Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PEMBUATAN SUMUR BOR UNTUK PENGADAAN AIR BERSIH DI KAMPUNG KOYA TENGAH DISTRIK MUARA TAMI KOTA JAYAPURA PROVINSI PAPUA Rolling Gasperzs; Helen Riupassa; Marthina Mini
JURNAL ABDIMAS DINAMIS : JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT Vol 1 No 1 (2020): Jurnal Abdimas Dinamis
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat USTJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kampung Koya Tengah merupakan salah satu kampung dari 7 kampung lainnya yang berada di Distrik Muara Tami. Kampung Koya Tengah sejak tanggal 20 Oktober 1987 menjadi bagian RW 12 dari desa Koya Timur sampai dengan 1999. Kemudian pada tahun 2000 sampai 2002 menjadi desa persiapan. Akhirnya pada tanggal 27 November 2002 menjadi desa definitif yang dipimpin oleh kepala kampung pertama “Bapak Deki Mikhael Oksan”. Beliau menjabat dari tahun 2000 sampai 2007. Kemudian pada tahun 2007 sampai januari 2010 jabatan kepala kampung untuk sementara dipercayakan kepada karateker “Bapak Maskun”. Kemudian pada tanggal 26 Februari 2010 bapak Kristianus Ayoka terpilih sebagai kepala kampung untuk periode tahun 2010 sampai 2015. Tahun 2016 kampung Koya Tengah dipimpim oleh bapak Demianus Wenggo yang dipilih langsung oleh masyarakat dan ditetapkan menjadi kepala kampung sejak tanggal 17 Mei 2016 hingga saat ini. Salah satu permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat di kampung Koya Tengah adalah ketersediaan air bersih yang terbatas. Hal ini dapat diketahui dari hasil wawancara dengan masyarakat setempat dan juga berdasarkan hasil penyelidikan awal tentang kandungan kapur di dalam air yang dikonsumsi masyarakat setempat. Sumber air yang digunakan oleh masyarakat setempat berasal dari sumur gorong-gorong dengan kedalam air dari permukaan tanah antara 1m – 1,5m dengan kondisi sumur yang tidak tertutup rapat sehingga mudah untuk dimasuki bakteri yang berasal dari permukaan. Oleh sebab itu perlu adanya kegiatan pengabdian kepada masyarakat untuk membantu pengelolaan air bersih yang baik sehingga dapat dimanfaatkan oleh masyarakat. Pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat dengan menggunakan metode pembuatan sumur bor. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini menghasilkan satu unit sumur bor yang mana berhasil memproduksi air bersih dengan kadar kapur yang rendah dan lebih higienis untuk dikonsumsi.
Converting corncob waste into liquid smoke and biochar: A circular energy initiative in Naramben Village Rolling Gasperzs; Marthina Mini; Helen Riupassa; Susi Marianingsih; Suyatno Suyatno; Hendry Y. Nanlohy
Community Empowerment Vol. 11 No. 2 (2026)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31603/ce.15462

Abstract

Corncob waste in Naramben Village is traditionally underutilized and frequently subjected to open burning, leading to air pollution and localized environmental degradation. This program introduces simple pyrolysis technology to equip local residents with the practical skills needed to transform this agricultural waste into value-added commodities: liquid smoke and biochar. Executed through a participatory framework, the initiative combined strategic preparation, hands-on production workshops, and educational dissemination. The program drove a substantial shift in community renewable energy literacy, with participants successfully adopting liquid smoke as an organic pesticide and natural fish preservative. From a technical standpoint, utilizing a 50-liter drum-type pyrolyzer over a two-hour cycle consistently yielded 1.5 to 2 liters of liquid smoke and 5 kg of biochar per batch. Evaluations confirmed that the direct demonstration approach effectively fostered operational independence among the villagers. Ultimately, this localized waste-to-energy model mitigates open-burning pollution, unlocks new micro-economic avenues, and advances clean energy resilience.