Yogi Suherman
Fakultas Ekonomi Dan Bisnis, Universitas Padjadjaran, Indonesia

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Komponen Utama Pembentuk Daya Saing Bisnis Kuliner (Studi pada Produk Nasi Goreng Kota Bandung) Luthfi Rafsanjani Fahreza; Yogi Suherman
Cakrawala Repositori IMWI Vol. 7 No. 02 (2024): Cakrawala Repositori IMWI
Publisher : Institut Manajemen Wiyata Indonesia & Asosiasi Peneliti Manajemen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52851/cakrawala.v7i02.639

Abstract

Bisnis usaha kuliner di Indonesia semakin diminati seiring berjalannya waktu, dengan masyarakat yang semakin gemar mencari berbagai macam menu makanan, baik itu makanan tradisional, nasional, maupun internasional. Di situasi yang sangat ketat ini dalam melakukan persaingan, industri bisnis harus melihat beberapa faktor dalam bisnisnya seperti harga, kualitas, tempat, rasa dimana hal tersebut bisa menjadi pengaruh akan daya saing yang diterima oleh pelaku industri. Adanya makna tersebut dikarenakan kekuatan daya saing yang meningkat strategi yang digunakan untuk mampu beradaptasi dalam kondisi tersebut dengan menggunakan strategi Marketing mix 4p dan kualitas pelayanan TERRA pun perlu diterapkan agar konsumen bisa menilai dari segi produk maupun dari sistem pelayanan nya. Kualitas layanan yang diberikan harus dimulai dengan kebutuhan pelanggannya dan nantinya berakhir pada persepsi pelanggan itu. Indikator layanan diantaranya: Tangible (Layanan bukti fisik), Emphaty (Empati), Reliability (Kehandalan), Responsiveness (Tanggapan), Assurance (Jaminan). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dan verifikatif dengan pendekatan kuantitatif, dengan menggunakan metode penelitian ini akan diketahui hubungan yang signifikan antara variabel yang diteliti sehingga kesimpulan yang akan memperjelas gambaran mengenai objek yang diteliti. Populasi yang digunakan yaitu para penjual produk nasi goreng di Kota Bandung yang terdaftar pada google maps. Dalam penelitian ini yang digunakan untuk pengambilan sampel adalah angka ganjil yaitu 150 penjual nasi goreng yang berasal dari 30 kecamatan Kota Bandung yang diambil dari anggota populasi/jumlah total penjual produk nasi goreng di Kota Bandung yang terdaftar di Google Maps. Penelitian ini menggunakan analisa faktor dalam pengolahan data dikarenakan analisis faktor merupakan kajian saling ketergantungan antara variabel-variabel dengan tujuan untuk saling menemukan himpunan variabel-variabel baru, yang lebih sedikit jumlahnya daripada variabel semula, dan yang menunjukkan yang mana di antara variabel-variabel semula tersebut yang merupakan faktor-faktor persekutuan.
Komponen Utama Pembentuk Daya Saing Bisnis Kuliner (Studi pada Produk Nasi Goreng Kota Bandung) Luthfi Rafsanjani Fahreza; Yogi Suherman
Cakrawala Repositori IMWI Vol. 7 No. 2 (2024): Cakrawala Repositori IMWI
Publisher : Institut Manajemen Wiyata Indonesia & Asosiasi Peneliti Manajemen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52851/cakrawala.v7i02.639

Abstract

Bisnis usaha kuliner di Indonesia semakin diminati seiring berjalannya waktu, dengan masyarakat yang semakin gemar mencari berbagai macam menu makanan, baik itu makanan tradisional, nasional, maupun internasional. Di situasi yang sangat ketat ini dalam melakukan persaingan, industri bisnis harus melihat beberapa faktor dalam bisnisnya seperti harga, kualitas, tempat, rasa dimana hal tersebut bisa menjadi pengaruh akan daya saing yang diterima oleh pelaku industri. Adanya makna tersebut dikarenakan kekuatan daya saing yang meningkat strategi yang digunakan untuk mampu beradaptasi dalam kondisi tersebut dengan menggunakan strategi Marketing mix 4p dan kualitas pelayanan TERRA pun perlu diterapkan agar konsumen bisa menilai dari segi produk maupun dari sistem pelayanan nya. Kualitas layanan yang diberikan harus dimulai dengan kebutuhan pelanggannya dan nantinya berakhir pada persepsi pelanggan itu. Indikator layanan diantaranya: Tangible (Layanan bukti fisik), Emphaty (Empati), Reliability (Kehandalan), Responsiveness (Tanggapan), Assurance (Jaminan). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dan verifikatif dengan pendekatan kuantitatif, dengan menggunakan metode penelitian ini akan diketahui hubungan yang signifikan antara variabel yang diteliti sehingga kesimpulan yang akan memperjelas gambaran mengenai objek yang diteliti. Populasi yang digunakan yaitu para penjual produk nasi goreng di Kota Bandung yang terdaftar pada google maps. Dalam penelitian ini yang digunakan untuk pengambilan sampel adalah angka ganjil yaitu 150 penjual nasi goreng yang berasal dari 30 kecamatan Kota Bandung yang diambil dari anggota populasi/jumlah total penjual produk nasi goreng di Kota Bandung yang terdaftar di Google Maps. Penelitian ini menggunakan analisa faktor dalam pengolahan data dikarenakan analisis faktor merupakan kajian saling ketergantungan antara variabel-variabel dengan tujuan untuk saling menemukan himpunan variabel-variabel baru, yang lebih sedikit jumlahnya daripada variabel semula, dan yang menunjukkan yang mana di antara variabel-variabel semula tersebut yang merupakan faktor-faktor persekutuan.
Model Prediksi Kebangkrutan Perusahaan Waralaba Dengan Model Altman Z-Score (Studi Kasus Pada Brand Nasi Goreng Mafia) Wibowo, Anas; Yogi Suherman
Business Preneur: Jurnal Ilmu Administrasi Bisnis Vol. 7 No. 1 (2025): Vol. 7 No. 1 Maret 2025
Publisher : Program Studi Ilmu Administrasi Bisnis FISIP UNPAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/bp.v7i1.14882

Abstract

Bisnis di sektor kuliner memiliki potensi besar untuk berkembang karena makanan merupakan kebutuhan primer yang selalu dicari oleh masyarakat guna memenuhi kebutuhan hidup mereka. Seiring berjalannya waktu, muncul tren bisnis baru yaitu dengan menggunakan sistem waralaba. Dengan tahapan yaitu membuka bisnis, lalu menggunakan kekuatan sosial media dengan tujuan viral, hingga di tahun pertama bisnis tersebut sudah memiliki banyak cabang dan dilanjut dengan tahun-tahun berikutnya membuka kesempatan waralaba di banyak tempat. Namun, tak sedikit dari proses bisnis serupa berakhir dengan kebangkrutan. Sehingga, muncullah pertanyaan apakah penyebab kebangkrutan bisnis-bisnis waralaba ini. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan pendekatan kombinasi yaitu kuantitatif dan kualitatif. Analisis dilakukan dengan menggunakan model Porter’s 5 Forces dan juga model Altman Z-Score dengan sumber data primer yang diambil langsung dari proses wawancara dengan pihak manajemen dan juga data sekunder berasal dari google maps. Penelitian dilakukan pada salah satu merk nasi goreng dengan pusat di Bandung yaitu Nasi Goreng Rempah Mafia yang memiliki life cycle bisnis serupa. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwasanya kondisi penjualan Nasi Goreng Mafia memang mengalami penurunan dari tahun ke tahun, namun, hasil Altman menunjukkan perusahaan masih dalam kondisi ‘sehat’. Hasil ini dijelaskan dengan model Porter’s 5 Forces menunjukkan penurunan pembelian disebabkan oleh peningkatan kompetisi industri kuliner di Bandung dari tahun ke tahun dan fase Covid-19 membuat hampir seluruh gerai waralaba memutuskan untuk menutup secara permanen.