Wahid Nurcahyono
Jurusan Teater, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Gaya Rococo Punk Sebagai Dasar Penciptaan Tata rambut dalam pertunjukan Marie Antoinette Karya David Adjmi Ericha Nur Cholifatin; Nanang Arisona; Wahid Nurcahyono
IDEA: Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan Vol 17, No 1 (2023): Vol 17, No 1 (2023)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gaya rococo punk merupakan salah satu bentuk fashion yang menggabungkan era rococo dan era punk generasi awal. Gaya rococo punk menjadi ide dasar dalam penciptaan tata rambut untuk mewujudkan nilai estetika.Tata rambut dalam pertunjukan teater memiliki fungsi untuk mewujudkan karakter tokoh.Naskah Marie Antoinette karya David Adjmi adalah pilihan yang tepat untuk menciptakan tatanan rambut gaya rococo punk. Jenis tata rambut yang digunakan adalah fantasy style dengan menggunakan teori estetika sebagai landasan penciptaan tata rambut, dari segi keutuhan, penonjolan, keseimbangan yang akan mengantarkan nilai estetis secara objektif.Pencipta berhasil menemukan metode penciptaan dan menciptakan tata rambut dengan gaya rambut rococo punk dalam pertunjukan Marie Antoinette karya David Adjmi. Selain itu rambut juga berfungsi sebagai media komunikasi non-verbal yang memuat suatu bobot atau makna dalam pertunjukan untuk dapat dinikmati oleh penonton.Rococo Punk Style as a Basis for the Creation of Hairdos in the Marie Antoinette Show by David Adjmi A rococo punk style is a form of fashion that combines the rococo era and the early punk era. The rococo punk style became the basic idea in creating hairdos to create aesthetic value. Hairdos in theatrical performances have the function to embody character traits. David Adjmi's Marie Antoinette script is a great choice for creating a rococo punk hairdo. The type of hairdo used is fantasy style using aesthetic theory as the basis for creating hairdos, in terms of wholeness, prominence, and balance which will deliver aesthetic value objectively. The creators managed to find a creation method and created a hairdo with a rococo punk hairstyle in David Adjmi's Marie Antoinette show. In addition, the hair also functions as a medium of non-verbal communication that contains a weight or meaning in the show to be enjoyed by the audience.
Pemeranan Tokoh Rangda Dalam Naskah Rangda Ing Jirah Karya Jeannete Lauren Adaptasi Novel Janda Dari Jirah Karya Cok Sawitri Surya Chintya Dharma; Wahid Nurcahyono; Catur Wibono
IDEA: Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan Vol 17, No 1 (2023): Vol 17, No 1 (2023)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tokoh Rangda Ing Jirah dalam naskah Rangda Ing Jirah – The Legend Of Calonarang karya Jeannete Lauren menjadi salah satu daya tarik untuk diwujudkan kedalam bentuk tokoh tiga dimensi diatas panggung karena peran yang dimainkan dalam satu karakter tokoh mengalami perkembangan dari tokoh sebagai Rangda Ing Jirah serta kemudian menjadi manifestasi Durga, di mana hal tersebut menggambarkan persona dan shadow seperti yang disampaikan Carl Jung. Pemilihan karakter tokoh Rangda sebagai karya tugas akhir keaktoran dilatar belakangi oleh sudut pandang tentang kisah Calonarang, kali ini tokoh Rangda Ing Jirah ialah tokoh protagonis. Adapun teori pemeranan dalam penciptaan tokoh Rangda Ing Jirah yang digunakkan ialah teori pemeranan representasi menurut Uta Hagen. Dalam merepresentasikannya didukung pula oleh teknik substitusi di mana menempatkan diri aktor dalam kenyataan kehidupan sendiri tanpa menggunakan kata seakan-akan. Pementasan tokoh ini bertajuk dramatari. Selain dialog tokoh, pemeranan akan didukung dengan tembang geguritan serta tarian Bali.Rangda Character Acting in Jeannete Lauren's Play “Rangda Ing Jirah”, Adaptation Of Cok Savitri’s Novel “Janda dari Jirah”The figure of Rangda Ing Jirah in the script Rangda Ing Jirah – The Legend Of Calonarang by Jeannete Lauren is one of the attractions to be embodied in the form of a three-dimensional character on stage because the role played in one character develops from a character as Rangda Ing Jirah and then becomes the manifestation of Durga, where it describes the persona and shadow as conveyed by Carl Jung. The background of the selection of the character Rangda as his final acting work is the perspective of the Calonarang story, this time the character Rangda Ing Jirah is the protagonist. The role theory used in the creation of the character Rangda Ing Jirah is the theory of representational play according to Uta Hagen. In representing it, it is also supported by substitution techniques in which the actor places himself in the reality of his own life without using the word “as if”. The performance of this character is entitled “dramatari”. In addition to character dialogue, the performance will be supported by “geguritan” songs and Balinese dances.