rumah tangga terhadap konsumsi energi telah mendorong penerapan konsep rumah hijau sebagai salah satu solusi desain rumah dengan konsep berkelanjutan. Namun, proses penerapan rumah hijau sering kali berfokus pada aspek teknis bangunan, sementara pengguna atau penghuni jarang dilibatkan secara langsung. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya penelitian mengenai analisis kinerja termal melalui perhitungan OTTV pada bangunan hijau. Namun penelitian yang membahas pengaruh kinerja termal bangunan melalui perhitungan OTTV sebagai bagian desain pasif yang ditawarkan rumah hijau terhadap kepuasan pascahuni dari penghuni rumah hijau itu sendiri masih sangat sedikit. Sehingga penelitian ini ingin mencoba mengisi celah tersebut dengan menggunakan pendekatan kuantitatif dan metode analisis regresi linear untuk menguji pengaruh antara variabel independen berupa aspek-aspek pembentuk OTTV fasad rumah dan variabel dependen berupa tingkat kepuasan penghuni melalui persepsi dan perubahan akibat modifikasi fasad. Data OTTV yang didapat berupa OTTV dari desain asli bawaan pengembang, dan OTTV yang berubah akibat modifikasi oleh penghuni, yang menandakan adanya tingkat kepuasan berdasarkan perubahan. Sementara itu, data kepuasan dari persepsi penghuni dikumpulkan menggunakan wawancara kuesioner terhadap penghuni yang sudah tinggal di rumah hijau. Studi kasus dilakukan pada Perumahan Terravia BSD yang telah memperoleh sertifikasi Greenship Homes peringkat Platinum. Hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh antara kinerja bangunan yang diwakili oleh nilai OTTV dengan aspek-aspek pembentuk OTTV terhadap tingkat kepuasan penghuni, sehingga penilaian keberhasilan desain hijau dapat dilihat bukan hanya standar teknis tetapi berdasarkan kepuasan pascahuni penghuni itu sendiri.