Masytha Ramadhani
Universitas Riau

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Kepedulian Sosial Ibu dalam Mendampingi Anak Berkebutuhan Khusus di Sekolah Luar Biasa Kecamatan Mandau Wulan Suci Lestari; Daeng Ayub; Masytha Ramadhani
Transformasi : Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Non Formal Informal Vol. 12 No. 2 (2026): September
Publisher : Program Studi Pendidikan Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33394/jtni.v12i2.19864

Abstract

Abstract: Children with special needs require sustained family support to facilitate their educational, emotional, social, and adaptive development. However, empirical evidence concerning maternal social care in non-metropolitan special-school settings remains limited, particularly studies that simultaneously examine emotional, instrumental, and cognitive dimensions. This study aimed to describe the level of maternal social care for children with special needs, identify its most dominant dimension, and determine the aspect that still requires strengthening. A descriptive quantitative survey with a cross-sectional design was conducted involving 85 mothers selected through purposive sampling from a population of 107 mothers whose children were enrolled at SLB Cendana Duri and SLB Aisyiyah Duri, Mandau District. Data were collected using a five-point Likert-scale questionnaire and analyzed through descriptive statistics, including frequency, percentage, mean, median, minimum, and maximum scores. The findings showed that the overall level of maternal social care was high, with a mean score of 4.16. A total of 56.47% of respondents were categorized as high, 41.18% as very high, and 2.35% as moderate. Instrumental care obtained the highest mean score (4.17), followed by emotional care (4.16), while cognitive care achieved the lowest mean score (4.10), although it remained within the high category. These results indicate that mothers primarily express social care through direct assistance, daily accompaniment, and involvement in school activities. The relatively lower cognitive dimension highlights the need to strengthen disability literacy, structured parental consultation, and access to reliable information. The study provides local empirical evidence to support the development of school–family partnership programs in special education. Abstrak: Anak berkebutuhan khusus membutuhkan dukungan keluarga yang berkelanjutan untuk menunjang perkembangan pendidikan, emosional, sosial, dan kemandirian. Namun, pemetaan kepedulian sosial ibu pada konteks sekolah luar biasa di wilayah nonmetropolitan masih terbatas, terutama yang mengkaji dimensi emosional, instrumental, dan kognitif secara bersamaan. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan tingkat kepedulian sosial ibu, mengidentifikasi dimensi yang paling dominan, dan menentukan dimensi yang masih memerlukan penguatan. Penelitian menggunakan survei kuantitatif deskriptif dengan pendekatan potong lintang. Sebanyak 85 ibu dipilih secara purposif dari populasi 107 ibu di SLB Cendana Duri dan SLB Aisyiyah Duri. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner skala Likert lima poin dan dianalisis melalui frekuensi, persentase, mean, median, nilai minimum, dan maksimum. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata kepedulian sosial sebesar 4,16 dan termasuk kategori tinggi. Sebanyak 56,47% responden berada pada kategori tinggi, 41,18% sangat tinggi, dan 2,35% sedang. Dimensi instrumental memperoleh rata-rata tertinggi sebesar 4,17, diikuti dimensi emosional sebesar 4,16 dan dimensi kognitif sebesar 4,10. Temuan menunjukkan bahwa kepedulian ibu terutama diwujudkan melalui tindakan konkret, pendampingan aktivitas harian, dan keterlibatan dalam kegiatan sekolah. Meskipun seluruh dimensi tergolong tinggi, aspek kognitif menjadi prioritas penguatan. Sekolah dan pemerintah daerah perlu mengembangkan kelas orang tua, konsultasi terstruktur, serta akses terhadap informasi yang valid dan mudah dipahami.  
Peran Karang Taruna dalam Penguatan Keterampilan Sosial Remaja di Desa Bina Baru, Kampar Bagas Kurniawan; Muhammad Jais; Masytha Ramadhani
Transformasi : Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Non Formal Informal Vol. 12 No. 2 (2026): September
Publisher : Program Studi Pendidikan Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33394/jtni.v12i2.19629

Abstract

Abstract: This study analyzes the role of Karang Taruna, a community youth organization, in strengthening adolescents’ social skills in Bina Baru Village, Kampar Regency, and identifies the forms of social support that sustain its activities. A descriptive qualitative approach was employed with four informants representing the chair and vice-chair of Karang Taruna, a member/community representative, and a community or village representative. Data were collected through interviews, direct observation, and documentation and were analyzed inductively by comparing information across sources and data-collection techniques. The findings reveal four main role patterns. First, religious events, sports, competitions, and village activities provide spaces for positive interaction and encourage adolescents’ participation in public activities. Second, acceptance of differing opinions and closer relationships among members support confidence in communication. Third, communal work and joint activities provide practice in teamwork, caring, and solidarity. Fourth, deliberation and collaboration with families, community members, and village officials are used to address conflict and social problems. The study indicates that Karang Taruna functions as an experiential social-learning space that can support nonformal youth education and the development of practical social skills in rural communities. Abstrak: Penelitian ini bertujuan menganalisis peran Karang Taruna dalam penguatan keterampilan sosial remaja di Desa Bina Baru, Kabupaten Kampar, serta mengidentifikasi bentuk dukungan sosial yang menopang pelaksanaan kegiatannya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan melibatkan empat informan yang mewakili ketua dan wakil ketua Karang Taruna, anggota/masyarakat, serta tokoh masyarakat/perangkat desa. Data diperoleh melalui wawancara, observasi langsung, dan dokumentasi, kemudian dianalisis secara induktif dengan membandingkan informasi antarsumber dan antarteknik pengumpulan data. Temuan menunjukkan empat pola peran utama. Pertama, kegiatan keagamaan, olahraga, perlombaan, dan kegiatan desa menyediakan ruang interaksi positif serta meningkatkan keterlibatan remaja dalam aktivitas publik. Kedua, penerimaan terhadap perbedaan pendapat dan kedekatan antaranggota membantu membangun kepercayaan diri dalam berkomunikasi. Ketiga, gotong royong dan kegiatan bersama melatih kerja tim, kepedulian, dan solidaritas. Keempat, musyawarah serta kolaborasi dengan keluarga, masyarakat, dan perangkat desa digunakan untuk menangani konflik dan permasalahan sosial. Temuan ini menegaskan Karang Taruna sebagai ruang belajar sosial berbasis pengalaman yang relevan bagi pendidikan nonformal remaja di tingkat desa.