Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Desain Komunikasi Visual Sebagai Media Branding Synchronize Fest 2018 Banon Gilang Muhamad Kali Ichsan
In Search (Informatic, Science, Entrepreneur, Applied Art, Research, Humanism) Vol 18 No 2 (2019): In Search
Publisher : LPPM UNIBI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37278/insearch.v18i2.699

Abstract

Musik sebagai seni auditori telah memiliki ciri fisik melalui kebudayaan visual yang dibentuk sepanjang sejarah. Synchronize Fest hadir dengan gagasan baru, yakni meleburkan sekat yang ada dalam setiap klaster genre musik. Layaknya setiap kebaruan, tentunya akan menghadapi masalah untuk merubah sebuah tren yang sebelumnya telah berdiri kokoh. Melalui kebudayaan visual yang berkembang bersama musik, peneliti mencoba menganalisa kebiasaan baru apa yang telah diciptakan oleh Synchronize fest melalui aspek visual branding. Metode penilitian yang akan digunakan meliputi metodologi penelitian kualitatif, observasi literatur dan wawancara kepada narasumber yang terlibat dalam perubahan tren festival musik tahan air. Hasil akhir penelitian ini akan mengungkap perubahan pola konsumsi festival musik melalui tren dari kebiasaan yang diciptakan selama tiga tahun penyelenggaran Syncronize Fest yang nantinya akan bermanfaat dalam aspek pembelajaran. Pada akhirnya kaitan antara musik dan visual tidak dapat dipisahkan pengaruhnya pada kebudayaan populer suatu bangsa, termasuk fenomena - fenomena sosial apa saja yang ada dalam sebuah kelompok masyarakat.
Pariwisata Kota: Pengkajian Dampak Mural Bermuatan Politik terhadap Wisatawan di Jalan Asia Afrika Bandung Banon Gilang Muhamad Kali Ichsan; Andrea Abdul Rahman Azzqy; Citra Kemala Putri
International Journal Of Humanities Education and Social Sciences (IJHESS) Vol 5 No 4 (2026): IJHESS FEBRUARY 2026
Publisher : CV. AFDIFAL MAJU BERKAH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55227/ijhess.v5i4.2121

Abstract

Political murals along Jalan Asia Afrika in Bandung reveal a narrative void: there is no public art that explicitly commemorates the 1955 Asian-African Conference. This study examines three main aspects: (1) the existence of visual gaps found in cultural heritage areas. (2) How political murals influence perceptions, emotions, and intentions to revisit. (3) an integrated model for urban tourism that combines collaboration between policy makers, the arts community, an annual mural festival, and improvements in digital media. The qualitative-descriptive approach used involved comparative field studies in George Town (Penang), Lembur Katumbiri (Bandung), and Kali Code (Yogyakarta); two field observations with GIS mapping in four high-visibility corridors; in-depth interviews with the curator of the Asian-African Conference Museum and the mural community; focus groups with local artists; expert interviews on AR, projection mapping, and gamification; and an online perception survey (n = 150). Preliminary findings indicate the absence of KAA-themed murals, although community art interventions have increased visits by 35% and emotional connection by 78%. GIS outputs indicate four priority areas for an integrated mural program. Policy recommendations include formal partnerships between the KAA Museum, the Bandung City Government, and the art community; the implementation of an annual political mural festival; and the integration of AR/VR technology to promote educational impact.