This Author published in this journals
All Journal Al'Adalah
M. Khusna Amal
IAIN Jember

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

POLITIK IDENTITAS MUSLIM URBAN: MENIKMATI MODERNITAS TANPA MENANGGALKAN KEIMANAN : Resensi Buku Identitas dan Kenikmatan: Politik Budaya Layar Indonesia (Ariel Heryanto) M. Khusna Amal
Al'Adalah Vol. 18 No. 1 (2015)
Publisher : LP2M IAIN Jember (now UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gambaran linier yang selalu menghadapkan Islam vis a vis dengan kapitalisme (ataupun sekularisme) tampaknya semakin usang. Alih-alih Islam dan kapitalisme terus terlibat dalam baku hantam tiada berujung untuk saling menjinakkan, keduanya malah terlihat saling berangkulan. Adalah media baru yang telah menciptakan space bagi keduanya untuk saling bersinergi dalam kultur yang sinkretis (hybrid). Media baru pula yang sudah ikut andil dalam dekonstruksi sekat-sekat dikotomik antara kedua entitas dengan garis ideologi-politik yang tidak saja berbeda, melainkan juga bertabrakan. Kontradiksi yang telah menfosil dan nyaris tak terjembatani selama puluhan dekade, luruhdalam sentuhan dingin media baru yang bercorak popular. Sinergi antara kedunya terepresentasikan cukup baik dalam aneka budaya pop (pop culture) seperti musik, film, novel, sinetron, dan berbagai produk industri budaya massa lainnya.
POLITIK IDENTITAS MUSLIM URBAN: MENIKMATI MODERNITAS TANPA MENANGGALKAN KEIMANAN : Resensi Buku Identitas dan Kenikmatan: Politik Budaya Layar Indonesia (Ariel Heryanto) M. Khusna Amal
Al'Adalah Vol. 18 No. 1 (2015)
Publisher : LP2M IAIN Jember (now UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gambaran linier yang selalu menghadapkan Islam vis a vis dengan kapitalisme (ataupun sekularisme) tampaknya semakin usang. Alih-alih Islam dan kapitalisme terus terlibat dalam baku hantam tiada berujung untuk saling menjinakkan, keduanya malah terlihat saling berangkulan. Adalah media baru yang telah menciptakan space bagi keduanya untuk saling bersinergi dalam kultur yang sinkretis (hybrid). Media baru pula yang sudah ikut andil dalam dekonstruksi sekat-sekat dikotomik antara kedua entitas dengan garis ideologi-politik yang tidak saja berbeda, melainkan juga bertabrakan. Kontradiksi yang telah menfosil dan nyaris tak terjembatani selama puluhan dekade, luruhdalam sentuhan dingin media baru yang bercorak popular. Sinergi antara kedunya terepresentasikan cukup baik dalam aneka budaya pop (pop culture) seperti musik, film, novel, sinetron, dan berbagai produk industri budaya massa lainnya.