Arief, Abd Salam
Al-Jamiah Research Centre

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Al-Muḍārabah Min Wujhat Naẓr al-fiqh wa-Tajribat Bank al-Syarīah Arief, Abd Salam
Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies Vol 42, No 2 (2004)
Publisher : Al-Jamiah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2004.422.411-427

Abstract

In Indonesian society, mudhārabah is one of sharīah economics systems that have been performed since long time ago in rural society. One example of mudhārabah is that landowners give the authority to other people to manage their lands and to share their crops. In fact, the prophet Muhammad has also done in his time of a such kind mudhārabah system in his society. In doing so, two parts are involved, the investor (shāhih al māl) and the manager of the land (al-mudhārib). Nowadays, mudbārabah is an Islamic economics system that is offered by sharīah banks to attract more customers. In applying this system, mudhārabah can be seen in two ways, as a system and as a product. Mudhārabah as a system is when it is used as guidance by a bank in its transactions. i,e., Partnerships agreement between the owner of the capital and the manager of a business is based on outcomes sharing. Mudbārabah as a product was applied in two ways in sharīah banks, i.e. the bank as the owner of the capital and the bank as the manager of a business. This article illustrates the way that nudhārabah is applied in sharīah banks in the perspective of fiqh.
Taṣawwur al-Dawlah al-Qawmiyyah fī Mīthāq al- Madīnah Arief, Abd Salam
Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies Vol 50, No 1 (2012)
Publisher : Al-Jamiah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2012.501.179-196

Abstract

Artikel ini membahas konsep negara bangsa dalam Piagam Madinah. Apakah konsep ‘ummah’ dalam Piagam Madinah berkonotasi kebangsaan dalam pengertian yang luas, modern, dan berskala nasional, atau sematamata bersifat eksklusif, yakni terbatas hanya di kalangan muslim saja, meski realitas masyarakat Madinah waktu itu sangatlah heterogen. Berbagai hipotesa telah muncul. Kesemuanya menggarisbawahi signifikansi Piagam Madinah sebagai dasar-dasar sosial politik bagi masyarakat Madinah serupa dengan undangundang. Karena itu, Piagam Madinah mencerminkan sebuah konstitusi berlaku dalam masyarakat Madinah yang terbentuk sebagai kesatuan politik dan diikat oleh kesepakatan bersama. Dengan piagam ini, warga yang bersifat heterogen menjadi satu kesatuan dengan hak dan kewajiban yang sama, saling menghormati walaupun berbeda suku dan agama. Tentu saja, isi Piagam Madinah merupakan suatu pandangan moderen dan merupakan suatu solusi politik dalam mengantisipasi dan mecegah persoalan yang diakibatkan karena keragaman. Ini dilakukan dengan membentuk apa yang dijelaskan dalam Piagam Madinah sebagai ‘ummah.