Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Penatalaksanaan Holistik Infeksi Dengue pada Pria Pra Lansia dengan Pengetahuan Preventif Kurang Melalui Pendekatan Kedokteran Keluarga Annisa Yulida Syani; Sahab Sibuea
MAJORITY Vol 9 No 2 (2020): MAJORITY
Publisher : Majority

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dengue Fever (DF) and Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) are diseases transmitted through Aedes sp. This infection in tropical and subtropical climates. Prevention with hygiene and healthy living habits and maintaining a clean environment. Family doctors is important to treating sufferres, doctors must pay attention to the environment and daily behavior of sufferers and their families that have an impact on the recurrence process or spread of dengue disease. This study was to identify risk factors to management based on a problem solving framework through a family medicine approach. Primary data by history taking, physical examination and home visits. Secondary data from patient medical records. Assessment based on a holistic diagnosis in a qualitative and quantitative. The results is functional grade 2 patients with DHF, internal risk factors namely lack of knowledge about the disease and prevention. External risk factors are piles of goods next to the patient's house and piles of clothes in the house that are not arranged, wells and bathtubs in the house that are not closed. Intervention by counseling regarding dengue disease with hygiene and healthy live habits. Evaluation, there has been a slight change in behavior where patients, families and local residents do Burying, Draining, and Closing. Conclusion is that clinical problems in patients require attention in changing hygiene and healthy living behavior which takes time to get a change. Health workers are tasked with solving clinical problems ,finding, and providing solutions to problems in the environment that affect the health of all.
Resistensi Insektisida pada Aedes aegypti Sutarto Sutarto; Annisa Yulida Syani
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 5 No. 02 (2018): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Persebaran penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) yang disebabkan oleh vi rus dan ditularkan melalui perantara nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus semakin meningkat. Nyamuk Ae. aegypti ini hidup dan berkembang dengan baik di daerah tropis yaitu pada garis isotermis 200 yang terletak di antara 450 LU dan 350 LS dengan ketinggian kurang d ari 1000 meter di atas permukaan laut. Penyakit DBD mengalami perkembangan kejadian yang cepat. Setiap tahunnya diperkirakanterjadi sekitar l ima puluh juta kasus infeksi DBD baru dengan angka kematian di atas 20.000 jiwa. Tujuh puluh persen dari seluruh populasi dunia yang berisiko terhadap DBD tinggal di area Asia Tenggara dan wilayah Pasifik Barat. World Health Organi zation (WHO) menetapkan Indonesia sebagai negara dengan kasus DBD tertinggi di Asia Tenggara. Pengendalian DBD terutama ditujukan untuk memutus rantai penularan, antara lain den gan pengendalian vektorn ya. Pembasmian vektorpenyakit ini dilakukan dengan penggunaan insektisida. Di Indonesia penggunaan insektisida seperti malathion dari tahun 1972 dan Temephos dari tahun 1976 mengakibatkan kemungkinan terjadinya resistensi, begitu p ula pada jenis insektisida jenis lainnya. Umumnya penggunaan insektisida kimia, secara bertahap akan menimbulkan masalah teknis (munculnya strain baru yang tolerasnsi dan resistensi terhadap senyawa tersebut). Frekuensi dan durasi dari penggunaan pestisida jugasangat berpengaruh terhadap mekanisme terjadinya resistensi dari insektisida.Kata kunci: Aedes aegypti, insektisida, resistensi insektisida