Widi Nugraha
Pusat Litbang Jalan dan Jembatan - Kementerian PUPR

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

EVALUASI BEBAN LAYAN JEMBATAN APUNG PEJALAN KAKI TIPE PELENGKUNG RANGKA BAJA BERDASARKAN UJI PEMBEBANAN Widi Nugraha; Gatot Sukmara
Jurnal Jalan-Jembatan Vol 34 No 2 (2017)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Jalan dan Jembatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jembatan apung adalah jembatan yang memanfaatkan daya apung benda yang relatif lebih ringan dibandingkan air dalam volume yang sama, sebagai pengganti fondasi pada tanah. Puslitbang Jalan dan Jembatan pada tahun 2015 memulai pengembangan jembatan apung tipe pelengkung rangka baja untuk pejalan kaki dengan menggunakan pontoon apung sebagai fondasi dari kaki jembatan pelengkung, sehingga diperoleh bentang yang cukup besar dan tinggi bebas di bawah jembatan yang lebih tinggi untuk keperluan lalu lintas perairan. Tipe jembatan apung ini merupakan tipe jembatan apung pertama yang dikembangkan di Indonesia. Oleh karena itu, dalam perencanaannya masih menggunakan asumsi-asumsi dalam pemodelan sehingga harus dibuktikan dan disesuaikan dengan perilaku sesungguhnya di lapangan setelah jembatan terbangun pada tahun 2016 di Sungai Segara Anakan, Kampung Laut, Kabupaten Cilacap, dengan menggunakan metode uji pembebanan. Uji pembebanan dilakukan untuk mengetahui kapasitas jembatan yang sesungguhnya untuk difungsikan sebagai jembatan pejalan kaki, dan model struktur yang telah sesuai akan dapat dimanfaatkan untuk evaluasi kondisi jembatan. Uji pembebanan dilakukan dengan menggunakan beban uji berupa zak semen ukuran 40 kg sebanyak 120 buah yang setara dengan 30% dari kapasitas rencana. Beban uji tersebut ditempatkan pada jembatan dalam beberapa tahap untuk mengetahui perilaku dari struktur. Adapun parameter uji yang diamati antara lain deformasi dan tegangan pada elemen jembatan. Deformasi diukur dengan metode pengamatan secara geodetik dengan Total Station. Sedangkan tegangan diukur dengan memasang sensor strain gage pada elemen jembatan yang diamati. Dari hasil uji pembebanan didapatkan respon jembatan sesungguhnya terhadap beban kemudian dilakukan beberapa pemodelan, khususnya kondisi tumpuan dari jembatan. Dari beberapa pemodelan tersebut, didapat model struktur yang paling sesuai dengan kondisi sesungguhnya yaitu model struktur jembatan dengan pontoon yang dimodelkan sebagai elemen solid dengan tumpuan pontoon berupa pegas dengan koefisien 0.95 ton/m3, dan kondisi satu pontoon terkekang lateral dan satu pontoon bebas lateral, dimana terdapat pergerakan lateral pada pontoon akibat pembebanan yang berdeformasi ke arah darat. Dengan model tersebut, berdasarkan kriteria keamanan struktur dan aspek kenyamanan, struktur jembatan apung ini layak untuk difungsikan sebagai jembatan pejalan kaki dengan beban layan yang diijinkan yaitu setara 125% beban uji statis atau 112.5 kg/m2, atau 2 orang/m2 dengan berat rata-rata 55 kg per orang.
ANALISIS METODE KONSTRUKSI JEMBATAN GELAGAR BOKS BAJA MODULAR UNTUK LINTAS ATAS SUNGAI (MODULAR STEEL BOX GIRDER BRIDGE CONSTRUCTION METHOD ANALYSIS FOR RIVER CROSSING) Widi Nugraha; Achmad Riza Chairulloh
Jurnal Jalan-Jembatan Vol 35 No 2 (2018)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Jalan dan Jembatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Percepatan pembangunan di bidang infrastruktur adalah kebutuhan saat ini, termasuk masa konstruksi sebuah jembatan. Salah satu solusi untuk mempercepat masa konstruksi jembatan adalah menggunakan komponen jembatan yang dibuat terlebih dahulu di luar lokasi pekerjaan atau pra-fabrikasi, dibuat dalam ukuran segmen yang masih mudah untuk dimobilisasi dari workshop ke lokasi, kemudian komponen tersebut mudah dirangkai menjadi satu kesatuan, yang akhirnya akan meminimalisasi waktu pelaksanaan di lokasi pekerjaan. Solusi tersebut adalah komponen jembatan modular, salah satunya yang dilakukan oleh Puslitbang Jalan dan Jembatan yang bekerjasama dengan POSCO yang merupakan perusahaan fabrikasi baja dari Korea Selatan, yaitu jembatan Gelagar Boks Baja Modular bentang 40 m dan terdiri dari tiga segmen: 12 m, 16 m, dan 12 m. Ujicoba konstruksi jembatan gelagar boks baja modular dilakukan pertama kali di Indonesia pada tahun 2016, dengan lokasi di Kali Cimanis, Kabupaten Cirebon. Pada umumnya, jembatan gelagar boks baja modular ini dipasang sebagai lintas atas dari sebuah jalan eksisting yang digunakan sebagai tempat untuk sebuah mobile crane melakukan pekerjaan peluncuran gelagar. Dengan lokasi ujicoba konstruksi di atas sebuah sungai dan tidak memungkinkan untuk menggunakan metode yang sama, maka dalam pelaksanaannya, digunakan alternatif metode konstruksi dengan menggunakan dua buah crane di satu sisi sungai yang merupakan lokasi perakitan dan satu buah crane di sisi lain untuk menyambut gelagar. Dalam penelitian ini, dilakukan analisis terhadap metode konstruksi tersebut untuk memastikan pelaksanaan yang dilakukan dapat berjalan aman, komponen struktur tidak mengalami kerusakan, dan pekerjaan dapat berjalan lebih cepat sebagai bagian dari tujuan percepatan pembangunan infrastruktur. Dari hasil analisis setiap kemungkinan dari tahapan konstruksi yang digunakan dalam metode konstruksi alternatif tersebut, didapat hasil bahwa tegangan terbesar yang terjadi akibat pelaksanaan adalah 50,37 MPa, yang kurang dari tegangan ijin 380 MPa. Selain itu, defleksi vertikal terbesar yang terjadi pada tahapan peluncuran gelagar adalah 21,98 mm, yang kurang dari defleksi ijin 50 mm. Sehingga, metode konstruksi ini dapat digunakan dan menjadi acuan untuk metode konstruksi jembatan gelagar boks baja modular untuk lintas atas sungai.
UJI COBA MODEL FISIK SISTEM BRIDGE WEIGH IN MOTION SEDERHANA PADA JEMBATAN GELAGAR BAJA KOMPOSIT (TRIAL MODEL OF A SIMPLE BRIDGE WEIGH IN MOTION SYSTEM ON STEEL GIRDER COMPOSITE BRIDGE) Widi Nugraha; Gatot Sukmara
Jurnal Jalan-Jembatan Vol 35 No 1 (2018)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Jalan dan Jembatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58499/jurnal pusjatan.v35i1.227

Abstract

ABSTRAK Pada umumnya, penggunaan sistem WIM untuk mengukur beban kendaraan dan lalu lintas di Indonesia saat ini masih mengandalkan sistem WIM temporer. Survei tersebut pada umumnya dilakukan untuk durasi paling lama satu minggu. Pada tahun 2015, Puslitbang Jalan dan Jembatan, Kementerian PUPR (Pusjatan) mengembangkan sebuah sistem WIM yang relatif baru di Indonesia. Sistem WIM ini memanfaatkan struktur jembatan dengan mengukur respons elemen jembatan akibat beban kendaraan yang melintas sebagai data dasar untuk diolah dengan sebuah algoritma untuk menghitung beban kendaraan (sistem bridge WIM). Luaran dari sistem bridge WIM ini adalah beban kendaraan yang dihitung berdasarkan respons struktur jembatan dan kecepatan kendaraan yang dihitung berdasarkan selisih waktu saat kendaraan melintas pada dua sensor berurutan yang jarak antarsensornya diketahui. Pusjatan pada tahun 2016 melakukan implementasi dari konsep teknologi bridge WIM sederhana dengan memasang sensor strain transducer pada Jembatan Cipeles, sebuah jembatan gelagar baja komposit dengan panjang bentang 30 m, berlokasi di Ruas Jalan Nasional Bandung-Cirebon, Kabupaten Sumedang, Provinsi Jawa Barat. Proses kalibrasi dari sistem ini dilakukan dengan mengukur respons struktur jembatan untuk beban kendaraan truk yang beratnya diketahui. Hasil dari perhitungan beban kendaraan dengan bridge WIM sederhana ini memberikan simpangan terhadap pengukuran beban kendaraan statis. Hasil kalibrasi menunjukkan sekitar 3,87% perbedaan dengan muatan truk yang dikenal secara statis. Perhitungan kecepatan kendaraan menggunakan sistem bridge WIM ini, memberikan simpangan sebesar 9,3% dibandingkan terhadap pengukuran dengan speed gun untuk sepuluh kendaraan yang melintas di atas jembatan. Kata Kunci: jembatan, weigh in motion, sensor, beban kendaraan, kecepatan kendaraan ABSTRACT Generally, the use of a temporarily WIM system to measure vehicular loads and traffic are common practices in Indonesia. It takes about maximum one week of survey. In 2015, a relatively new WIM system in Indonesia is developed by IRE, Ministry of Public Works and Housing. This WIM system uses bridge structural responses due to vehicle loads as input to the system which is then calculated by using an algorithm to determine the vehicle loads (bridge WIM system). The output of this bridge WIM system are vehicle loads that are calculated by using bridge structural responses and vehicle speeds that are calculated by differences of vehicle passing time on two adjacent sensors, with the distances between them as defined. The bridge responses were measured by using strain transducers attached on the bridge. In 2016, IRE implemented a simple bridge WIM concept by installing strain transducer on Cipeles Bridge. This bridge is a steel girder composite bridge with 30 m span located in Bandung-Cirebon National Road, Sumedang Regency, West Java. To calibrate the system, bridge responses were measured by statically known truck load. The calibration results shows about 3,87% differences with statically known load truck. In addition, in terms of vehicle speed, it shows about 9,3% differences with speed gun measurements. Keywords: bridge, weigh in motion, sensors, vehicular load, vehicle speed