Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Comparison of Silkworm Farming Business Income (Bombyx Mori L.) Herawaty Herawaty; Andi Asikin Muchtar; Akrimah Akrimah; Nurul Muklisahah; Faizah Mahi
Agribusiness Journal Vol 6, No 2 (2023): Agribusiness Journal
Publisher : UNIVERSITAS SEMBILANBELAS NOVEMBER KOLAKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31327/aj.v6i2.2065

Abstract

South Sulawesi is still the largest producer of natural silk in Indonesia, although processing is still conventional. It is becoming an important trading center and an important non-timber forest product resource. This type of research is quantitative research, the data sources used are primary data and secondary data, with a population of silkworm rearing farmers located in Salojampu Village, Wajo Regency and Pising Village, Soppeng Regency. The results showed that silkworm farming in Salojampu Village, Wajo Regency, had the smallest income of Rp 183,667 per production cycle, while Pising Village, Soppeng Regency, had the largest income of Rp 311,333 per production cycle. Both farmer groups earned a total of IDR 495,000, with an average total income of IDR 247,500 per silkworm production cycle.
Synergy of Ecotourism Strategy, Conservation Awareness, and Social Participation in Supporting Forest Conservation and Ecological Stability Asjulia Asjulia; Herawaty Herawaty; Dian Mitrnawaty Sultan; Putri Alifiah
Jurnal Wasian Vol. 13 No. 01 (2026): June
Publisher : Forestry Department, University of Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62142/3pfzrr19

Abstract

The Battang forest area in Palopo City faces ecological sustainability challenges due to pressure from human activities and low conservation awareness. Therefore, an integrated management approach combining ecotourism strategies, conservation awareness, and social participation is required to support forest conservation and ecological stability. This study aims to analyze the integrated role of ecotourism strategies, conservation awareness, and social participation in supporting forest conservation and ecological stability in the Battang area. The study used a quantitative approach with a survey method of 280 respondents consisting of members of forest farmer groups, local tourism actors, traditional leaders, and communities around the forest area. Data were analyzed using Structural Equation Modeling (SEM) to examine the relationships among variables. The results showed that conservation awareness (p = 0.000) and social participation (p = 0.000) significantly influenced forest conservation, while ecotourism strategies did not significantly influence (p = 0.193). However, all three independent variables significantly influenced ecological stability, with social participation as the most dominant factor (p = 0.000). The R² values of 0.779 for forest conservation and 0.810 for ecological stability indicate strong model predictive power. The findings indicate that conservation awareness and community participation are key drivers of forest conservation and ecological stability. Furthermore, the effectiveness of ecotourism initiatives depends strongly on social support and the presence of conservation-oriented values that encourage sustainable and non-exploitative resource use.
Potensi Objek Daya Tarik Wisata Alam (ODTWA) di Desa Benteng Gajah Kabupaten Maros Ismail Ismail; Dea Ekaputri Andraini; Herawaty Herawaty; Najma Ilmiawati Asiz; Putri Alifiah; Muh Izzul Muslimin Syah
Jurnal Kehutanan dan Lingkungan Vol. 2 No. 1 (2025): Mei
Publisher : Program Studi Kehutanan Fakultas Pertanian Universitas Islam Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59638/ecoforest.v2i1.63

Abstract

Desa Benteng Gajah, yang terletak di Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Maros, merupakan salah satu desa yang telah ditetapkan sebagai desa wisata rintisan sejak tahun 2021. Desa ini memiliki kekayaan bentang alam seperti perbukitan, sungai, air terjun musiman, serta lahan pertanian dan perkebunan yang menyatu dengan permukiman warga. Namun demikian, potensi tersebut belum sepenuhnya dimanfaatkan secara optimal dalam pengembangan pariwisata berbasis alam. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis potensi Objek Daya Tarik Wisata Alam (ODTWA) di Desa Benteng Gajah berdasarkan enam kriteria: daya tarik, aksesibilitas, kondisi sosial ekonomi sekitar kawasan, akomodasi, sarana dan prasarana, serta ketersediaan air bersih. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif, dengan pengumpulan data primer melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, serta data sekunder melalui studi literatur. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling dan accidental sampling untuk responden wisatawan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Desa Benteng Gajah memiliki dua site wisata utama yakni Bulu Saukang dan Wisata Alam Bukit Bahagia. Keduanya memiliki karakteristik lanskap dan daya tarik yang berbeda namun saling melengkapi Bulu Saukang unggul dalam aspek petualangan dan pemandangan perbukitan, sedangkan Bukit Bahagia lebih bersifat rekreatif untuk keluarga. Secara umum, Desa Benteng Gajah memiliki potensi wisata alam yang tinggi dan layak dikembangkan secara berkelanjutan. Pengembangan ini perlu dilakukan dengan pendekatan berbasis komunitas dan dukungan perencanaan terpadu dari berbagai pemangku kepentingan.
Potensi Simpanan Karbon Tanah Dan Biomassa Vegetasi Di Ekosistem Karst Pattunuang Harlina harlina; Herawaty herawaty; Akhmad Kurnia
Jurnal Food And Forest Vol. 4 No. 2 (2026): JULI 2026
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Indonesia Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36090/jfaf.v4i2.1589

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi simpanan karbon tanah dan biomassa vegetasi pada ekosistem karst di Pattunuang, serta menganalisis hubungan antara kondisi vegetasi dengan kandungan karbon tanah. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli 2025 di tiga tipe penutupan lahan, yaitu hutan karst primer (HR1), hutan sekunder (HR2), dan semak belukar (HR3). Setiap lokasi pengamatan dibuat plot berukuran 20 × 20 meter untuk analisis vegetasi dan pengambilan sampel tanah komposit pada kedalaman 0–30 cm. Hasil penelitian menunjukkan simpanan karbon vegetasi tertinggi terdapat pada HR1 sebesar 96,7 ton C/ha, diikuti HR2 sebesar 60,3 ton C/ha, dan HR3 24,8 ton C/ha. Kandungan karbon tanah menunjukkan pola yang sejalan, dengan nilai tertinggi pada hutan primer sebesar 26,1 ton C/ha, hutan sekunder 9,9 ton C/ha, dan semak belukar 4,5 ton C/ha. Hubungan antara biomassa vegetasi dan karbon tanah menunjukkan korelasi positif, di mana peningkatan tutupan vegetasi berkontribusi terhadap tingginya akumulasi bahan organik dalam tanah. Secara keseluruhan, total potensi simpanan karbon pada hutan karst primer mencapai 122,8 ton C/ha. Total potensi cadangan karbon mencapai lebih dari 5,3 juta ton C atau setara dengan 19,5 juta ton CO₂ yang tersimpan di dalam ekosistem. Hasil ini menunjukkan bahwa ekosistem karst Pattunuang memiliki peran penting sebagai penyerap karbon alami (carbon sink) serta mendukung upaya mitigasi perubahan iklim melalui pengelolaan dan pelestarian vegetasi alami.