Saedo Marbun ; Daniel
Sekolah Tinggi Teologi Mawar Saron Lampung

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Problematika Teodise Allah serta Implikasinya Terhadap PAK Saedo Marbun ; Daniel
MAWAR SARON: Jurnal Pendidikan Kristen dan Gereja Vol. 5 No. 1 (2022): Maret
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Mawar Saron Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62240/msj.v5i1.55

Abstract

Pertanyaan abadi yang masih relevan untuk masa kini adalah jika Allah itu ada, mengapa masih ada kejahatan dan penderitaan? Mengapa Ia tidak melindungi umat-Nya dari kejahatan dan penderitaan. Hal ini berdampak pada keraguan akan eksistensi Allah atau setidaknya keraguan akan keadilan Allah. Dimana letak keadilan Allah apabila orang-orang yang beriman kepada-Nya tetap saja merasakan kejahatan manusia atau penderitaan di dunia ini? Suatu paham untuk membela keadilan Allah disebut teodise. Pemahaman tentang teodise mendorong kita untuk kritis melihat eksistensi, kedaulatan, otoritas, kehadiran Allah meskipun dalam penderitaan dan situasi kejahatan. Ia bukanlah pencipta kejahatan. Namun Ia pun berdaulat penuh untuk memerangi kejahatan serta meniadakan penderitaan. Artikel ini bertujuan untuk menjawab isu-isu tentang keadilan Allah dalam kaitannya dengan eksistensi kejahatan dan penderitaan di tengah dunia masa kini. Melalui studi literatur/kepustakaan, penulis menelusuri teodise Allah yang kemudian dihubungkan dengan pendidikan agama Kristen. Pendidikan Agama Kristen harus mengajarkan hal-hal yang berkaitan dengan paham teodise antara lain: Tuhan itu Mahabaik, Mahatahu, Mahabenar dan Ia tidak menghendaki kejahatan di dunia. Namun, dosa telah merusak manusia dan dalam kedaulatan-Nya,[1] Tuhan mengijinkan dosa yang berimbas pada kejahatan dengan maksud dan tujuan ilahi yang tak dapat dipahami dengan keterbatasan manusia; Mengenai penderitaan, kita harus tetap menaruh kepercayaan kepada Tuhan sekalipun dalam penderitaan; Keadilan Allah bersifat mutlak dalam diri Allah. Manusia tidak bisa menilai keadilan Allah dengan standar manusia karena jika demikian, keadilan Allah hanya sebatas ruang pemahaman manusia dan yang terakhir adalah Allah bukanlah pembuat kejahatan.