Non-engineered building atau bangunan yang tidak dibangun secara teknis memiliki kemungkinan terjadi kerusakan hingga kehancuran yang lebih besar apabila terjadi gempa daripada engineered building. Perlu adanya peningkatan kemampuan pada industri konstruksi, baik dengan meningkatkan kualitas pelaksana konstruksi ataupun membuat pedoman dengan standar yang minimum (mudah dilakukan), khususnya sebagai solusi untuk mengurangi non-engineered building sehingga kebutuhan terhadap desain struktur tahan gempa terpenuhi. Metode desain yang baik akan memberikan tingkat kelayakan yang baik dalam memenuhi ketentuan struktur tahan gempa. Model struktur yang digunakan akan berfokus pada kasus-kasus struktur sederhana. Dalam metode desain sederhana diharuskan memenuhi beberapa batasan-batasan yang sesuai dengan peraturan atau code yang ada. Batasan tersebut antara lain berupa bentuk struktur, kondisi gempa lokasi, fungsi bangunan, sistem struktur, kondisi fondasi serta kondisi tertentu lainnya. Setelah batasan tersebut terpenuhi maka dapat dilanjutkan dengan melakukan tahapan desain pendahuluan atau biasa disebut preliminary design. Tahap preliminary design ini meliputi perencanaan terhadap bentang struktur, pendekatan gaya berdasarkan beban gravitasi dan akan dilakukan pembandingan terhadap syarat penulangan khusus pada balok beton bertulang yaitu dengan menggunakan sistem rangka pemikul momen sesuai dengan syarat yang berlaku. Perbandingan antara hasil gaya yang didapatkan dari perhitungan berdasarkan pembebanan dan batasan kebutuhan gaya dari syarat penulangan khusus dapat memberi gambaran terhadap kebutuhan minimal terhadap bangunan tahan gempa. Hasil analisis pada beberapa model yang dilakukan pada studi ini menunjukkan bahwa metode ini cukup baik digunakan untuk struktur 3 hingga 5 lantai. Selain itu, kondisi bangunan ini haruslah sesuai dengan batasan-batasan yang ada pada syarat dalam penggunaan metode desain penyederhanaan gedung yang ada pada ACI-314R-11.