p-Index From 2021 - 2026
0.444
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Amerta
Muhamad Satok Yusuf
Perkumpulan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI) Komda Jawa Timur

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

ARCA BHAIRAWA (HAYAGRĪWA LOKEŚWARA) PADANGROCO BERLANGGAM SENI SIŊHASĀRI Muhamad Satok Yusuf
AMERTA Vol. 40 No. 1 (2022)
Publisher : Badan Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/amt.2022.19

Abstract

Abstrak. Para peneliti terdahulu meyakini bahwa arca Bhairawa dari Situs Padangroco, Provinsi Sumatra Barat berlanggam Majapahit berdasarkan konteks relasi historis Raja Ādityawarman dengan Kerajaan Majapahit dan penggambaran arca dalam postur tegak kaku seperti arca Majapahit pada umumnya. Tinjauan terhadap langgam arca seharusnya juga memperhatikan ornamen dan gaya seninya. Penelitian ini berupaya mengkaji ulang ikonografi dan langgam arca Bhairawa Padangroco yang diduga kuat berlanggam Siŋhasāri dan bukan perwujudan Bhairawa. Analisis yang digunakan ialah analisis ikonografi dan perbandingan gaya seni. Hasil kajian ulang ikonografis pada penelitian ini menunjukkan bahwa arca Bhairawa Padangroco merupakan perwujudan Hayagrīwa sebagai manifestasi Awalokiteśwara dalam wujud mengerikan, yang di dalam agama Buddha didudukkan sebagai simbol penguasaan terhadap kekuatan diri sendiri. Lebih lanjut dikemukakan bahwa arca Bhairawa Padangroco ialah Hayagrīwa Lokeśwara. Berdasarkan hasil analisis perbandingan gaya seni arca, ditemukan bahwa arca Bhairawa Padangroco memiliki langgam Siŋhasāri. Adapun arca yang digunakan sebagai pembandingnya ialah dua arca kembarannya dari Situs Candi Jago dan koleksi Metropolitan Museum of Arts, arca kembar Siŋhasāri lainnya, dan arca-arca berlanggam Siŋhasāri dan Majapahit. Kata kunci: Reinterpretasi, Bhairawa, Padangroco, Ikonografi, gaya seni. Abstract. The Sculpture of Bhairawa (Hayagrīwa Lokeśwara) of Padangroco as Art of Siŋhasāri. Previous researchers believed that the Bhairawa sculpture from the site of Padangroco, West Sumatra Province was in Majapahit style based on the historical context of King Ādityawarman’s relationship with the Majapahit Kingdom and the depiction of the sculpture in a rigid upright posture like Majapahit sculptures in general. A style review of the sculpture should also pay attention to its ornamentation and art style. This study seeks to reinterpret the iconography and style of the Bhairawa Padangroco sculpture, which is strongly suspected to be in the Siŋhasāri style and not the embodiment of Bhairawa. The study used iconographic analysis and comparison of art styles. The results of the iconographic review show that the Bhairawa Padangroco sculpture is the embodiment of Hayagrīwa as a manifestation of Awalokiteśwara in a terrible form, which in Buddhism is positioned as a symbol of mastery over one’s strength. It was further stated that the Bhairawa Padangroco sculpture was Hayagrīwa Lokeśwara. Based on the results of the comparative analysis of sculpture art styles, it was found that the Bhairawa Padangroco sculpture has the Siŋhasāri style. The sculptures used as comparisons are the two twin sculptures from the site of Jago Temple and the Metropolitan Museum of Arts’ collection, other Siŋhasāri twin sculptures, and the sculptures in Siŋhasāri and Majapahit styles. Keywords: Reinterpretation, Bhairawa, Padangroco, Iconography, art style.
Pembangunan Kembali Candi Peninggalan Bāmeśwara oleh Ken Angrok di Kediri: Kajian Arkeologis dan Politik Religi Muhamad Satok Yusuf; Juan Steven Susilo
AMERTA Vol. 43 No. 2 (2025)
Publisher : Penerbit BRIN (BRIN Publishing)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/amt.2025.5517

Abstract

Abstract, Reconstruction of the Bāmeśwara Temple by Ken Angrok in Kediri: Archaeological and Political-Religious Studies. This paper discusses an episode in the political history of Ken Angrok, the founder of the Siŋhasāri Kingdom, in the ancient history of Indonesia. Ken Angrok's life and reign remain relatively obscure, with most of his biographical details found in texts such as Pararaton and brief mentions in Kākawin Nāgarakṛtāgama. Archaeological discoveries, such as two lintels dated to 1148 Ś, provide material evidence to reconstruct aspects of Ken Angrok's reign. This study explores Ken Angrok's political activities during his reign in Tumapĕl and aims to answer key questions about the political and administrative structures of his time. K.R. Dark's descriptive qualitative social archaeology approach is used in this study, combining historical information and archaeological remains, to understand the political and religious dynamics during Ken Angrok's reign. The interpretation stage applies Anthony Giddens' theory of structuration, which emphasizes the dual relationship between structure and agency to analyze how Ken Angrok's actions affected the political-religious structure in Kaḍiri. The result of the research is the identification of the lintels dated 1148 Ś as part of the temple structure which is associated with Ken Angrok's politico-religious strategy in Kaḍiri. Ken Angrok's understanding of the Kaḍiri socio-political structure, his manipulation of religious symbols, and his strategic alliances with religious and literary figures were key in consolidating his power and making Tumapĕl a prominent politico-religious center in East Java. This study provides an overview of Ken Angrok's meticulous use of social, political, and religious structures to legitimize his rule and maintain political stability, as well as making Kaḍiri a strong politico-religious support structure during his reign. Keywords: lintel, politics-religion, Kaḍiri, Ken Angrok   Naskah diterima tanggal: 20/02/2025, diperiksa: 26/03/2025, dan disetujui: 11/12/2025   Abstrak, Kajian ini membahas episode sejarah politik Ken Angrok, pendiri Kerajaan Siŋhasāri, dalam sejarah kuno Indonesia. Kehidupan dan pemerintahan Ken Angrok masih relatif tidak begitu jelas, dengan sebagian besar detail biografinya ditemukan dalam teks seperti Pararaton dan disebutkan secara singkat dalam Kākawin Nāgarakṛtāgama. Temuan arkeologi, seperti ambang pintu berangka tahun 1148 Ś, memberikan bukti material untuk merekonstruksi aspek pemerintahan Ken Angrok. Studi ini mengeksplorasi aktivitas politik Ken Angrok selama pemerintahannya di Tumapĕl dan bertujuan untuk menjawab pertanyaan kunci tentang struktur politik dan administratif pada masanya. Pendekatan deskriptif kualitatif arkeologi sosial K.R. Dark digunakan dalam penelitian ini, dengan menggabungkan informasi historis dan tinggalan arkeologi, untuk memahami dinamika politik dan keagamaan pada masa pemerintahan Ken Angrok. Tahap interpretasi menerapkan teori strukturasi Anthony Giddens, yang menekankan hubungan dualitas antara struktur dan agensi untuk menganalisis bagaimana tindakan Ken Angrok memengaruhi struktur politik-keagamaan di Kaḍiri. Hasil penelitian berupa identifikasi ambang pintu berangka tahun 1148 Ś sebagai bagian dari struktur candi yang dikaitkan dengan strategi politik-keagamaan Ken Angrok di Kaḍiri. Pemahaman Ken Angrok tentang struktur sosial-politik Kaḍiri, manipulasi simbol-simbol keagamaan, dan aliansi strategisnya dengan tokoh-tokoh keagamaan dan sastra menjadi kunci dalam mengkonsolidasi kekuasaannya dan menjadikan Tumapĕl sebagai pusat politik-keagamaan yang menonjol di Jawa Timur. Studi ini memberikan gambaran tentang kecermatan Ken Angrok dalam menggunakan struktur sosial, politik, dan religi untuk melegitimasi pemerintahannya dan menjaga stabilitas politik, serta menjadikan Kaḍiri sebagai struktur pendukung politik-keagamaan yang kuat selama masa pemerintahannya. Kata kunci: ambang pintu, politik-religi, Kaḍiri, Ken Angrok