Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

BIAS GENDER DALAM VERBA: Sebuah Kajian Leksikon dalam Bahasa Inggris Setiyaningsih, Sri Isnani
Sawwa: Jurnal Studi Gender Vol 11, No 1 (2015): Oktober 2015
Publisher : Pusat Studi gender dan Anak (PSGA) Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (390.133 KB) | DOI: 10.21580/sa.v11i1.1445

Abstract

Kajian gender merupakan analisis yang digunakan dalam me­nempat­kan posisi setara antara laki-laki dan perempuan untuk mewujudkan tatanan masyarakat sosial yang lebih egaliter. Tulisan ini akan mem­bahas bias gender dari sisi bahasa, karena bahasa telah mewakili sistem kehidupan masyarakat. Kemungkinan besar setiap bahasa mempunyai sisi-sisi bias gender, tidak terkecuali bahasa Inggris, dimana jenis masyarakat dalam kenyataan hidup lebih diwakili oleh kaum laki-laki dan perempuan. Bias gender pada bahasa ini lebih difokuskan pada ranah verba (kata kerja/yang menunjukan aktivitas) dalam sistem leksikon dengan melihat bagaimana struktur kosakata bahasa Inggris tersusun dalam mensimbolkan keberadaan dua jenis kelamin dan hubungan keduanya. Bias gender pada kategori ini dapat dilihat dalam empat bentuk, yaitu (1) aktivitas yang secara tradisional dianggap layak dilakukan oleh gender tertentu, (2) aktivitas yang secara tradisional biasa dilakukan oleh gender tertentu, (3) aktivitas yang memang dilakukan gender tertentu demi gender lain, dan (4) aktivitas yang secara kodrati hanya bisa dilakukan gender tertentu dan aktivitas yang mendeskreditkan atau bermakna negatif pada gender tertentu
BIAS GENDER DALAM VERBA: Sebuah Kajian Leksikon dalam Bahasa Inggris Setiyaningsih, Sri Isnani
Sawwa: Jurnal Studi Gender Vol 11, No 1 (2015): Oktober 2015
Publisher : Pusat Studi gender dan Anak (PSGA) Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (390.133 KB) | DOI: 10.21580/sa.v11i1.1445

Abstract

Kajian gender merupakan analisis yang digunakan dalam me­nempat­kan posisi setara antara laki-laki dan perempuan untuk mewujudkan tatanan masyarakat sosial yang lebih egaliter. Tulisan ini akan mem­bahas bias gender dari sisi bahasa, karena bahasa telah mewakili sistem kehidupan masyarakat. Kemungkinan besar setiap bahasa mempunyai sisi-sisi bias gender, tidak terkecuali bahasa Inggris, dimana jenis masyarakat dalam kenyataan hidup lebih diwakili oleh kaum laki-laki dan perempuan. Bias gender pada bahasa ini lebih difokuskan pada ranah verba (kata kerja/yang menunjukan aktivitas) dalam sistem leksikon dengan melihat bagaimana struktur kosakata bahasa Inggris tersusun dalam mensimbolkan keberadaan dua jenis kelamin dan hubungan keduanya. Bias gender pada kategori ini dapat dilihat dalam empat bentuk, yaitu (1) aktivitas yang secara tradisional dianggap layak dilakukan oleh gender tertentu, (2) aktivitas yang secara tradisional biasa dilakukan oleh gender tertentu, (3) aktivitas yang memang dilakukan gender tertentu demi gender lain, dan (4) aktivitas yang secara kodrati hanya bisa dilakukan gender tertentu dan aktivitas yang mendeskreditkan atau bermakna negatif pada gender tertentu
EFEKTIVITAS MODEL PEMBELAJARAN GROUP INVESTIGATION (GI) BERBANTU MEDIA DAUN UNTUK PEMAHAMAN KONSEP MATERI ALJABAR Siti Maslihah; Sri Isnani Setyaningsih; Nurkhannah Zulfa
Jurnal Riset Pembelajaran Matematika Vol 2 No 1 (2020)
Publisher : Prodi Pendidikan Matematika Universitas PGRI Ronggolawe

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55719/jrpm.v2i1.140

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui keefektifan model pembelajaran Group Investigation (GI) berbantu media daun terhadap pemahaman konsep peserta didik pada materi bentuk aljabar. Jenis penelitian yang digunakan adalah kuantitatif eksperimen dengan desain penelitian pretest posttest control group design untuk variable kemampuan pemahaman konsep. Pengambilan sampel menggunakan teknik cluster random sampling. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode tes, yaitu pretest dan posttest. Hasil analisis data diperoleh rata-rata kemampuan pemahaman konsep peserta didik kelas eksperimen dan kelas kontrol . Hasil uji hipotesis terhadap kemapuan pemahaman konsep peserta didik dengan taraf signifikan 5% diperoleh dan . Karena maka rata-rata kemampuan pemahaman konsep kelas eksperimen lebih baik daripada kelas kontrol. Analisis uji ketuntasan belajar menggunakan uji-t satu sampel diperoleh dan . Karena maka dapat disimpulkan kelas eksperiment secara klasikal dapat dikatakan tuntas. Jadi model pembelajaran Group Investigation (GI) berbantu media daun efektif terhadap kemampuan pemahaman konsep pada materi bentuk aljabar.
BIAS GENDER DALAM VERBA: Sebuah Kajian Leksikon dalam Bahasa Inggris Sri Isnani Setiyaningsih
Sawwa: Jurnal Studi Gender Vol 11, No 1 (2015): Oktober 2015
Publisher : Pusat Studi gender dan Anak (PSGA) Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (390.133 KB) | DOI: 10.21580/sa.v11i1.1445

Abstract

Kajian gender merupakan analisis yang digunakan dalam me­nempat­kan posisi setara antara laki-laki dan perempuan untuk mewujudkan tatanan masyarakat sosial yang lebih egaliter. Tulisan ini akan mem­bahas bias gender dari sisi bahasa, karena bahasa telah mewakili sistem kehidupan masyarakat. Kemungkinan besar setiap bahasa mempunyai sisi-sisi bias gender, tidak terkecuali bahasa Inggris, dimana jenis masyarakat dalam kenyataan hidup lebih diwakili oleh kaum laki-laki dan perempuan. Bias gender pada bahasa ini lebih difokuskan pada ranah verba (kata kerja/yang menunjukan aktivitas) dalam sistem leksikon dengan melihat bagaimana struktur kosakata bahasa Inggris tersusun dalam mensimbolkan keberadaan dua jenis kelamin dan hubungan keduanya. Bias gender pada kategori ini dapat dilihat dalam empat bentuk, yaitu (1) aktivitas yang secara tradisional dianggap layak dilakukan oleh gender tertentu, (2) aktivitas yang secara tradisional biasa dilakukan oleh gender tertentu, (3) aktivitas yang memang dilakukan gender tertentu demi gender lain, dan (4) aktivitas yang secara kodrati hanya bisa dilakukan gender tertentu dan aktivitas yang mendeskreditkan atau bermakna negatif pada gender tertentu
Kasus Korupsi Timah Rp 271 Triliun: Alasan Kekuasaan, Kesempatan, dan Lemahnya Konstitusi Tsalsabillah Rokhmah Utami; Sri Isnani Setiyaningsih
Jurnal Kabar Masyarakat Vol. 2 No. 2 (2024): Mei : JURNAL KABAR MASYARAKAT
Publisher : Institut Teknologi dan Bisnis Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54066/jkb.v2i2.2007

Abstract

Corruption is a serious problem in Indonesia, affecting economic growth, political stability and public trust in the government. This article discusses three main factors causing corruption in Indonesia: the desire to gain power, the availability of opportunities for corruption, and the weakness of the constitutional system to ensure accountability and transparency. This study shows how political power, weak control and supervision, as well as unclear constitutional provisions and weak understanding of Pancasila have created an environment that supports corrupt practices. This analysis also highlights the importance of constitutional reform and strengthening supervisory institutions to combat corruption and build a more transparent and accountable government in Indonesia.
Mega Korupsi Tata Niaga Timah Rp 300 Triliun: Analisis Pelanggaran Prinsip Pancasila dan Etika Tata Kelola Dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam Ricky Fairuz Julio; Sri Isnani Setyaningsih
Desentralisasi : Jurnal Hukum, Kebijakan Publik, dan Pemerintahan Vol. 2 No. 4 (2025): November : Desentralisasi : Jurnal Hukum, Kebijakan Publik, dan Pemerintahan
Publisher : Asosiasi Peneliti dan Pengajar Ilmu Hukum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62383/desentralisasi.v2i4.1238

Abstract

The Rp 300 trillion tin trade mega-corruption case is one of the largest corruption scandals in the history of Indonesian natural resource management. This study aims to analyze violations of Pancasila principles and ethical governance in the tin trade mega-corruption case, and to identify threats to Indonesian natural resource management. The study uses a qualitative approach with descriptive methods. Data were collected through documentary studies of law enforcement reports, government documents, media reports, and related literature. Data analysis was conducted thematically within the theoretical framework of Pancasila, good governance, and public ethics. The findings indicate that this case violates all of Pancasila's tenets, particularly the second (Just and Civilized Humanity) and fifth (Social Justice for All Indonesian People). There were violations of governance principles including transparency, accountability, participation, the rule of law, and effectiveness. The modus operandi involved collusion between business actors, state officials, and law enforcement officers. The mega-allegations reflect a systemic failure in natural resource management that contradicts the constitutional mandate and Pancasila values. Structural reforms are needed in mining governance, enforcement of the integrity of the apparatus, and public participation in supervision.