Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

NUTRIENT DENSITY COOKIES RUTF (READY TO USE THERAPEUTIC FOOD) DARI PANGAN LOKAL UNTUK INTERVENSI BALITA WASTING Ria Ambarwati; Vera Asti Rahmawati; Fitriani Fitriani
Journal of Nutrition College Vol 12, No 2 (2023): April
Publisher : Department of Nutrition Science, Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jnc.v12i2.37832

Abstract

ABSTRACT Background: Ready to Use Therapeutic Food (RUTF) is recommended in giving interventions to toddlers with uncomplicated wasting. Kepok banana (Musa paradisiaca L) and peanuts (Arachis hypogaea L) are local food ingredients that are easily available and processed into RUTF as an alternative to RUTF-WHO.Purpose: Developing RUTF from local food with nutrient density that meets RUTF-WHO standards, and has organoleptic characteristics that are acceptable to toddlers.Methods: Experimental research with completely randomized design with 2 repetitions. The research was divided into three stages, namely developing RUTF cookies with the main ingredient kepok banana flour with variations of peanut substitution 100 grams, 125 grams and 150 grams, nutritional value analysis, acceptance testing using 25 somewhat trained panelists and 20 toddlers aged 2-5 year. Analysis of nutritional value data was tested by ANOVA, the acceptance test of somewhat trained panelists was tested by Friedman and the acceptance test on toddlers was analyzed descriptively.Results: The higher the substitution of peanuts increased the levels of energy, protein, fat, and carbohydrates in RUTF cookies (per 100 grams), however, it could not reach the RUTF-WHO standard. The higher the substitution of peanuts, the higher the distinctive aroma and taste of peanuts, the texture is not too crunchy, and the color is darker. There was no difference in the acceptability of cookie panelists under five RUTF F1 and F2.Conclusion: RUTF Cookies F1 and F2 can be recommended as variations of RUTF. Further research is needed by modifying the amount and composition of ingredients to increase the energy, fat and carbohydrate levels of RUTF cookies. Keywords: Cookies; Kepok banana; Peanuts; RUTF.ABSTRAKLatar Belakang: Ready to Use Therapeutic Food (RUTF) direkomendasikan dalam pemberian intervensi pada balita wasting tanpa komplikasi. Pisang kepok (Musa paradisiaca L) dan kacang tanah (Arachis hypogaea L) merupakan bahan pangan lokal yang mudah didapatkan dan diolah menjadi RUTF sebagai alternatif pengganti RUTF-WHO.Tujuan: Mengembangkan RUTF dari pangan lokal dengan densitas zat gizi yang memenuhi standar RUTF-WHO, serta memiliki karakteristik organoleptik yang dapat diterima oleh balitaMetode: Penelitian eksperimen dengan desain Rancangan Acak Lengkap 2 kali ulangan. Penelitian terbagi menjadi tiga tahap, yaitu pengembangan cookies RUTF dengan bahan utama tepung pisang kepok dengan variasi substitusi kacang tanah 100 gram, 125 gram dan 150 gram, analisis nilai gizi, pengujian daya terima menggunakan 25 panelis agak terlatih dan 20 balita usia 2 – 5 tahun. Analisis data nilai gizi diuji dengan ANOVA, Uji daya terima panelis agak terlatih diuji dengan Friedman dan uji daya terima pada balita dianalisis secara deskriptif.Hasil: Semakin tinggi substitusi kacang tanah meningkatkan kadar energi, protein, lemak, dan karbohidrat cookies RUTF (per 100 gram), akan tetapi belum dapat mencapai standar RUTF-WHO. Semakin tinggi substitisi kacang tanah memberikan aroma dan rasa khas kacang tanah yang lebih tinggi, tekstur yang tidak terlalu renyah, dan warna yang lebih gelap. Tidak terdapat perbedaan daya terima panelis balita cookies RUTF F1 dan F2.Simpulan : Cookies RUTF F1 dan F2 dapat direkomendasikan sebagai variasi RUTF. Perlu penelitian lanjutan dengan melakukan modifikasi jumlah maupun komposisi bahan untuk meningkatkan kadar energi, lemak dan karbohidrat cookies RUTFKata Kunci: Cookies; Kacang tanah; Pisang kepok; RUTF.
Formulasi Permen Jelly Daun Kelor Dan Jambu Biji Sebagai Alternatif SnackTinggi Zat Besi Dan Vitamin C Untuk Anak Irma Anisa Dewi; Estuasih Dyah Pertiwi; Fitriani Fitriani; Ana Yuliah Rahmawati; Wiwik Wijaningsih
JURNAL RISET GIZI Vol 11, No 1 (2023): Mei 2023
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/jrg.v11i1.10784

Abstract

Latar Belakang : Prevalensi ADB di negara berkembang mencapai 30%, termasuk Indonesia. Solusinya adalah dengan mengkonsumsi sumber Fe dan Vitamin C untuk membantu penyerapan. Permen jeli jambu biji dan daun kelor sebagai upaya pemanfaatan bahan pangan lokal kaya vitamin C dan Fe untuk jajanan anak usia 3-12 tahun.Tujuan: Mengetahui pengaruh formulasi jambu biji dan daun kelor terhadap kadar vitamin C, Fe, elastisitas, dan tingkat preferensi permen jelly sebagai alternatif snack tinggi vitamin C dan Fe.Metode: Penelitian eksperimental dengan rancangan acak lengkap dengan tiga perlakuan dengan perbandingan jambu biji dan daun kelor, yaitu F1(0:0), F2(25:75), F3(50:50), dan F4 (75). :25). Kadar vitamin C menggunakan HPLC, kandungan zat menggunakan ICP-OES, kekencangan menggunakan metode TA-Texture Analyzer, dan tingkat kesukaan diuji oleh 15 orang panelis semi terlatih. Perbedaan kadar dan kekencangan vitamin C menggunakan ANOVA dan Duncan. Perbedaan kadar Fe dan tingkat kesukaan menggunakan Kruskal-Wallis dan Mann-Whitney.Hasil: kandungan vitamin C tertinggi terdapat pada F2 (20,09mg/100g), kandungan Fe tertinggi terdapat pada F2 (0,94mg/100g), elastisitas tertinggi sebesar 1,57 Newton pada F1 sebagai kontrol, tingkat kesukaan tertinggi terdapat pada F1 sebagai kontrol. 3,76 berdasarkan warna, aroma, rasa, dan tekstur pada F3. Terdapat pengaruh yang nyata pada kadar vitamin C 28,4% dan kadar Fe 36,8%. Tidak terdapat pengaruh formulasi permen jelly terhadap kekenyalan, warna, aroma, rasa, dan tekstur.Kesimpulan: Pada F2 dapat menyumbang vitamin C terbesar yaitu 44,64% dari kebutuhan harian. F4 dapat menyumbangkan Fe terbesar yaitu 8,40% dari kebutuhan harian, namun tidak memenuhi 20% menurut AKG.
Acceptability of patin fish dried noodles substituted with yellow pumpkin flour in toddler wasting Fitriani, Fitriani; Yuniarti, Yuniarti; Ambarwati, Ria
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 13 ISSUE 2, 2025
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/ijnd.2025.13(2).99-107

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang: Upaya penanganan masalah gizi kurang pada balita sangat penting dilakukan agar balita tidak masuk ke dalam kondisi gizi buruk dan menimbulkan masalah kesehatan yang lebih serius. Upaya pemilihan pangan lokal yang berprotein tinggi dapat ditambahkan/disubstitusi pada produk mi. Mi kering ikan patin yang disubstitusi tepung labu kuning dengan komposisi tepung labu kuning 7,5% memiliki kualitas kadar air terbaik berdasarkan SNI 8217-2015), sehingga direkomendasikan untuk dimodifikasi dengan berbagai resep dan teknik pengolahan. Pengolahan mi kering dapat diolah menjadi mi goreng, mi rebus atau variasi lainnya. Penyajian mi instan dalam bentuk mi goreng lebih disukai oleh balita usia 24 - 60 bulan.Tujuan: Menguji daya terima mi kering ikan patin yang disubstitusi tepung labu kuning pada balita gizi kurang di wilayah kerja Puskesmas Telogosari Wetan Kota Semarang.Metode: Jenis penelitian yang digunakan adalah pre-experimental design dengan rancangan one- shot case study. Tahapan penelitian terdiri dari: tahap pembuatan produk dan tahap uji daya terima produk, yaitu dengan 3 modifikasi resep yang akan diberikan pada hari ke-1 sampai hari ke-3, yaitu Mi Gosis (Mi Goreng Sosis), Mi Goreng Telur Puyuh (Mi Teluh) dan Mi Gong (Mi Goreng Kampung).Hasil: Tiga resep modifikasi mi kering ikan patin substitusi tepung labu kuning ini memiliki nilai gizi 224,6 kalori- 385,115 kalori, hal ini dapat memenuhi rata-rata 15% kebutuhan sajian makanan balita sebagai selingan. Pada uji daya terima dari 3 resep, sisa tertinggi (>20%) pada hari ke-2 sebanyak 56,7% balita. Daya terima tertinggi balita adalah pada olahan mi kering ikan patin hari ketiga atau mi goreng kampung yaitu sebanyak 22 orang (73,3%).Kesimpulan: Balita dapat menerima mi kering ikan patin dengan daya terima tertinggi adalah pada olahan mi goreng kampung yaitu sebanyak 22 orang (73,3%).KATA KUNCI: daya terima; mi kering ikan patin tepung labu kuning; 3 modifikasi resep; balita wastingABSTRACTBackground: Efforts to deal with malnutrition problems in toddlers are very important so that toddlers do not enter into malnutrition conditions and cause more serious health problems. Efforts to select high-protein local foods can be added/substituted to noodle products. Dried patin fish noodles substituted with yellow pumpkin flour with a composition of pumpkin flour of 7.5% have the best moisture content quality based on SNI 8217-2015), so it is recommended to be modified with various recipes and processing techniques. Dry noodle processing can be processed into fried noodles, boiled noodles, or other variations. The presentation of instant noodles in the form of fried noodles is preferred by toddlers aged 24 – 60 months.Objectives: This study aimed to test the acceptability of patin fish dried noodles substituted with yellow pumpkin flour  in malnourished toddlers in the working area of the Telogosari Wetan Health Center in Semarang City.Methods: The type of research used is a pre-experimental design with a one-shot case study design. The stages of the research consist of the product Preparation Stage and Product Acceptability Test Stage, namely with 3 recipe modifications that are said to be given on days k-e 1 to 3, namely Mi Gosis (Sausage Fried Noodles), Quail Egg Fried Noodles (Teluh Noodles), and Gong Noodles (Village Fried Noodles).Results: These three modified dry catfish noodle recipes have a nutritional value of 224.6 - 385,115 calories, this can fulfill an average of 15% of toddlers' food needs as a distraction. In the acceptability test of 3 recipes, the highest remaining (>20%) was on the 2nd day for 56.7% of toddlers. The highest acceptability for toddlers is processed dried catfish noodles on the third day or village fried noodles, namely 22 people (73.3%).Conclusions: Toddlers can accept dried catfish noodles with the highest acceptability being KEYWORD: acceptability; dried patin fish noodles yellow pumpkin flour; 3 recipe modifications; toddler wasting Received: 18 Dec 2024; Revised: 26 Apr 2024; Accepted: 24 Jan 2025; Available online: 30 Mar 2025; Published: 30 Mar 2025