Dimana kinerja angkutan umum perkotaan tidak efektif yang menyebabkan waktu tempuh lebih panjang, sehingga bertumpuk menjadi kemacetan. Solusi yang dikembangkan untuk mengatasi permasalahan tersebut, Pemerintah Kota Bandung menerapkan sistem transportasi umum berkelanjutan yang memiliki kapasitas besar (massal) berbasis rel yaitu Kereta Api Light Rail Transit (LRT) dan terintegrasi dengan moda angkutan lain serta didukung oleh manajemen transportasi yang baik. Upaya Pemerintah Kota Bandung dalam menangani hal tersebut yaitu dengan merencanakan angkutan masal berbasis rel yaitu LRT di Koridor ruas jalan babakan Siliwangi. Namun dengan adanya LRT kinerja jalan mengalami perubahan dan perlu dianalisis untuk mendukung LRT dengan menggunakan Transport Demand Management. Pada Penelitian ini lokasi studi yang ditinjau berada di Jalan Babakan Siliwangi yang merupakan jalan pusat Kota Bandung yang mana angkutan moda berbasis LRT dengan kondisi eksisting Dj> 0,85. Kondisi lalu lintas setelah adanya LRT dilakukan dengan mengurangi volume lalu lintas dengan nilai probabilitas perpindahan angkutan pribadi ke Light Rail Transit demand LRT sebesar 20% dan kapasitas jalan berkurang dengan pengurangan lajur untuk LRT yang mempengaruhi kinerja di ruas jalan yang direncanakan, maka diperoleh Dj>0,85. Untuk memperbaiki kinerja jalan setelah pembangunan LRT direncanakan dengan menggunakan strategi TDM. Memilih strategi TDM dengan Analisis Multikriteria diperoleh weighted score yang tertinggi adalah Sistem Stiker (Area Licensing). Berdasarkan survei telah dilakukan dengan selisih tarif Rp 5.000,- antara tarif LRT dan tarif TDM menghasilkan nilai Dj <0,85, maka kinerja jalan sudah memenuhi syarat