Muhammad Farid Ilhamuddin
Universitas Negeri Surabaya, Indonesia

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Pengalaman Santriwati Kelas XI sebagai Peer Mentoring dan Dampaknya terhadap Psychological Well Being Aisyah Maulani Niken Cahyanti; Muhammad Farid Ilhamuddin
Journal of Education and Teaching Learning Vol 8 No 2 (2026): Journal of Education and Teaching Learning (JETL)
Publisher : CV. Pusdikra Mitra Jaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51178/jetl.v8i2.3445

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh peran santriwati kelas XI di Pondok Pesantren Al-Amanah Junwangi yang tidak hanya menjalankan tugas organisasi, tetapi juga berperan sebagai pendamping bagi santriwati junior melalui praktik peer mentoring. Peran tersebut menghadirkan berbagai dinamika psikologis yang berpotensi memengaruhi kesejahteraan psikologis (psychological well-being) santriwati. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap pengalaman santriwati kelas XI sebagai peer mentor serta kontribusinya terhadap psychological well-being di lingkungan pesantren. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain fenomenologi. Partisipan penelitian terdiri atas lima santriwati kelas XI yang berperan sebagai pengurus organisasi santriwati. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam semi-terstruktur dan observasi, kemudian dianalisis menggunakan analisis tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengalaman sebagai peer mentor memberikan kontribusi positif terhadap kesejahteraan psikologis santriwati. Melalui proses membimbing junior, santriwati mengalami peningkatan kepercayaan diri, tanggung jawab, kemampuan mengelola emosi, serta keterampilan membangun hubungan interpersonal yang positif. Pengalaman tersebut juga mendukung perkembangan enam dimensi psychological well-being, yaitu self-acceptance, positive relations with others, autonomy, environmental mastery, purpose in life, dan personal growth. Selain itu, peran sebagai peer mentor turut mendukung pemenuhan kebutuhan psikologis dasar berupa autonomy, competence, dan relatedness. Penelitian ini menyimpulkan bahwa peer mentoring merupakan sarana pembelajaran sosial yang mendukung perkembangan diri dan kesejahteraan psikologis santriwati. Temuan ini mengimplikasikan pentingnya penguatan program peer mentoring sebagai bagian dari pembinaan dan pengembangan karakter santriwati di lingkungan pesantren.
Gambaran Kesejahteraan Psikologis pada Santri Korban Bullying Di Pondok Pesantren X Kota Surabaya Genya Mardha Putri; Muhammad Farid Ilhamuddin
Journal of Education and Teaching Learning Vol 8 No 2 (2026): Journal of Education and Teaching Learning (JETL)
Publisher : CV. Pusdikra Mitra Jaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51178/jetl.v8i2.3446

Abstract

Pesantren sebagai lembaga pendidikan berbasis asrama memiliki intensitas interaksi sosial yang tinggi, yang di satu sisi mendukung pembentukan karakter, namun di sisi lain berpotensi memunculkan dinamika negatif seperti bullying. Fenomena ini menjadi perhatian karena dapat berdampak pada kesejahteraan psikologis santri, terutama bagi korban yang mengalami tekanan secara berulang dalam lingkungan sosialnya. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan kesejahteraan psikologis pada santri korban bullying di Pondok Pesantren X Kota Surabaya. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan desain fenomenologi, di mana data dikumpulkan melalui wawancara mendalam terhadap beberapa santri yang memiliki pengalaman sebagai korban bullying. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, kategorisasi, dan penarikan kesimpulan untuk memahami makna pengalaman subjek secara menyeluruh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa korban bullying mengalami berbagai dampak psikologis seperti penurunan kepercayaan diri, perasaan takut, kecenderungan menarik diri, serta kesulitan dalam menjalin hubungan sosial. Namun demikian, beberapa santri juga menunjukkan adanya proses pemulihan melalui penerimaan diri, dukungan sosial, dan penguatan nilai religius yang membantu meningkatkan kesejahteraan psikologis mereka. Kesimpulannya, bullying memiliki dampak signifikan terhadap kesejahteraan psikologis santri, namun proses adaptasi dan dukungan lingkungan berperan penting dalam pemulihan. Implikasi penelitian ini menekankan pentingnya peran pesantren dalam menciptakan lingkungan yang aman serta menyediakan layanan pendampingan psikologis bagi santri korban bullying.
Makna Kesejahteraan Psikologis bagi Santri Minoritas Bahasa di MTS Al-Azhar Menganti Gresik Hanim Masruroh; Muhammad Farid Ilhamuddin
Journal of Education and Teaching Learning Vol 8 No 2 (2026): Journal of Education and Teaching Learning (JETL)
Publisher : CV. Pusdikra Mitra Jaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51178/jetl.v8i2.3447

Abstract

Perbedaan bahasa dan dialek di lingkungan pesantren dapat menjadi tantangan bagi santri yang berasal dari daerah berbeda. Kondisi sebagai kelompok minoritas bahasa berpotensi menimbulkan hambatan komunikasi, kesulitan beradaptasi, serta memengaruhi kesejahteraan psikologis santri. Penelitian ini bertujuan untuk memahami makna kesejahteraan psikologis pada santri minoritas bahasa di Pesantren Al-Azhar Menganti Gresik. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi. Partisipan penelitian berjumlah empat santri berusia 14 tahun yang berasal dari Makassar, Madura, dan Medan. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi, kemudian dianalisis dengan mengidentifikasi tema-tema esensial yang muncul dari pengalaman partisipan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada fase awal, perbedaan bahasa dan dialek menyebabkan rendahnya penerimaan diri, terbatasnya hubungan sosial, kesulitan dalam penguasaan lingkungan, berkurangnya orientasi tujuan hidup, serta terhambatnya pertumbuhan pribadi dan kemandirian. Setelah pelaksanaan psikoedukasi dan meningkatnya dukungan teman sebaya, para santri menunjukkan perkembangan positif pada seluruh dimensi kesejahteraan psikologis. Dukungan sosial dalam bentuk empati, bantuan komunikasi, kerja sama, dan motivasi belajar berperan penting dalam meningkatkan kepercayaan diri, kemampuan adaptasi, hubungan interpersonal, serta optimisme terhadap masa depan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kesejahteraan psikologis santri minoritas bahasa berkembang melalui proses adaptasi yang didukung oleh lingkungan sosial yang inklusif. Implikasinya, pesantren perlu mengembangkan program psikoedukasi dan penguatan dukungan sosial untuk menciptakan lingkungan yang menghargai keberagaman serta mendukung kesejahteraan psikologis seluruh santri.