This Author published in this journals
All Journal Kalpataru Amerta
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

BINA KAWASAN DI NEGERI BAWAH ANGIN: DALAM PERNIAGAAN KESULTANAN BANTEN ABAD. KE-15--17 Sonny C. Wibisono
KALPATARU Vol. 22 No. 2 (2013)
Publisher : Badan Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This paper gives attention to an area called “the land below the wind”. As is well understood by historians, the area is part of a trade network between Southeast Asian population that successfully marked economic growth and civilization in the region in 15-17 centuries CE. The broadness of coverage and intelligibility of this area raises questions on how to achieve it. Realm of historical archaeological study of this period, which is expected to make sense of this era, has not really aimed revealing it, despite the considerable amount of research carried out on site. Research synthesis, which departed from the state of sultans as part of the region, is considered a way that can be used to achieve it. Affairs of the Sultanate of Banten, which has been studied quite a lot in terms of history and archeology, are used as a case to see how the commercial region in this country was built by the sultans through their economic-political strategy. Regional development strategy of the Sultanate was done through territorial conquest, relocation of the capital city from the interior to the coast, the development of the port city of Banten Lama, reinforcement and expansion of the area of pepper, a new urban development, and revitalization of agriculture in Tirtayasa region Tulisan ini memberi perhatian pada sebuah kawasan yang disebut “tanah di bawah angin”. Seperti sudah dipahami sejarawan, kawasan yang dimaksud merupakan jalinan niaga antar penduduk Asia Tenggara yang berhasil menandai pertumbuhan ekonomi dan peradaban di kawasan ini pada abad ke-15--17. Luasnya cakupan dan kejelasan wilayah ini menimbulkan soal untuk mencapainya. Ranah studi arkeologi sejarah dari masa ini, yang diharapkan dapat memaknai zaman ini, belum cukup diarahkan untuk mengungkapkannya, meskipun sudah cukup banyak penelitian situs dilakukan. Penelitian sintesis yang bertolak dari negeri para sultan sebagai bagian dari kawasan ini merupakan cara yang dipandang dapat digunakan untuk mencapainya. Negeri Kesultanan Banten yang sudah cukup banyak diteliti dari segi sejarah dan arkeologi digunakan sebagai kasus untuk melihat bagaimana kawasan niaga di negeri ini dibangun oleh para sultan melalui strategi politik ekonomi mereka. Upaya bina kawasan Kesultanan ini antara lain dilakukan mulai dari penguasaan wilayah, pemindahan ibu kota dari pedalaman ke pesisir, pengembangan kota pelabuhan Banten Lama, penguatan dan perluasan wilayah lada, pembangunan kota baru dan revitalisasi pertanian di wilayah Tirtayasa.
ARKEOLOGI NATUNA : KORIDOR MARITIM DI PERAIRAN LAUT CINA SELATAN Sonny C. Wibisono
KALPATARU Vol. 23 No. 2 (2014)
Publisher : Badan Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

One of the interesting historical episodes to be observed during the period of growth and development of Śrīvijaya is the long distance commercial activity. Chinese chronicles quite clearly note that the kingdom’s headquarters in Sumatera has sent more than twenty commercial missions to China between 10th–13th Century, and vice versa. The waters of the South China Sea region were more and more intensively sailed at that time. The focus of attention in this paper is the study of archeology in the archipelago, especially in the South China Sea, which is worth to be studied in search of the path of long-distance commerce between China and the archipelago, especially in relationto the Śrīvijaya period. In addition to the ports along the coast of Mainland Southeast Asian continent, in fact there are many small islands that were likely to be a “stepping stone” in the course of trade which have escaped the attention, such as Paracel Islands, Spratley, Anambas, and Natuna. Natuna Islands is one of a cluster of small islands facing the South China Sea, occupying a crossing place into the waters of Malacca, Sumatera, and Borneo. In this paper will be presented archaeological evidence, the results of the survey and excavation in Natuna during 2012-2014, including data on the site and artifacts. Ceramics as an indicator of commerce is specially analyzed (both qualitatively and quantitatively) for comparison. Salah satu episode sejarah yang menarik untuk dicermati selama masa pertumbuhan dan perkembangan Śrīwijaya adalah berlangsungnya kegiatan niaga jarak jauh. Dalam kronik Cina cukup jelas dicatat, kerajaan yang pusatnya di Sumatera ini, telah mengirimkan lebih dari dua puluh misi perniagaan ke Cina antara abad ke-10-13 M., demikian pula sebaliknya. Kawasan perairan Laut Cina Selatan, merupakan jalur yang semakin intensif dilalui pada masa itu. Permasalahan yang menjadi fokus perhatian dalam tulisan ini tentang studi arkeologi di wilayah kepulauan khususnya di Laut Cina Selatan yang dipandang patut diteliti untuk menelusur jejak jalur perniagaan jarak jauh antara Cina dan Nusantara, terutama hubungannya dengan masa Śrīwijaya. Di samping penelitian terhadap bandar-bandar di sepanjang pantai Benua Asia Tenggara Daratan, pada kenyataan banyak kepulauan kecil yang sangat mungkin menjadi “batu loncatan” dalam perjalanan niaga yang selama ini luput dari perhatian seperti Kepuluan Paracel, Spratley, Anambas, dan Natuna. Pulau ini merupakan salah satu gugusan pulau-pulau kecil yang berhadapan dengan Laut Cina Selatan, menempati posisi persilangan jalur untuk memasuki perairan Malaka, Sumatera, dan Kalimantan. Dalam tulisan ini akan disajikan bukti-bukti arkeologis, dari hasil survei dan ekskavasi Natuna tahun 2012-2014, termasuk data situs dan artefaktual. Keramik sebagai indikator perniagaan dianalisis khusus (kualitatif dan kuantitatif) untuk perbandingan.
IRIGASI TIRTAYASA : TEKNIK PENGELOLAAN AIR KESULTANAN BANTEN PADA ABAD KE-17 M Sonny C. Wibisono
AMERTA Vol. 31 No. 1 (2013)
Publisher : Badan Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Tulisan ini menyajikan hasil penelitian arkeologi yang mengungkap sisi agraris dariKesultanan Banten, berdasarkan peninggalan irigasi dari abad ke 17. Tercatat dalam sejarah bahwasebuah rekayasa dilakukan untuk membangun tata air dalam skala besar untuk pertanian intensifdi pesisir Banten. Pembangunan itu diprakarsai Sultan Ageng yang bergelar Tirtayasa. Melaluipendekatan excavasi bukti-bukti jejak hidro-arkeologi ditemukan kembali, tersebar di antara SungaiCiujung, Sungai Cidurian dan Sungai Cipasilihan. Ragam peninggalan antara lain berupa bekaskanal-kanal, tanggul buatan, jembatan, pintu air, dan bangunan pengontrol air. Pendekatan adaptasimanusia dan lingkungan digunakan untuk menjelaskan kemampuan teknik membangun tata air, yangmerupakan tindakan dan konsekuensi dari upaya mengatasi problem situasi lingkungan setempat, dan menyatukannya dalam sebuah sistem besar. Rekayasa teknologi hidrolika ini, diselenggarakan untuk mendukung kebutuhan pangan. Bukti-bukti itu, menunjukan ketangguhan rekayasa pengelolaan tataair, pada masa itu.Kata Kunci: Kesultanan Banten, Sultan Ageng Tirtayasa, Teknologi, Pertanian, Irigasi. Abstract. Irrigation of Tirtayasa: Water Management Technique of the Sultanate of Banten in the17th century. This paper presents the results of archaeological research that revealed the agriculturalsideview of the Sultanate of Banten, based on the findings of the irrigation features of the 17th century.It has been recorded in history that an engineering done to build a water management system in alarge scale for intensive agricultural purposes in the coastal region of Banten. The opening of theagricultural land was initiated by Sultan Ageng also known epithet of honor as Tirtayasa. Varietyof finding features include former canals, artificial embankments, bridges, water gates and watercontrol building. Human adaptation and environmental approaches used to describe the ability ofthe technology to build the water system, which is an actions and consequences of efforts to solveproblems of the local environmental situation, then put it together in a large system. The hydraulicsengineering, held in support of food security. All the evidence, showing toughness engineered watermanagement system, at that timeKeywords: Sultanate of Banten, Sultan Ageng Tirtayasa, Technology, Agriculture, Irrigation.