This Author published in this journals
All Journal Kalpataru Amerta
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

KARAKTERISTIK SITUS PESISIR DI KECAMATAN KUMAI, KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT Sunarningsih
KALPATARU Vol. 24 No. 2 (2015)
Publisher : Badan Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The regency of West Kotawaringin, which is located in Central Kalimantan province, has coastal areas, precisely in the south, which is directly adjacent to the Java Sea. Its strategic position seems very influential on the development of culture in this area. The opportunity to interact with the outside world becomes very possible. The existence of archaeological sites on the coast became very interesting to be studied further. This article discusses the characteristics of the sites. The method used in this article is inductive reasoning and an explanatory descriptive. Archaeological data were obtained from archaeological survey in 2014. It can be concluded that the coastal sites were not only served as dwelling places from 13 - 14 AD to present, but also played an important role in trading activities with abroad, as well as having strong links with archaeological sites in the hinterland. Kabupaten Kotawaringin Barat yang berada di Provinsi Kalimantan Tengah memiliki kawasan pesisir, tepatnya di sebelah selatan, yang berbatasan langsung dengan Laut Jawa. Posisi yang strategis tampaknya sangat berpengaruh terhadap perkembangan kebudayaan di daerah tersebut. Kesempatan untuk dapat berinteraksi dengan dunia luar menjadi sangat mungkin. Keberadaan situs arkeologi di pesisir menjadi sangat menarik untuk dikaji lebih lanjut. Tulisan ini ditujukan untuk mengetahui karakteristik situs tersebut. Metode penelitian bersifat deskriptif eksplanatif dengan penalaran induktif. Data arkeologi yang digunakan merupakan hasil survei arkeologi pada tahun 2014. Hasil survei menemukan adanya beberapa kelompok temuan yang berada di wilayah Desa Sebuai dan Desa Pendulangan, dengan keramik sebagai temuan terbanyak. Berdasarkan hasil analisis artefaktual dan lingkungan, sintesa dan interpretasi menunjukkan bahwa situs di pesisir tersebut, selain sebagai tempat hunian dari abad ke-13 - 14 hingga sekarang, juga memegang peranan penting dalam aktivitas perdagangan dengan daerah luar, serta mempunyai keterkaitan yang erat dengan situs arkeologi di daerah pedalaman.
KERUSAKAN SITUS ARKEOLOGI DI KALIMANTAN SELATAN: DAMPAK NEGATIF AKIBAT KEGIATAN MASYARAKAT DAN PEMERINTAH DAERAH Sunarningsih
AMERTA Vol. 31 No. 2 (2013)
Publisher : Badan Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Seperti halnya di daerah lain di Indonesia, jumlah situs-situs arkeologi di wilayah KalimantanSelatan terbilang cukup banyak. Ada dua jenis situs di wilayah Kalimantan Selatan ini, yaitu situstertutup dan situs terbuka. Kedua jenis situs tersebut sudah ada yang diteliti secara intensif ada juga yangbelum, dan sebagian sudah ditetapkan menjadi Benda Cagar Budaya (BCB). Fenomena yang terjadipada saat ini adalah masih terjadi aktivitas yang merusak wilayah situs baik yang sudah dilindungimaupun yang belum. Kegiatan tersebut dilakukan baik oleh masyarakat umum di lingkungan situsmaupun atas kebijakan pemerintah daerah setempat. Makalah ini bertujuan untuk melihat kembalikerusakan situs-situs arkeologi di wilayah Kalimantan Selatan akibat dampak negatif dari aktivitasmasyarakat, dan berusaha mendapatkan strategi untuk mengurangi kegiatan yang merugikan. Metodeyang digunakan adalah deskriptif dengan pendekatan induktif. Data dikumpulkan dari hasil studipustaka, yaitu dari laporan yang tersimpan di perpustakaan Balai Arkeologi Banjarmasin, dan darihasil pengamatan penulis saat melakukan penelitian arkeologi. Berdasarkan hasil analisis darimasing-masing kasus, dapat diketahui bahwa kebutuhan ekonomi masyarakat dan pembangunanoleh pemerintah daerah yang banyak mendorong terjadinya kerusakan situs. Aktivitas yang merusakdilakukan karena masih rendahnya pemahaman akan pentingnya sebuah situs purbakala dan masihlemahnya penerapan sangsi terhadap pelanggaran Undang-undang Cagar Budaya.Kata kunci: Situs terbuka, Situs tertutup, Kalimantan Selatan, Benda Cagar Budaya, Undang-undangCagar Budaya. Abstract. The Damage of Archaeological Sites in South Kalimantan: The Negative Impact dueto Community and Local Government Activities. As in other areas in Indonesia, the number ofarchaeological sites in South Kalimantan region are quite a lot. There are two types of sites inSouth Kalimantan region, closed site and open site. Both types have already been investigatedintensively and others only were surveyed with the aim to determine its potential. Some open siteshave already designated as protected areas (as cultural property) and some others have not. Theoccurrence phenomenon is that looting of sites occur either at protected sites or not protected sites.These activities are carried out not only by the general public at surrounding the site but also by thediscretion of local government. This paper aims to review the damage to archaeological sites in SouthKalimantan due to the negative impact of human activity, and tries to work on strategies which willreduce the impacts. The research method used is descriptive with inductive approach. Data have beencollected from the literature, from the report stored in the library of the Archaeological Institute ofBanjarmasin, and from observations of the author while doing archaeological research. Based onthe analysis of each case, it can be seen that the economic needs of society and development by localgovernments encouraging some damages of the sites. The activities were done because there is stilllack of understanding how important the archaeological sites, and the weak application of sanctionsfor The Heritage Act.Keywords: Open sites, Closed sites, South Kalimantan, The Cultural Heritage, The Heritage Act.