Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

GAMBARAN KEPUASAN HIDUP (LIFE SATISFACTION) PADA DEWASA AWAL YANG GEMAR MERAPIKAN RUANGAN ATAU BARANG A.Eka Septilla; Rizky Qastrunada F; Fanny Nur Afifah; Syifa Fadillah
Empowerment Jurnal Mahasiswa Psikologi Universitas Buana Perjuangan Karawang Vol. 3 No. 2 (2023): Empowerment Jurnal Mahasiswa Psikologi Universitas Buana Perjuangan Karawang
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Buana Perjuangan Karawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36805/empowerment.v3i2.862

Abstract

Kerapian merupakan sebuah aktivitas yang dilakukan untuk menjaga keteraturan, baik ruangan maupun barang-barang. Beberapa waktu terakhir muncul teknik untuk merapikan ruangan maupun barang-barang, yaitu dengan cara menyingkirkan barang yang sudah tidak digunakan atau disebut decluttering. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk melihat gambaran kepuasan hidup pada dewasa awal yang gemar merapikan ruangan ataupun barang-barang. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif dengan metode deskriptif. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah non-probability sampling dengan cara online survey untuk mengumpulkan data. Alat ukur yang digunakan adalah Satisfaction With Life Scale (SWLS) oleh Diener dkk. (1985). Partisipan dalam penelitian ini berjumlah 113 dengan kriteria berusia 18-39 tahun yang menyukai kegiatan merapikan ruangan ataupun barang-barang. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis uji beda, yaitu independent sample t-test dan oneway anova dengan software SPSS 24. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebanyak 65 partisipan (57%) yang menyukai kerapian cenderung merasa puas akan hidupnya. Dalam analisis tambahan yang dilakukan, menunjukkan bahwa intensitas individu dalam merapikan, status pekerjaan, serta pemasukkan dan pengeluaran per bulan yang dimiliki merupakan faktor dalam kepuasan hidup seseorang. Tidiness is an activity carried out to maintain the orderliness of both the room and the items. Recently, there have been techniques for tidying up rooms and things, namely by calling things that are no longer used or decluttering. The purpose of this study was to see life satisfaction in early adults who like to tidy up rooms or things. The approach used in this research is a quantitative approach with a descriptive method. The sampling technique used is non-probability sampling using an online survey to collect data. The measuring instrument used is the Satisfaction with Life Scale (SWLS) by Diener, et al. (1985). Participants in this study revealed 113 criteria aged 18-39 years who like to tidy up rooms or things. The data analysis technique used is independent sample t-test and one way ANOVA with SPSS 24 software. The results of this study indicate that as many as 65 (57%) participants who like to tidying up tend to feel satisfied with their lives. In an additional analysis conducted, it shows that the intensity of the individual in tidying, job status, income and expenses per month owned are factors in one's life satisfaction
Hardiness dan Burnout pada Petugas Penyidik Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) A. Eka Septilla; Nadya Syifa Maryanti
Jurnal Ilmiah Psikologi MIND SET Vol 10 No 02 (2019): Desember
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Pancasila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35814/mindset.v10i02.1224

Abstract

This study examines the role of hardiness on burnout in Indoensian national police investigators. 142 Indonesian national police investigators age 25-40 years old were collected using the Maslach Burnout Inventory (MBI) and Occupational Hardiness Questionnaire. Both of the measuring instruments were valid with a reliability of 0.70-0.75. The research method was a non-experimental, quantitative method. All data were analyzed using correlational technique which showed that individuals with higher hardiness score tends to have low burnout score. The results indicated that hardiness has a contribution of 67.3% to burnout, while the rest was contributed by other factors. Therefore, hardiness is one of the personalities that must be possessed by Indonesian national police investigators.
Hubungan Religiusitas dengan Kesehatan Mental pada Populasi Dewasa Muda Muslim di Indonesia Bagas Rahmatullah; Cindy Febriani Thalia; Angga Adi Saputra; Adelia Nurul Aulia Basar; Andi Eka Septilla
Jurnal Ilmiah Psikologi MIND SET Vol 14 No 02 (2023): Desember
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Pancasila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35814/mindset.v14i02.4895

Abstract

Religiosity is often associated with the good and bad condition of an individual's mental health so a lot of negative stigma arises on mental health issues. This study aims to scientifically prove the relationship between religiosity and mental health. This research method uses a quantitative method with an accidental sampling technique. To measure religiosity, the Muslim Religiosity Scale was used and to measure mental health, the Depression, Anxiety, Stress Scale 21 (DASS-21) was used. This study involved 133 participants from 13 provinces in Indonesia with 19.50% male participants and 80.50% female participants. Based on the results of the Paired Sample T-test, the results showed that there was no significant relationship between religiosity and the symptoms of mental health disorder, the correlation of religiosity and depression with r = -0.42; p > 0.05, with anxiety r = -0.29; p > 0.05, and with stress r = -0.36; p > 0.05. Based on the results of the study, we can interpret that the individual mental health aspect does not have a significant relationship with the high or low level of religiosity.
Evaluasi Psikometrik Mental Health Inventory (MHI)-38 Pada Mahasiswa: Analisis Faktor Eksploratori Dan Konfirmatori Serta Invariansi Berdasarkan Gender Septilla, Andi Eka; Dharma, Andri Setia; Rahma, Elsa Maulida; Harlee, Jardyre Alvianise; Syahla, Kyla; Nindyati, Ayu Dwi
Inquiry: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 16 No 1 (2025): Kesejahteraan Psikologis Lintas Konteks
Publisher : Universitas Paramadina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51353/inquiry.v16i1.1038

Abstract

Abstrak Mental Health Inventory (MHI)-38 merupakan alat ukur yang dikembangkan untuk mengetahui kondisi kesehatan mental individu melalui aspek psychological well-being dan psychological distress. Penelitian ini bertujuan untuk menguji struktur faktor dan menilai kestabilan model antar kelompok berdasarkan gender alat ukur MHI-38 versi adaptasi Indonesia pada populasi mahasiswa melalui pendekatan Exploratory Factor Analysis (EFA), Confirmatory Factor Analysis (CFA), dan Multigroup Confirmatory Factor Analysis (MG-CFA). Sebanyak 422 mahasiswa aktif berusia 18–25 tahun dilibatkan dalam penelitian ini dengan menggunakan teknikinsidental dan snowball. Hasil analisis EFA menunjukkan bahwa dua faktor utama pengukuran yang terdiri dari psychological well-being dan psychological distress, sesuai dengan struktur teoretis. Namun, terdapat dua item, yaitu item nomor 14 dan 18, yang tidak sesuai dengan pemuatan faktor MHI-38. Kedua item ini diputuskan untuk tidak disertakan dalam analisis CFA dan MG-CFA. Selanjutnya, hasil analisis CFA dengan dua struktur faktor menunjukkan model fit yang dapat diterima. Selain itu, diketahui nilai AVE lebih besar dari 0.5 pada masing-masing dimensi mengindikasikan validitas konvergen yang baik. Lebih lanjut, hasil MG-CFA pada level configural, metric, dan scalar menunjukkan bahwa struktur model pengukuran bersifat invariance, sehingga dapat diterapkan secara konsisten baik pada kelompok mahasiswa laki-laki dan perempuan. Temuan ini menunjukkan bahwa MHI-38 versi adaptasi Indonesia memiliki struktur faktor yang baik untuk mengukur kondisi kesehatan mental mahasiswa, namun tetap diperlukan peninjauan lebih lanjut pada dua item, yaitu item nomor 14 dan 18, untuk memperoleh kesesuaian model pengukuran. Kata kunci: Kesehatan Mental; Mahasiswa; MHI-38; EFA; CFA; MG-CFA
HUBUNGAN THINKING STYLE DENGAN RESILIENSI MAHASISWA TINGKAT AKHIR YANG SEDANG MENGERJAKAN SKRIPSI Silvi Ersa Putri; Evanytha Evanytha; Andi Eka Septilla
Jurnal Psimawa : Diskursus Ilmu Psikologi dan Pendidikan Vol 9 No 1 (2026): EDISI 15
Publisher : Prodi Psikologi- Fakultas Psikologi & Humaniora - Universitas Teknologi Sumbawa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36761/jp.v9i1.7354

Abstract

This study aims to analyze the relationship between thinking styles and resilience among university students working on their undergraduate thesis. The research involved 123 students from semesters 7 to 14 who were actively writing their thesis. A quantitative approach was used, with data analysis conducted through normality, validity, reliability, and correlation tests, assisted by SPSS version 23. The data collected were numerical, illustrating the relationship between thinking styles and resilience. The result showed a significant correlation between the thirteen types of thinking styles and students’ resilience levels. Among these, the four most dominant thinking styles identified were legislative, monarchical, executive, and liberal. These findings suggest that certain thinking styles may influence an individual’s level of resilience, particularly in facing academic challenges during the thesis writing process.