Meningkatnya masalah kesehatan jiwa di perkotaan menimbulkan adanya tuntutan terkait layanan publik Rumah Sakit Jiwa. Sementara itu masalah kesehatan jiwa di Indonesia terkendala oleh stigma dan diskriminasi. Tidak hanya terhadap penyakitnya, stigma juga terjadi terhadap bangunannya yaitu Rumah Sakit Jiwa. Hal ini menyebabkan penderita enggan meminta pertolongan profesional dan menjalani perawatan di Rumah Sakit Jiwa. Jurnal ini membahas tentang strategi pola desain biofilik yang diterapkan pada Rumah Sakit Jiwa di perkotaan yang bertujuan untuk membantu proses pemulihan pasien dan mematahkan stigma pada bangunan. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kombinasi (mixed methods) antara penelitian kualitatif berupa data literatur delapan pola desain biofilik pada Rumah Sakit Jiwa dan metode kuantitatif deskriptif dengan observasi kajian di Rumah Sakit Jiwa Soeharto Heerdjan Jakarta melalui penyebaran kuesioner bergambar kepada pasien rawat inap rehabilitasi (sudah dapat berinteraksi secara dua arah) untuk menemukan preferensi desain berdasarkan delapan pola desain biofilik yaitu: koneksi visual dengan alam, variabilitas termal dan udara, cahaya dinamis dan difus, pola dan bentuk biomorfik, koneksi material dengan alam, kompleksitas dan ketertiban, prospek, dan pola perlindungan. Hasil kuesioner kemudian dianalisis secara univariat, menghasilkan tampilan angka dari pengukuran yang diolah menjadi persentase. Hasil penelitian ini adalah preferensi pasien terhadap delapan pola desain biofilik dimana pasien menyukai Rumah Sakit Jiwa dengan banyak jendela, pemandangan/gambar realistis seperti alam, kaya cahaya alami dengan bias bayangan tidak teratur, dan interior rumah sakit dengan kombinasi tekstur kayu, warna pastel, serta permainan warna pada furnitur.