Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Peningkatan Kapasitas Masyarakat sekitar Taman Hutan Raya Wan Abdul Rachman dalam Memasarkan Produk Hasil Hutan Bukan Kayu Susni Herwanti; Christine Wulandari; Hari Kaskoyo; Wahyu Hidayat; Destia Novasari; Lia Mulyana; Nindya Triya Puspita; Muhammad Aldo Kurniansyah; Kadek Wikan Nandini; Rini Nurindarwati
Jurnal Pengabdian Fakultas Pertanian Universitas Lampung Vol 1, No 1 (2022): Jurnal Pengabdian Fakultas Pertanian Universitas Lampung
Publisher : Agriculture Faculty, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jpfp.v1i1.5762

Abstract

Taman Hutan Raya Wan Abdul Rachman (Tahura WAR) terbagi menjadi 7 blok pengelolaan yaitu, blok perlindungan, blok pemanfaatan, blok koleksi tumbuhan dan satwa, blok tradisional, blok rehabilitasi, blok religi budaya atau sejarah, dan blok khusus. Khusus blok tradisional, masyarakat diberikan izin usaha pemanfaatan Tahura WAR melalui skema kemitraan kepada masyarakat yang sudah terlanjur menggarap Kawasan hutan. Usaha yang dapat dilakukan pada blok tradisional antara lain berupa usaha jasa lingkungan dan usaha hasil hutan bukan kayu. Akan tetapi, produk-produk ini belum sepenuhnya dapat dipasarkan oleh masyarakat. Hal ini terjadi antara lain karena belum tingginya jiwa kewirausahaan yang dimiliki masyarakat, kurangnya promosi, rendahnya kualitas produk yang dihasilkan, sistem pemasaran yang kurang baik dan lain sebagainya. Setelah pemberian materi oleh narasumber, masyarakat menjadi faham tentang pemasaran hasil hutan bukan kayu dimulai dari nilai tambah produk sampai pada pemasaran dengan teknologi terkini. Menurut ketua Gapoktan Manunggal Sejahtera, KTH Sejahtera 1 dan 6, kegiatan ini tidaklah mudah dilakukan jika tanpa kerjasama yang baik antara suami dan istri karena pada umumnya, suami suatu keluarga di Desa Pesawaran, Kecamatan Kedondong, Kabupaten Pesawaran bekerja penuh di lahan setiap harinya. Dengan demikian perlu kerjasama atau pembagian tugas yang baik dengan para istri atau anggota keluarga lainnya. Oleh karena itu, pembagian tugas menjadi sangat penting di setiap keluarga petani di sekitar hutan, selain itu kelembagan pada kelompok wanita dan pemuda juga perlu segera dibentuk dan diperkuat sehingga masing-masing pihak dapat berperan dan mendukung kesejahteraan keluarga maupun desa.
Correlation of community characteristics with ecoprint's expertise in supporting a more sustainable Bukit Barisan Selatan National Park Niken aurora iwais; Christine Wulandari; Tadzkia Shalihah Sauce; Yuda Ferdiawan; Aldina Refa Vernanda; Achmad Haris; Farhad Maryan Saputra
Global Forest Journal. Vol. 4 No. 1 (2026): Global Forest Journal
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32734/gfj.v4i1.22847

Abstract

The buffer area of the Bukit Barisan Selatan National Park (BBSNP) has the potential to be developed through the creative economy, including ecoprint. Ecoprint is one of the textile dyeing techniques that uses natural materials, making it environmentally friendly and having artistic and economic value. This study aims to analyze the social characteristics of the BBSNP community, the level of ecoprint skills, and the relationship between the two in supporting regional Sustainability. The research uses quantitative methods through questionnaires that are analyzed descriptively and analytically. The results of the study show that the productive age group dominates the community, secondary education is common, farming is common, and the community has a good environmental experience. Ecoprint skills are at the basic to intermediate level and contribute as an additional income. The study also found that environmental experience and social engagement were more influential on ecoprint skills. Community empowerment through ecoprint training has been proven to foster new skills, build creativity, and strengthen collaboration between the government, academics, and business actors. Thus, ecoprints not only have aesthetic value but also serve a strategic role in supporting a creative economy based on local wisdom and environmental conservation