Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN STUNTING PADA BALITA USIA 24-59 BULAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS NGASEM KAB KEDIRI Meyrinda Tobing; Eko Winarti
Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 3 No. 12 (2023): Cerdika : Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/cerdika.v3i12.714

Abstract

Stunting merupakan suatu kondisi dimana terjadi gagal tumbuh pada anak balita (bawah lima tahun) disebabkan oleh kekurangan gizi kronis sehingga anak terlalu pendek untuk usianya. Target pemerintah dalam RPJMN tahun 2019 adalah sebesar 28%.Data status gizi balita Kabupaten Kediri tahun 2021 menyatakan bahwa anak kurang gii disebabkan oleh kekurangan makronutrisi yaitu karbohidrat, lemak, dan protein; atau mikronutrisi, yaitu vitamin dan mineral. Banyak faktor yang mempengaruhi ketidaktahuan orangtua, sosial ekonomi, kebersihan yang buruk, dan adanya penyakit penyerta dengan gizi kurus 12,5% sedangkan balita pendek (TB/U) sebesar 14,4%. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian stunting pada balita usia 24-59 bulan di wilayah kerja Puskesmas Ngasem Kabupaten Kediri. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif analitik observasional dengan desain case control. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh balita usia 24-59 bulan yang melakukan pemeriksan dan tercatat datanya di Puskesmas Ngasem. Jumlah Populasi pada penelitian ini adalah 1.433 balita, 251 sampel. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah random sampling dengan metode purposive sampling. Analisis bivariat menggunakan uji Chi-square. Hasil dalam penelitian ini adalah terdapat hubungan antara riwayat BBLR (p=0,000), riwayat pemberian ASI Eksklusif (p=0,000), riwayat pemberian MPASI (p=0,000), usia ibu saat hamil (p=0,001), usia kehamilan ibu (p=0,000), tinggi badan ibu (p=0,000), tinggi badan ayah (p=0,000), status gizi ibu saat hamil (p=0,000), jarak kelahiran (0,021), status pendidikan ibu (p=0,001) dan riwayat ISPA (0,000) dengan kejadian stunting pada balita usia 24-59 bulan di wilayah kerja Puskesmas Ngasem
Hubungan Anemia Pada Ibu Hamil di Trimester III dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) di Puskesmas Eimadake, Kabupaten Sabu Raijua Tahun 2024 Rini Nenobesi; Yudied Agung Mirasa; Eko Winarti
PubHealth Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol. 4 No. 3 (2026): Edisi Januari
Publisher : Ilmu Bersama Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56211/pubhealth.v4i3.1502

Abstract

Kehamilan pada usia yang tidak ideal dan kondisi anemia merupakan faktor penting yang dapat memengaruhi kesehatan ibu maupun bayi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran karakteristik umur ibu hamil trimester III, kejadian anemia, serta hubungannya dengan berat badan bayi lahir di Puskesmas Eimadake. Desain penelitian menggunakan pendekatan cross sectional dengan jumlah sampel sebanyak 34 responden yang dipilih secara purposive sampling. Data diperoleh melalui observasipencatatan rekam medis, kemudian dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas ibu hamil berada pada kelompok usia risiko tinggi (<20 tahun dan >35 tahun) yaitu sebanyak 85,3%, sedangkan hanya 14,7% yang berada pada usia aman (20–35 tahun). Prevalensi anemia cukup tinggi, ditemukan pada 67,6% responden. Sementara itu, sebagian besar bayi lahir dengan berat badan normal (88,3%), meskipun masih terdapat 11,7% kasus bayi berat lahir rendah (BBLR). Uji bivariat menunjukkan tidak ada hubungan yang bermakna antara anemia ibu hamil trimester III dengan berat badan bayi lahir (p=0,184). Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa sebagian besar ibu hamil berada pada kelompok usia risiko tinggi dan mengalami anemia, namun kondisi tersebut tidak terbukti berhubungan signifikan dengan kejadian BBLR. Pentingnya pemantauan kesehatan ibu hamil secara periodik guna memastikan persalinan yang baik dan mencegah komplikasi kehamilan segingga tercapai bayi yang lahir sehat.
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN STUNTING PADA BALITA USIA 24-59 BULAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS NGASEM KAB KEDIRI Meyrinda Tobing; Eko Winarti
Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 3 No. 12 (2023): Cerdika : Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/cerdika.v3i12.714

Abstract

Stunting merupakan suatu kondisi dimana terjadi gagal tumbuh pada anak balita (bawah lima tahun) disebabkan oleh kekurangan gizi kronis sehingga anak terlalu pendek untuk usianya. Target pemerintah dalam RPJMN tahun 2019 adalah sebesar 28%.Data status gizi balita Kabupaten Kediri tahun 2021 menyatakan bahwa anak kurang gii disebabkan oleh kekurangan makronutrisi yaitu karbohidrat, lemak, dan protein; atau mikronutrisi, yaitu vitamin dan mineral. Banyak faktor yang mempengaruhi ketidaktahuan orangtua, sosial ekonomi, kebersihan yang buruk, dan adanya penyakit penyerta dengan gizi kurus 12,5% sedangkan balita pendek (TB/U) sebesar 14,4%. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian stunting pada balita usia 24-59 bulan di wilayah kerja Puskesmas Ngasem Kabupaten Kediri. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif analitik observasional dengan desain case control. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh balita usia 24-59 bulan yang melakukan pemeriksan dan tercatat datanya di Puskesmas Ngasem. Jumlah Populasi pada penelitian ini adalah 1.433 balita, 251 sampel. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah random sampling dengan metode purposive sampling. Analisis bivariat menggunakan uji Chi-square. Hasil dalam penelitian ini adalah terdapat hubungan antara riwayat BBLR (p=0,000), riwayat pemberian ASI Eksklusif (p=0,000), riwayat pemberian MPASI (p=0,000), usia ibu saat hamil (p=0,001), usia kehamilan ibu (p=0,000), tinggi badan ibu (p=0,000), tinggi badan ayah (p=0,000), status gizi ibu saat hamil (p=0,000), jarak kelahiran (0,021), status pendidikan ibu (p=0,001) dan riwayat ISPA (0,000) dengan kejadian stunting pada balita usia 24-59 bulan di wilayah kerja Puskesmas Ngasem