Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Menggugah Rasa Nyata pada Lingkungan Virtual: Aplikasi Material Virtual pada Museum Real-Virtual Pande Kadek Ariati Citadewi; Arina Hayati; Asri Dinapradipta
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 11 No 1 (2024): April 2024
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JRS.2024.v11.i01.p09

Abstract

In this digital era, museum as an institution increasingly incorporates virtual technology into their exhibitions and architectural elements. The application of virtual materials in museums allows sensory variations that enrich visitors’ experience. A sense of realness needs to be considered in a museum environment, with virtual materials as its constituent elements that can arouse the emotional involvement of visitors. This paper investigates virtual materials’ applications and a sense of realness qualities in real-virtual museum architecture. It employs a qualitative research strategy with in-depth interviews and precedent studies used as data collection techniques and content analysis as its analyzing method. Study results show that the principle of immersion to arouse a sense of realness in a real-virtual museum environment includes sensory richness, interaction, and coherence. Integrating real-virtual elements can be carried out within architectural formal and spatial elements’ design. Integration with architectural formal elements includes using interactive surfaces and surface projections, while integration with architectural spatial elements includes the application of motion and audio sensors. These integrations can be implemented in architectural design by isolating virtual devices from outdoor distractions like light, sound, humidity, and temperature.Keywords: immersion; materiality; museum; realness; real-virtual AbstrakDi era digital ini, museum sebagai sebuah institusi mulai menggunakan teknologi virtual pada konten pameran dan elemen arsitekturnya. Aplikasi material virtual dalam arsitektur museum memberikan kemungkinan variasi sensoris yang memperkaya pengalaman dari para pengunjung museum. Kualitas rasa nyata atau realness perlu dipertimbangkan dalam lingkungan atau ‘arsitektur’ dengan pemanfaatan material virtual sebagai elemen penyusunnya, sehingga arsitektur ini dapat menggugah keterlibatan pengunjung secara emosional. Paper ini bertujuan untuk merumuskan keterlibatan material virtual dan kualitas rasa nyata yang sebaiknya diaplikasikan pada arsitektur real-virtual museum. Tulisan ini menerapkan strategi penelitian kualitatif, dengan memilih wawancara mendalam sebagai teknik pengumpulan data, dan konten analisis sebagai metode analisisnya. Hasil studi menunjukkan bahwa prinsip immersion untuk menggugah rasa nyata pada lingkungan museum real-virtual meliputi kekayaan sensoris, interaktif, serta koheren. Integrasi material virtual dan elemen arsitektur dapat dilakukan dalam lingkup elemen formal dan ruang. Integrasi dengan elemen ruang meliputi penggunaan permukaan interaktif dan proyeksi permukaan, sedangkan integrasi dengan ruang meliputi aplikasi sensor gerak dan audio. Integrasi ini bisa diimplementasikan dalam desain arsitektur dengan mengisolasi perangkat virtual dari distraksi outdoor termasuk visual cahaya, suara, kelembapan, dan suhu dari ruang luar.Kata kunci: immersion; materialitas; museum; realness; real-virtual
Efektivitas edukasi dengan metode demonstrasi terhadap keterampilan remaja putri dalam melakukan sadari Mutia Aura Nazwa Assyfa; Fika Aulia; Anita Agustina; Arina Hayati
Jurnal Kebidanan Indonesia Vol 17, No 2 (2026): JULI
Publisher : STIKES Mamba'ul 'Ulum Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36419/jki.v17i2.1739

Abstract

ABSTRAKLatar Belakang: Kanker payudara merupakan salah satu masalah kesehatan utama pada perempuan dengan angka kejadian yang terus meningkat. Deteksi dini kanker payudara melalui pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) menjadi salah satu langkah penting untuk menurunkan risiko keterlambatan dalam diagnosis. Keterampilan remaja putri dalam melakukan SADARI masih tergolong rendah akibat masih kurangnya edukasi dan praktik secara langsung. Tujuan: Untuk menganalisis efektivitas edukasi dengan metode demonstrasi terhadap keterampilan remaja putri dalam melakukan SADARI. Metode: Menggunakan pendekatan kuantitatif dengan rancangan pre-eksperimental one group pre-test post-test design tanpa kelompok kontrol. Populasi penelitian adalah seluruh siswi kelas XI sebanyak 113 orang, dengan sampel sebanyak 53 responden yang dipilih menggunakan teknik simple random sampling. Instrumen penelitian berupa lembar observasi keterampilan SADARI dengan standar KEMENKES. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank-Test. Hasil: Menunjukkan terdapat peningkatan rata-rata keterampilan remaja putri dari sebelum dan sesudah intervensi, serta perbedaan yang bermakna antara nilai pre-test dan post-test (p<0,05). Simpulan: Edukasi dengan metode demonstrasi efektif meningkatkan keterampilan remaja putri dalam melakukan SADARI, sehingga direkomendasikan sebagai metode edukasi kesehatan di sekolah untuk mendukung deteksi dini kanker payudara sejak usia remaja.AbstractBackground: Breast cancer is one of the major health problems among women, with an incidence rate that continues to increase. Early detection through breast self-examination (SADARI) is an important strategy to reduce delayed diagnosis. However, the skills of adolescent girls in performing SADARI remain low due to limited education and lack of practice. Research Objective: To analyze the effectiveness of education using the demonstration method in improving SADARI skills among adolescent girls. Methods: A quantitative approach with a pre-experimental one-group pretest–posttest design without a control group was employed. The study population consisted of 11th-grade female students (n=113), with 53 respondents selected using simple random sampling. The research instrument was a SADARI skills observation sheet based on Ministry of Health standards. Data were analyzed using the Wilcoxon signed-rank test. Results: An increase in average skill scores after the intervention and a statistically significant difference between pretest and posttest scores (p<0.05). Conclusion: Education using the demonstration method is effective in improving adolescent girls’ skills in performing SADARI and is recommended as a school-based health education strategy to support early detection of breast cancer.