Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Strategi Komunikasi Dinas Komunikasi, Informatika, Statistik Dan Persandian Dalam Mensosialisasikan Program Komunitas Informasi Masyarakat di Kota Palangka Raya Dewiyanti Dewiyanti; Lisnawati Lisnawati
Syntax Idea 3012-3023
Publisher : Ridwan Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46799/syntax-idea.v6i7.3978

Abstract

Program Komunitas Informasi Masyarakat (KIM) adalah program unggulan dari Dinas komunikasi informatika statistik dan persandian Kota Palangka Raya, KIM ini berperan sebagai perantara antara pemerintah dan masyarakat, menjembatani kesenjangan komunikasi dan pengetahuan. Namun keberadaannya masih belum di ketahui oleh masyarakat, karena KIM yang telah terbentuk belum maksimal dalam menjalankan tugas dan perannya serta terdapat perbedaan data antara Kemeneterian Komunikasi dan Informatika dengan Dinas Komunikasi Informatika Statistik dan Persandian Kota Palangka Raya berupa jumlah Komunitas yang telah terbentuk. Fokus penelitian ini adalah untuk mengungkapkan bagaimana strategi komuniksi yang digunakkan oleh Dinas Komunikasi Informatika Statistik dan Persandian dalam mensosialisasikan program Komunitas Informasi Masyarakat (KIM). Dengan menggunakan lima fase perencanaan komunikasi penelitian, perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, dan pelaporan (Cangara), penelitian ini berupaya mendefinisikan teknik komunikasi yang digunakan untuk mensosialisasikan program Komunitas Informasi Masyarakat (KIM) di Kota Palangka Raya. Penelitian deskriptif kualitatif digunakan untuk penelitian ini. Studi dokumentasi meliputi buku, arsip, literatur, laporan, dan dokumen, serta wawancara dan observasi langsung terhadap kegiatan di lokasi penelitian. Temuan menunjukkan bahwa Dinas Komunikasi, Informatika, Statistika, dan Persandian Kota Palangka Raya lebih memanfaatkan aspek komunikasi pada saat perencanaan dibandingkan melakukan penelitian pada awalnya. Sosialisasi dilaksanakan dengan media internet dan ke lapangan. Pada evaluasi hanya mengukur menggunakan tabel perbandingan jumlah. Disimpulkan bahwa strategi komunikasi yang digunakan masih kurang maksimal karena hanya tiga varibel yang digunakan yaitu perencanaan, pelaksanaan dan pelaporan
Communication Strategy In SPKT Services At The Central Kalimantan Regional Polda Doni Sosilo; Lisnawati Lisnawati
Journal of Innovative and Creativity Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v6i1.5511

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan strategi komunikasi dalam pelayanan Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) di Polda Kalimantan Tengah. Fokus penelitian diarahkan pada bagaimana petugas SPKT membangun komunikasi yang efektif, responsif, dan humanis dalam memberikan layanan kepada masyarakat. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi langsung, dan studi dokumentasi terhadap proses pelayanan serta interaksi antara petugas dan masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi komunikasi yang diterapkan oleh SPKT Polda Kalimantan Tengah didasarkan pada prinsip keterbukaan, kejelasan informasi, dan empati. Petugas menggabungkan komunikasi verbal dan nonverbal, menyesuaikan gaya bahasa dengan latar belakang sosial budaya masyarakat, serta mengedepankan komunikasi dua arah agar masyarakat memahami setiap prosedur pelayanan. Selain itu, penerapan teknologi digital seperti sistem antrean elektronik dan aplikasi pengaduan daring turut mendukung transparansi informasi dan mempercepat proses pelayanan. Hambatan komunikasi yang muncul, seperti perbedaan persepsi dan kondisi emosional pelapor, diatasi melalui klarifikasi berulang dan pendekatan personal yang menenangkan. Secara umum, strategi komunikasi di SPKT Polda Kalimantan Tengah menunjukkan adanya sinergi antara profesionalitas institusi dan pendekatan humanis yang memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap pelayanan kepolisian.
Mandau Symbolism: Spirituality, Aesthetics, and Social Ethics in Contemporary Dayak Culture Aquarini Aquarini; Junaidi Junaidi; Lisnawati Lisnawati
Glosains: Jurnal Sains Global Indonesia Vol. 7 No. 3 (2026): Glosains: Jurnal Sains Global Indonesia
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59784/glosains.v7i3.766

Abstract

Background: Dayak culture preserves the Mandau as a symbol of spirituality, identity, and morality. However, modernization has transformed its sacred role into a cultural commodity, highlighting the need to reexamine its philosophical and spiritual significance. Objective: This research aims to uncover the symbolic meaning of Mandau in the context of cultural identity, ornamental systems, and its social and ethical functions in contemporary Dayak society. Methods: This study employs an interpretive qualitative approach based on cultural semiotic analysis of literary sources, museum artifacts at the Balanga Museum (Palangka Raya), and secondary ethnographic data from published field studies. Data were analyzed using Barthes' cultural semiotics framework with source triangulation to ensure interpretive validity. Additionally, participatory observation, in-depth interviews with artisans and traditional leaders in Kapuas and Palangka Raya, and artifact analysis at the Balanga Museum were conducted to enrich the ethnographic data. Results: The findings indicate that Mandau functions as a moral and spiritual medium connecting humans, nature, and ancestors; its material structure and ornamental motifs embody the principle of cosmic balance (duality); and its social functions affirm Mandau’s role as a medium for ecological ethics and cultural resilience. Despite functional transformations under globalization, the symbolic meaning of Mandau persists in contemporary Dayak society. Conclusion: Preserving the Mandau requires safeguarding both its physical form and cultural meaning. Collaborative efforts among academics, indigenous communities, and cultural institutions, supported by digital education and documentation, are essential to sustain its ethical and spiritual values across generations.