Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Etika Sufisme Pakubuwana IV: Piwulang dalam Serat Wulangreh Raha Bistara
SUHU: Journal of Sufism and Humanities Vol. 1 No. 1 (2025): SUHU: Journal of Sufism and Humanities
Publisher : LaKaspia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69548/suhu.v1i1.50

Abstract

Artikel ini mengkaji bagaimana konsep etik-sufisme yang diwedarkan oleh Pakubuwana IV dalam wedaran Wulangreh. Konsep ajaran etik yang ada di dalam Serat Wulangreh berlandaskan dari al-Quran dan Sunnah sebagai sumber ajaran Islam. Konsep etik-sufisme ini diambil dari kerangka konsep tasawuf yang menjadi hal yang paling subtil di dalam kerangka ajaran Islam karena mengambil hal yang paling inti berupa batin. Ajaran sufisme yang dikembangkan oleh Pakubawana IV mengajarkan manusia untuk bisa berbuat baik, tidak melanggar larangannya, tidak tamak, tidak suka kepada hal yang sifatnya duniawi secara berlebihan dan menjaga supaya hatinya tetap bersih itu semua konsep ihsan. Dengan menggunakan metode library research dan kerangka teori hermeuntika yang dikembangkan oleh Gadamer, dengan kerangka piwulang dan ajaran merupakan suatu reaksi dari si pelaku yang ada hubungan horizontal kepada sang maha Aku untuk menerima ajaran itu sendiri yang di mana kemudian menjadi pengetahuan untuk diajarkan kepada masyarakat yang lebih luas. Maka konsep etik-sufisme menjadi pijakan bagi siapa saja terutama umat Islam secara luas untuk menemukan ke-diriannya dalam menjalankan laku suluk sebagai salik. Sebab etik-sufistik merupakan salah satu dari sekian banyak yang harus dilalui oleh manusia menuju manusia paripurna atau Janma Utama. Tahapan-tahapan ini harus dilewati oleh semua salik dari mulai tingkat yang paling rendah yakni sembah raga atau dalam tataran syariat, kemudian sembah cipta dalam tata tarekat, kemudian tangga berikutnya sembah karsa dalam tatanan makrifat dan sembah rasa dalam tataran hakikat. Kesemua tahapan ini harus dilewati untuk menemukan konsep man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafah rabbah—konsep  sufisme yang ingin diwedarkan oleh Sunan demi terwujudnya manusia yang utuh.
Pengarusutamaan Moderasi Beragama Bagi Muda Muslim Millenial dalam Ranah Pendidikan Islam Abdi Abdi Setiawan; Raha Bistara
AL-KAINAH: Journal of Islamic Studies Vol. 2 No. 1 (2023): Al-Kainah: Journal of Islamic Studies
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (P3M) STAI Miftahul Huda Subang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69698/jis.v2i1.109

Abstract

Artikel ini ingin menguaraikan bagaimana pengarusutamaan moderasi beragama di negara multikultural seperti Indonesia. Pengarusutamaan ini untuk membendung laju kelompok eksklusif yang terus menuai gagasan radikalisme agama. Pengarusutamaan ini dilakukan oleh muda muslim millenial yang berperan besar demi kemajuan bangsannya. Muda muslim millenial ini menjadi Agen Sosial of Change dalam membendung arus paham radikalisme agama. Dengan menggunakan metode library research diharapkan uraikan ini memberikan jawaban atas problematika muda muslim millenail yang selama ini dianggap paling mudah terpengaruh dengan arus paham radikalisme dan intoleran. Pengarusutamaan ini dengan menggunakan Sekolah Moderasi dan Dialog Antar Agama dalam memberikan gambaran, paling tidak mengenalkan kepada muda muslim millenial dalam gerakan moderasi beragama. Di tambah, di lingkup pendidikan mereka diharapkan menjadi mitra pemerintah dalam memendarkan gagasan wasathiyyah melalui dunia pendidikan. Sebab, muda muslim millenial dalam hal ini bukan hanya untuk dirinya gagasan moderasi beragama, melainkan juga bagi masyarakat secara luas.
Dakwah Kultural: Analisis Strategi Islamisasi Sunan Kalijaga Melalui Budaya Lokal Sofia Nofita Sari; Rohima Khoirunnisa; Zidni Nur Fatimah; Raha Bistara
Jurnal Manajemen dan Budaya Vol 6 No 2 (2026): Jurnal Manajemen dan Budaya (On Progres)
Publisher : STAI Darul Kamal NW Kembang Kerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51700/manajemen.v6i2.1413

Abstract

This study examines the da’wah strategy of Sunan Kalijaga, one of the prominent members of the Walisongo, who played a crucial role in the Islamization process in Java. The research focuses on his cultural approach through the use of arts and local traditions such as wayang kulit, tembang, gamelan, the Sekaten ceremony, and other Javanese customs. Employing a qualitative method with a library research approach, this study explores the historical background and relevance of Sunan Kalijaga’s da’wah within the perspective of the Qur’an and Hadith. The findings reveal that his cultural approach effectively conveyed Islamic values persuasively and harmoniously, making them acceptable to the Javanese society that was predominantly influenced by Hindu-Buddhist traditions. The messages of da’wah included aspects of aqidah, sharia, and akhlaq, all integrated into local cultural expressions. Sunan Kalijaga’s strategies remain highly relevant as an inspiration for contemporary da’wah practices in Indonesia’s multicultural society
Economic Synergy and Religious Tolerance in Tourism Villages: A Maqashid al-Shari’ah Perspective Kholis Firmansyah; Raha Bistara
Journal of Indonesian Islamic Studies Vol. 5 No. 2 (2026): Journal of Indonesian Islamic Studies (April)
Publisher : Postgraduate Program of the State Islamic Institute of Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24256/jiis.v5i2.10371

Abstract

Intolerant attitudes may trigger interreligious conflicts in Indonesia. Therefore, there is a need for village-based public spaces that can simultaneously promote social harmony and strengthen the local economy. One such strategic public space is the Tourism Village. This study aims to analyze the role of Tourism Villages as spaces for economic synergy and religious tolerance from the perspectives of legal literature and maqashid sharia. This study employed a qualitative method using a library research approach. Primary data sources included laws and regulations concerning Tourism Villages, tourism, and religious tolerance in Indonesia, as well as Islamic legal sources such as the Qur’an, Hadith, and literature on maqashid sharia. Secondary data were obtained from academic books and scientific journal articles. Data were collected through documentation techniques and analyzed using content analysis with a normative legal and maqashid sharia approach. The findings reveal that Tourism Villages possess significant potential to strengthen the local economy while fostering interreligious tolerance. The principles of kinship, equality, local wisdom, and diversity embedded in Indonesian tourism regulations provide a strong foundation for developing Tourism Villages grounded in religious moderation. These principles are also aligned with the objectives of maqashid sharia, particularly the protection of religion (hifz al-din), wealth (hifz al-mal), and human life (hifz al-nafs).