Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Gangguan Skizoafektif: Penerapan DSM-5 pada Entitas Diagnostik yang Hampir Dihilangkan Theresia Citraningtyas
Jurnal Kedokteran Meditek VOL. 23 NO. 64 OKTOBER-DESEMBER 2017
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v23i64.1576

Abstract

Gangguan skizoafektif sempat dipertimbangkan untuk tidak lagi disertakan dalam edisi kelima Diagnostic and Statistical Manual of mental disorders (DSM-5). Padahal, gangguan skizoafektif merupakan masalah yang lebih berat daripada skizofrenia maupun gangguan bipolar, dengan jumlah kasus yang tidak sedikit. Makalah ini mengangkat sebuah kasus sebagai contoh penerapan DSM-5 dan menjabarkan perbedaan-perbedaannya dengan perangkat diagnostik sebelumnya, yaitu DSM IV/DSM IV-TR. Makalah ini kemudian menunjukkan bagaimana polemik terkait diagnosis tersebut kemudian berdampak pada kurangnya konsensus penatalaksanaan, sehingga pada akhirnya tatalaksana harus didasari oleh konsensus untuk diagnosis lainnya, yaitu gangguan afektif bipolar, sekalipun sebetulnya gangguan skizoafektif dianggap lebih mendekati skizofrenia.Kata kunci: gangguan skizoafektif, DSM-5, diagnosis, studi kasus
Faktor Risiko Sindrom Premenstruasi pada Sampel Urban di Jakarta Februari-Maret 2018 Keisha D. Christie; Theresia Citraningtyas; Elly Ingkiriwang; A. Aries Soesanto
Jurnal Kedokteran Meditek VOL. 24 NO. 68 OKTOBER-DESEMBER 2018
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v24i68.1695

Abstract

Sindrom premenstruasi (PMS) merupakan kumpulan gejala yang dapat menganggu produktivitas dan kualitas hidup. Untuk memahami sindrom premenstruasi yang terjadi di kelompok masyarakat perkotaan, dilakukan penelitian terhadap beberapa faktor risiko. Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi hubungan faktor risiko (usia saat ini, usia menarche, status perkawinan, jumlah anak, pendidikan, status sosioekonomi dan pekerjaan, riwayat keluarga) terhadap sindrom premenstruasi. Pengambilan sampel dilakukan secara purposive cross-sectional pada kelompok perempuan usia subur di Nafiri Discipleship Church Central Park untuk mewakilkan populasi urban. Data yang dikumpulkan dianalisa dengan uji korelasi bivariat Spearman. Didapatkan sebanyak 75 subjek penelitian. Karakteristik subjek mayoritas berusia 22-29 tahun, belum kawin, mengalami menstruasi pertama pada usia 13-15 tahun, memiliki gelar D3/S1, dan memiliki riwayat keluarga dengan sindrom premenstruasi. Hasil skrining dengan Premenstrual Symptoms Screening Tool (PSST) menunjukkan 58,7% responden mengalami sindrom premenstruasi ringan atau tidak bergejala, diikuti dengan 37,3% responden sugestif PMS sedang sampai berat. Ditemukan hubungan signifikan antara hasil skrining dengan variabel usia menarche (p=0,005) dan riwayat keluarga (p=0,004). Penelitian ini menggambarkan masalah yang dapat mengganggu produktivitas dan kualitas hidup perempuan daerah perkotaan. Satu dari tiga perempuan pada sampel ini mengalami PMS sedang sampai berat. Perlu dilakukan penelitian lanjutan untuk menelusuri peran faktor risiko terhadap timbulnya PMS. Kata Kunci: kesehatan perkotaan, kesehatan reproduksi, sindrom premenstruasi
Hubungan Adiksi Internet dengan Tingkat Stres pada Mahasiswa Kedokteran FKIK UKRIDA Angkatan 2018 James Winston; Theresia Citraningtyas; Elly Ingkiriwang
Jurnal Kedokteran Meditek Vol 27 No 3 (2021): SEPTEMBER - DESEMBER
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v27i3.2177

Abstract

Salah satu akibat yang dapat ditimbulkan dari penggunaan internet adalah adiksi internet yang diketahui berhubungan timbal balik dengan stres. Penelitian cross-sectional dengan teknik simple random sampling ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara adiksi internet dengan tingkat stres pada mahasiswa kedokteran FKIK UKRIDA angkatan 2018. Sebanyak 110 responden berpartisipasi dalam penelitian ini. Alat ukur yang digunakan pada penelitian ini adalah Kuesioner Diagnostik Adiksi Internet dan Kuesioner Depression Anxiety Stress Scales-42 (DASS-42) Bahasa Indonesia. Dari seluruh responden yang berpartisipasi, ditemukan 43 responden (39,1%) mengalami adiksi internet dan mayoritas dari responden mengalami stres ringan dengan jumlah 20 responden (18,2%). Hasil uji Chi-square antara variabel adiksi internet dan tingkat stres menunjukkan ada hubungan antara adiksi internet dengan tingkat stres pada mahasiswa kedokteran FKIK UKRIDA angkatan 2018, p = 0,045 (< 0,05). Gejala-gejala adiksi internet dan stres dapat ditemukan pada mahasiswa yang tidak dapat mengontrol diri dalam menggunakan internet yang selanjutnya juga dapat berdampak pada keadaan fisik, psikis, dan sosial pada mahasiswa tersebut. Simpulan menyatakan ada hubungan antara adiksi internet dengan tingkat stres pada mahasiswa kedokteran FKIK UKRIDA angkatan 2018. Mahasiswa diharapkan dapat membagi waktu dan menggunakan internet seperlunya saja agar tanggung jawab akademik tidak terganggu serta akibat berat lainnya dapat terhindarkan.