Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PENYUSUNAN BAHAN AJAR LAJU REAKSI BERBASIS KONTEKS PEMBUATAN PUPUK ORGANIK CAIR DARI REBUNG BAMBU DENGAN METODE 4STMD Egi Permana; Omay Sumarna; Sjaeful Anwar
Jurnal Riset dan Praktik Pendidikan Kimia Vol 11, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jrppk.v11i1.57939

Abstract

Penelitian ini bertujuan menyusun bahan ajar laju reaksi dengan dengan konteks pembuatan pupuk organik cair dari rebung bambu. Metode penelitian yang digunakan yaitu Development Research dari Richey Klein (2004) yang terdiri dari tiga tahap yaitu design, development dan evaluation. Tahap pertama dilakukan optimasi untuk mengetahui kondisi optimum dalam pembuatan pupuk organik cair dari rebung bambu sebagai dasar penyusunan bahan ajar. Percobaan pembuatan pupuk organik dilakukan untuk memperoleh informasi terkait faktor yang mempengaruhi laju reaksi fermentasi yang dapat dikembangkan dalam prosedur praktikum. Faktor tersebut adalah jenis rebung bambu, massa rebung, volume larutan EM4, dan luas permukaan rebung bambu. Tahap berikutnya adalah pengembangan bahan ajar dengan menggunakan metode Four Steps Teaching Material Development (4STMD) yang terdiri empat tahap yaitu seleksi, strukturisasi, karakterisasi, dan reduksi didaktik. Hasil pengembangan bahan ajar pada tahap seleksi diperoleh materi laju reaksi yang sesuai dengan tuntutan kurikulum, benar secara keilmuan dan konteks laju reaksi. Pada proses strukturisasi diperoleh peta konsep, struktur makro dan multiple representasi. Tahap karakteristik berupa uji keterbacaan kepada siswa sebanyak 18 orang. Hasil karakterisasi menunjukkan bahwa teks yang dikembangkan mudah 92 % dan sulit 8% dengan keterbacaan 75,21%. Hal ini menunjukkan bahwa bahan ajaryang sudah disusun termasuk dalam kategori sebagian besar bahan ajar ini mudah untuk dibacaoleh siswa.
PERMASALAHAN GURU IPA SMP MENGAJARKAN IPA TERPADU BERBASIS ETHNOSCIENCE Sjaeful Anwar
ABMAS Vol 24, No 1 (2024): Jurnal Abmas, Juni 2024
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/abmas.v24i1.64208

Abstract

Dengan diberlakukannya kurikulum KTSP tahun 2006, Ilmu kimia menjadi bagian dari mata pelajaran IPA yang harus diajarkan kepada siswa SMP. Pada kurikulum 2013, komposisi materi kimia pada mata pelajaran IPA semakin diperkuat. Guru IPA SMP sudah seharusnya memiliki kemampuan di empat bidang IPA, yaitu Kimia, Fisika, Biologi, dan IPBA. Akan tetapi survey lapangan yang dilakukan di wilayah kabupaten Subang menunjukkan bahwa cukup banyak guru IPA mengalami kesulitan mengajarkan IPA secara terpadu. Hal ini disebabkan oleh latar belakang pendidikan formal mereka yang kebanyakan berasal dari program studi pendidikan fisika (49%) dan biologi (49), dan hanya sedikit sekali yang berasal dari program studi pendidikan kimia (2%). Sampai saat ini IPA diajarkan secara terpisah-pisah antara IPA kimia, IPA biologi, IPA fisika, dan IPA IPBA. Hal ini yang menyebabkan ketidaksesuaian antara impelentasi dan tuntutan kurikulum, dimana IPA harus diajarkan secara terpadu. Ketidaksesuaian ini disebabkan terutama oleh tidak adanya buku ajar IPA yang disajikan dalam bentuk terpadu. Program pembinaan ini merupakan sebuah solusi bagi kelangkaan bahan ajar IPA terpadu. Pembinaan dilakukan dengan sistem blended learning, yang menggabungkan model daring dan tatap muka. Pada tatap muka diberikan paparan mengenai keterpaduan IPA dan metode pengembangan bahan ajar 4STMD. Dua kali pertemuan dilakukan secara daring untuk memberikan pembinaan progress pengembangan bahan ajar. Pelatihan dilakukan 8 jam per minggu, sehingga seluruhnya 32 jam. Hasil dari pembinaan ini menunjukkan bahwa guru-guru IPA sangat termotivasi untuk mengembangkan bahan ajar IPA terpadu berbasis etnosains, sehingga menghasilkan beberapa bahan ajar IPA terpadu.