Christyfani Sindhuwati
Jurusan Teknik Kimia, Politeknik Negeri Malang, Jl. Soekarno Hatta No. 9, Malang 65141, Indonesia

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

PENGARUH TEKANAN DAN JUMLAH DMSO TERHADAP PEMURNIAN PROPIL ASETAT PADA DISTILASI EKSTRAKTIF MENGGUNAKAN SIMULASI CHEMCAD 7.1.5 Emma Ismi Hanifa; Christyfani Sindhuwati
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 6 No. 2 (2020): August 2020
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v6i2.110

Abstract

Seiring dengan perkembangan jaman, propil asetat sebagai bahan kimia masih sangat dibutuhkan untuk bahan penunjuang di dunia industri di Indonesia. Kegunaan propil asetat selain untuk bahan baku percetakan juga sebagai bahan baku dalam pembuatan cat. Penelitian ini ditujukan untuk mendapatkan propil asetat dengan kemurnian minimal sebesar 99%. Pemurnian produk dilakukan dengan menggunakan distilasi ekstraktif karena mampu memisahkan liquid-liquid yang sulit dipisahkan akibat titik didih yang berdekatan (azeotropik). Simulasi pada proses produksi propil asetat menggunakan ChemCAD dilakukan untuk mengoptimalkan kemurnian propil asetat. Simulasi difokuskan pada variasi kebutuhan DMSO dan kondisi operasi tekanan. Jumlah kebutuhan DMSO (3800, 4100, 4400, 4700, 5000, 5300, 5600, 5900, 6200) kg/jam dan variasi tekanan (1; 1,1; 1,2; 1,3; 1,4; 1,5; 1,6; 1,7; 1,8) atm. Hasil yang didapatkan semakin tinggi tekanan semakin rendah kemurnian propil asetat dan semakin banyak jumlah DMSO yang ditambahkan semakin tinggi kemurnian propil asetat. Simulasi yang telah dilakukan dengan tekanan optimum sebesar 1 atm dan jumlah DMSO sebanyak 6200 kg/jam mampu menghasilkan propil asetat pada top product dengan kemurnian 99,97%.
STUDI KASUS: PENGARUH SUHU TERHADAP FRAKSI MASSA TOP PRODUCT PADA PEMISAHAN PROPIL ASETAT MENGGUNAKAN KOLOM DISTILASI Riswandha Iman Rizaldi; Christyfani Sindhuwati
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 6 No. 2 (2020): August 2020
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v6i2.109

Abstract

Jumlah suplier dalam negeri yang tidak banyak mengakibatkan permintaan pasar yang tinggi terhadap propil asetat. Propil asetat sering digunakan sebagai bahan baku dan bahan penunjang pada industri percetakan, tekstil dan cat. Propil asetat terbentuk karena proses esterifikasi dan dibutuhkan kolom distilasi untuk mendapatkan produk yang bebas pengotor. Tujuan dari penelitian kali ini yaitu untuk mengetahui pengaruh suhu umpan terhadap fraksi massa produk atas kolom distilasi pada pemisahan propil asetat dari pengotornya. Simulasi ini dilakukan dengan menggunakan ChemCAD dengan model termodinamika NRTL. Hasil dari simulasi yang telah dilakukan menunjukan bahwa untuk mendapatkan produk murni propil asetat tidak cukup jika hanya menggunakan 1 kolom distilasi, dibutuhkan tahapan pemisahan lagi antara propil asetat dan asam asetat. Dapat diketahui semakin tinggi suhu yang diberikan maka total produk yang dihasilkan semkain banyak, tetapi fraksi propil asetat yang didapatkan akan semakin rendah. Dari simulasi yang telah dilakukan, fraksi propil asetat tertinggi sebesar 0,698829 dengan total massa yang didapatkan sebesar 1064.13 kg/jam dalam suhu 65°C dan tekanan 1 atm.
PENGARUH SUHU BOTTOM COLUMN DAN RATE SOLVENT DMSO TERHADAP PEMURNIAN PROPIL ASETAT PADA DISTILASI EKSTRAKTIF MENGGUNAKAN SIMULASI CHEMCAD Cut Ariska Nur Layliyah; Christyfani Sindhuwati
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 6 No. 2 (2020): August 2020
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v6i2.73

Abstract

Seiring dengan perkembangan industri yang semakin pesat khususnya industri kimia maka terjadi pula peningkatan kebutuhan bahan baku dan bahan penunjang. Bahan-bahan penunjang yang digunakan dalam industri kimia sangatlah beragam salah satunya adalah propil asetat. Kemurnian propil asetat yang ada dipasaran adalah sebesar 99%, maka dari itu pemurnian propil asetat menjadi salah satu proses yang sangat penting dalam proses produksi. Pemurnian propil asetat tidak dapat dilakukan dengan distilasi konvensional karena adanya titik azeotrop, salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan distilasi ekstraktif. Distilasi ekstraktif merupakan pemisahan campuran yang terkendala titik azeotrop dengan menambahkan zat ketiga yang bersifat non-volatile dan biasanya disebut sebagai solvent atau entrainer. Maka dari itu untuk mengoptimumkan pemurnian propil asetat melalui distilasi ekstraktif dilakukan simulasi proses produksi propil asetat menggunakan ChemCAD. Simulasi difokuskan pada penentuan suhu optimum pada bottom product dan rate solvent pada kolom distilasi ekstraktif. Trial suhu dilakukan dari suhu 120°C dan trial solvent dilakukan dari rate 70 kmol/h. Dari hasil simulasi yang telah dilakukan suhu optimum bottom product dalam proses pemurnian propil asetat sebesar 140°C dengan kemurnian 99,6% dan rate solvent sebesar 95 kmol/h dengan kemurnian 99,52%.
ESTIMASI TEMPERATUR CONDENSOR REFLUX (136 H09) PADA REGENERATION UNIT UNTUK PENGHEMATAN KONSUMSI TEG Tessa Audia Linarta; Christyfani Sindhuwati; Hardjono Hardjono
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 7 No. 2 (2021): August 2021
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v7i2.197

Abstract

Proses dehidrasi merupakan salah satu proses yang sering dijumpai pada pabrik pengolahan gas alam. TEG (triethylene glycol) merupakan senyawa Glycol yang biasa digunakan pada proses dehidrasi gas alam. TEG dimanfaatkan sebagai absorben pada absorpsi air yang masih terkandung dalam gas alam yang bisa menyebabkan hydrate dan korosi. Proses absorpsi ini dilakukan di TEG contactor, TEG yang sudah digunakan akan dilakukan regenerasi, jika sudah di regenerasi maka TEG akan digunakan kembali. Tujuan dari penelitian ini yaitu melakukan proses estimasi temperatur yang sesuai untuk proses absorpsi unit regenerasi TEG, karena banyak TEG loss pada proses ini. TEG loss terjadi di TEG regenerator dan biasanya disebabkan oleh temperatur kondensor refluks yang kurang tepat sehingga menyebabkan TEG teruapkan keluar ke atmosfer bersama uap air. Kehilangan TEG adalah masalah bagi operasi yang penting dalam sistem dehidrasi. Langkah yang digunakan untuk mengurangi TEG loss adalah dengan melakukan estimasi temperatur dari condensor refluks dibuat menjadi 100°C dengan cara mengubah temperatur reboiler dari 190°C menjadi 197,3°C.
EVALUASI PRESSURE DROP HEAT EXCHANGER-03 PADA CRUDE DISTILLATION UNIT PPSDM MIGAS CEPU Reftian Jalu Prabaswara; Sri Rulianah; Christyfani Sindhuwati; Raharjo Raharjo
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 7 No. 2 (2021): August 2021
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v7i2.287

Abstract

Indonesia sebagai salah satu negara yang memiliki cadangan energi fosil melimpah tidak lepas dari konsumsi minyak bumi. PPSDM Migas Cepu merupakan salah satu instansi yang selain mengemban tugas dalam mempersiapkan tenaga-tenaga andal dalam bidang eksplorasi dan eksploitasi migas juga memiliki unit pengolahan minyak bumi yang menghasilkan beberapa produk turunan. Heat Exchanger-03 merupakan penukar panas yang berperan vital dalam proses produksi pada CDU PPSDM Migas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat performa dari Heat exchanger-03 yang didasarkan pada perhitungan nilai pressure drop dan efisiensi perpindahan panas. Metodologi penelitian yang digunakan berupa pengamatan secara langsung selama 7 hari terhadap kondisi operasi HE-03 yang meliputi suhu, laju alir, dan tekanan fluida. Hasil dari evaluasi heat exchanger menunjukkan pressure drop pada sisi shell dan tube berturut-turut 0,00000175 dan 0,02462 psi. Efisiensi perpindahan panas sebesar 76,0242%. Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan jika HE-03 beroperasi dengan layak namun telah mengalami penurunan kinerja. Oleh karena itu, pihak PPSDM Migas Cepu diharapkan untuk melakukan perawatan secara berkala yang meliputi pembersihan heat exchanger dan penggantian insulasi termal yang kurang layak untuk menjaga proses perpindahan panas tetap berjalan dengan baik.
DESAIN DIRECT CONTACT HEAT EXCHANGER (DCHE) PADA UNIT MASAKAN DEFEKASI - REMELT - KARBONATASI (DRK) DI PG KEBON AGUNG MALANG Alya Putri Ramadhanty; Christyfani Sindhuwati; Tiara Nur Azizah; Firmansyah Agil Saputra
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 8 No. 2 (2022): June 2022
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v8i2.380

Abstract

Gula adalah salah satu komoditas yang banyak diproduksi di Indonesia untuk digunakan dalam kehidupan sehari hari. Gula yang ada di Indonesia ummnya diproduksi dengan menggunakan nira tanaman tebu atau raw sugar. Raw sugar yang digunakan akan dilelehkan dan dimurnikan kembali dengan menggunakan metode pemurnian defekasi-karbonatasi. Pada PG Kebon Agung yang berada di Kabupaten Malang, proses ini dilakukan di unit masakan Defekasi-Remelt-Karbonatasi (DRK). Gula yang telah dilelehkan kembali dengan air kemudian dimasukkan ke rangkaian peralatan karbonatasi, salah satunya adalah reaktor karbonatasi. Pada kenyataannya, reaktor ini memiliki beban kinerja yang cukup besar karena suhu bahan yang masuk sangat rendah. Untuk menanggulangi masalah ini, sebuah peralatan pertukaran panas dengan jenis direct contact akan ditambahkan pada rangkaian tersebut. Sebelum dipasangkan, peralatan perlu dirancang terlebih dahulu. Tujuan dari dilakukannya penelitian ini adalah untuk mendapatkan desain dari peralatan direct contact heat exchanger (DCHE) yang akan dipasangkan pada unit DRK PG Kebon Agung. Untuk mendapatkan desain DCHE yang dikehendaki, data lapangan serta data asumsi perlu dikumpulkan terlebih dahulu sebelum dilanjutkan dengan proses penghitungan dengan menggunakan berbagai rumus yang tersedia serta pembuatan gambar alatnya. Berdasarkan penghitungan yang dilakukan, peralatan DCHE yang digunakan memiliki diameter luar sebesar 1,1222 meter dengan tinggi 10,4480 meter. Maka dari itu, peralatan ini dinilai layak dari segi ekonomi maupun kegunaannya untuk digunakan pada proses pemanasan awal bahan sebelum masuk ke reaktor karbonatasi.