This Author published in this journals
All Journal Jurnal Jaffray
Anggu, Peter
Lembaga Penelitian STFT Jaffray

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Pembinaan Kerohanian Gereja Bethel Tabernakel dalam Konteks Kebudayaan Toraja Sumarto, Yonatan; Anggu, Peter
Jurnal Jaffray Vol 8, No 1 (2010): Jurnal Jaffray Volume 8 No. 1 April 2010
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Jaffray

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25278/jj71.v8i1.39

Abstract

Penulisan ini bertujuan untuk menambah wawasan dan mengembangkan pola pikir para hambaTuhan yang melayani di Tana Toraja mengenai keberadaan dan fungsinya di tengah-tengah masyarakatToraja yang masih terikat pada adat dan kebudayaannya. Manfaat lain dari tulisan ini adalah sebagaisuatu acuan dan tuntunan praktis bagi para hamba Tuhan dalam GBT khususnya yang melayani di TanaToraja, untuk mendiskusikan lebih lanjut tentang cara memanfaatkan kebudayaan suku Toraja, agardapat menemukan suatu cara yang lebih efektif untuk pembinaan rohani GBT pada masa sekarang danyang akan datang.Sejalan dengan permasalahan dan tujuan penulisan ini, penulis mengadakan penelitian yangdifokuskan pada konteks kebudayaan Toraja, untuk mengetahui dan mengkontekstualisasikan elemenelemenyang positif dalam kebudayaan suku Toraja untuk pembinaan kerohanian GBT di Tana Toraja.Pengumpulan data dilakukan dengan dengan metode analisis, yaitu mengadakan observasi dan interviewserta studi literatur pada perpustakaan.Hasil penelitian menggambarkan bahwa ternyata di dalam berbagai kebudayaan suku Torajaterdapat unsur-unsur kebudayaan yang dapat dikontekstualisasikan untuk pembinaan rohani GBTkarena bersifat netral terhadap iman Kristen, tetapi ada pula yang tidak dapat dikontekstualisasikankarena bertolak belakang dengan iman Kristen. Kebudayaan yang dapat dikontekstualisasikan, sepertikonsep penyembahan kepada Puang Matua dan kepada tiga oknum Allah, upacara rambu tuka’ ,upacara rampanan kapa’, pemali-pemali (larangan), tongkonan, sikap gotong-royong, dansaling memberi. Kebudayaan yang tidak dapat dikontekstualisasikan, seperti penyembahan kepadabanyak dewa dan kepada arwah nenek moyang, kurban kepada orang mati, patung sebagai penggantiorang mati (tau-tau), upacara rambu solo’ , ma’badong. Namun, hal ini tidak lepas dari masalahmasalahkarena iman percayanya kepada Yesus Kristus. Tetapi sebagai gereja/orang Kristen yangsungguh-sungguh berpegang teguh pada Firman Allah, tidak akan gentar menghadapi semuanya itu,bahkan semakin memiliki iman Kristiani yang kokoh.