Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Ekspresi Kearifan Nusantara dalam Istilah Kemendikbudristek Agusman Agusman; Marlinda Ramdhani
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 8 No. 2 (2024): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v8i2.33198

Abstract

Kemendikbudristek memiliki berbagai istilah yang digunakan untuk menamai subbidang, program dan aplikasi seperti Arjuna, Sinta, Rama, Tri Darma dan seterusnya. Istilah-istilah tersebut ketika diperdengarkan akan memberikan korelasi terhadap berbagai istilah dalam wacana kebudayaan. Dengan demikian, tujuan penelitian ini ialah untuk menjelaskan ekspresi kearifan lokal yang terdapat pada istilah-istilah Kemendikbudristek tersebut. Metode penelitian yang digunakan ialah kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa teknik mencatat istilah-istilah dalam Kemendikbud Ristek sebagai sumber data berupa kata (akronim) dan frasa sebagai wujud datanya. Teknik analisis data ialah menjelaskan konsep nilai-nilai atau ekspresi kearifan lokal pada istilah dengan menghubungkannya kepada kearifan budaya nusantara. Penelitian ini menunjukkan bahwa istilah-istilah Kemendikbudristek mengambil bentuk akronim dan beberapa frasa dari nama penokohan dalam wacana budaya, bahasa Sansekerta (suku kata yang memiliki aspek eufonik Sansekerta) dan frasa bahasa Indonesia. Istilah penokohan tersebut mengambil nama tokoh pewayangan seperti  Arjuna, Sinta, Rama dan bahasa Sansekerta seperti Siaga, Sapto, Tri Darma serta bahasa Indonesia seperti Kurikulum Merdeka, Sigap dan seterusnya yang masing-masing memiliki nilai kearifan lokal.  Ekspresi keariafan lokal yang terdapat pada istilah Kemendikbudristek tersebut menunjukkan lansdcape nilai-nilai kearifan lokal untuk dijadikan sebagai identitas nasional dan bisa dijadikan sebagai panduan dalam mengangkat kearifan lokal sebagai basis kehidupan berbangsa dan bernegara.   The Ministry of Education and Culture has various terms used to name subfields, programs and applications such as Arjuna, Sinta, Rama, Tri Darma and so on. When these terms are heard, they will provide a correlation to various terms in cultural discourse. Thus, the aim of this research is to explain the expression of local wisdom contained in the terms of the Ministry of Education and Culture. The research method used is qualitative with data collection techniques in the form of recording terms in the Ministry of Education and Culture as a data source in the form of words (acronyms) and phrases as a form of data. The data analysis technique is to explain the concept of values or expressions of local wisdom in terms by connecting them to the cultural wisdom of the archipelago. This research shows that the terms of the Ministry of Education and Culture take the form of acronyms and several phrases from characterization names in cultural discourse, Sanskrit (syllables that have a euphonic Sanskrit aspect) and Indonesian language phrases. The characterization terms take the names of wayang characters such as Arjuna, Sinta, Rama and Sanskrit such as Siaga, Sapto, Tri Darma as well as Indonesian such as Curriculum Merdeka, Sigap and so on, each of which has local wisdom values. The expression of local wisdom contained in the term Kemendikbudristek shows the landscape of local wisdom values to be used as a national identity and can be used as a guide in promoting local wisdom as the basis of national and state life.
MASALAH SOSIAL DALAM CERPEN KARYA PENULIS PEREMPUAN DI SITUS BACAPETRA.CO Marlinda Ramdhani
MABASAN Vol. 18 No. 1 (2024): Mabasan
Publisher : Balai Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62107/mab.v18i1.794

Abstract

Penulis perempuan memiliki kecenderungan tersendiri ketika menggambarkan masalah sosial, khususnya dalam cerpen yang ditulis. Kecenderungan tersebut menarik untuk dikaji untuk mengetahui gambaran masalah sosial yang banyak diperhatikan oleh penulis perempuan sekarang ini. Apalagi di era kemajuan teknologi, karya sastra berbentuk cerpen dapat diakses dengan mudah melalui situs-situs sastra yang dikelola oleh komunitas atau lembaga tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan masalah-masalah sosial dalam cerpen yang diangkat oleh penulis perempuan. Data penelitian ini adalah kalimat, paragraf, dan dialog yang menunjukkan masalah-masalah sosial dalam cerpen karya penulis perempuan. Sumber data penelitian diperoleh dari kolom cerpen di laman sastra Bacapetra.co. Menggunakan pendekatan deskriptif, penelitian ini dianalisis dengan tahapan reduksi, penyajian data, dan penarikan simpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat lima jenis masalah sosial yang ditemukan dalam cerpen-cerpen karya penulis perempuan di situs Bacapetra.co, yaitu masalah (1) disorganisasi keluarga, (2) kemiskinan, (3) generasi muda, (4) pelanggaran norma, dan (5) kejahatan.