Dewita Karema Sarajar
Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

HUBUNGAN SELF-CONCEPT DAN PSYCHOLOGICAL WELL-BEING PADA REMAJA TELADAN GEREJA MASEHI INJILI DI MINAHASA (GMIM) Angelie Mutiara Pinka Poluakan; Dewita Karema Sarajar
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i2.10325

Abstract

This study aimed to examine the relationship between self-concept and psychological well-being among Remaja Teladan of the Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM). This reseaarch is significant because Remaja Teladan GMIM are situated within a distinctive socio-religious context, characterized by moral-religious expectations and demands to serve as exemplary figures within the church community. This study employed a quantitative approach with a correlational research design. The participants consisted of 169 Remaja Teladan GMIM aged 12–17 years, selected using a purposive sampling technique. Data were collected using the Tennessee Self Concept Scale (TSCS) 2nd Edition Short Form and the short version of Ryff’s Psychological Well-Being Scale. Data were analyzed using the non-parametric Spearman’s rho correlation test because the data were not normally distributed. The results showed a significant positive relationship between self-concept and psychological well-being among Remaja Teladan GMIM. This means that adolescents with a more positive self-concept tend to have higher psychological well-being. These findings indicate that self-concept is associated with psychological well-being in the context of adolescents’ roles as exemplary figures within the church community. The implications of this study emphasize the importance of developing a positive self-concept in Remaja Teladan GMIM mentoring programs to support psychological well-being and optimal psychological functioning. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara konsep diri dan kesejahteraan psikologis pada Remaja Teladan Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM). Kajian ini penting karena Remaja Teladan GMIM berada dalam konteks sosial-keagamaan yang khas, yaitu adanya ekspektasi moral-religius dan tuntutan untuk tampil sebagai figur teladan dalam komunitas gerejawi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Partisipan penelitian berjumlah 169 Remaja Teladan GMIM berusia 12–17 tahun yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui Tennessee Self Concept Scale (TSCS) 2nd Edition Short Form dan Ryff Psychological Well-Being Scale versi pendek. Analisis data menggunakan statistik nonparametrik korelasi Spearman’s rho karena data tidak berdistribusi normal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara self-concept dan psychological well-being pada Remaja Teladan GMIM. Artinya, remaja dengan self-concept yang lebih positif cenderung memiliki psychological well-being yang lebih tinggi. Temuan ini menunjukkan bahwa self-concept berkorelasi dengan psychological well-being dalam konteks peran remaja sebagai figur teladan di lingkungan gerejawi. Implikasi penelitian ini menekankan pentingnya pengembangan konsep diri yang positif dalam program pembinaan Remaja Teladan GMIM guna mendukung kesejahteraan psikologis dan keberfungsian psikologis yang optimal.
HUBUNGAN SECURE ATTACHMENT DAN RESILIENSI AKADEMIK MAHASISWA FUNGSIONARIS LEMBAGA KEMAHASISWAAN UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA Natasha Arwen Mandeij; Dewita Karema Sarajar
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aimed to examine the relationship between secure attachment and academic resilience among student organization officers at Universitas Kristen Satya Wacana. Previous studies have mostly examined general university students or migrant students, whereas research specifically focusing on student organization officers with dual academic-organizational responsibilities remains limited. This study employed a quantitative approach with a correlational design. The participants consisted of 218 students selected using purposive sampling. Data were collected using secure attachment and academic resilience scales that had been tested for validity and reliability. Data analysis was conducted using Spearman’s rho correlation test. The results showed a significant, strong, and positive relationship between secure attachment and academic resilience. Secure attachment was also statistically associated with variation in students’ academic resilience. These findings suggest that students with secure attachment tend to be better able to cope with academic demands and organizational responsibilities. The implications of this study highlight the importance of emotional support and attachment quality in enhancing academic resilience among university students. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara secure attachment dan resiliensi akademik pada mahasiswa fungsionaris Lembaga Kemahasiswaan Universitas Kristen Satya Wacana. Studi sebelumnya lebih banyak meneliti mahasiswa umum atau mahasiswa perantau, sedangkan penelitian yang secara khusus menyoroti mahasiswa fungsionaris dengan beban akademik-organisasi masih terbatas. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Partisipan penelitian berjumlah 218 mahasiswa yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui skala secure attachment dan skala resiliensi akademik yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi Spearman’s rho. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan dan kuat antara secure attachment dan resiliensi akademik. Secure attachment juga berasosiasi secara statistik dengan variasi resiliensi akademik mahasiswa. Temuan ini menunjukkan bahwa mahasiswa dengan kelekatan yang aman cenderung memiliki kemampuan yang lebih baik dalam menghadapi tekanan akademik dan tanggung jawab organisasi. Implikasi penelitian ini menegaskan pentingnya dukungan emosional dan kualitas hubungan kelekatan dalam upaya meningkatkan resiliensi akademik mahasiswa.
HUBUNGAN ANTARA SELF-EFFICACY DAN SOCIAL LOAFING PADA SISWA SEKOLAH MENENGAH ATAS Leony Anastasya Paath; Dewita Karema Sarajar
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i2.10340

Abstract

Unlike most previous studies that have focused primarily on college student populations, this study addresses a gap in the literature by examining the relationship between self-efficacy and social loafing among senior high school students, a group of adolescents with distinct group-work dynamics and collective evaluation patterns. This study aimed to analyze the direction and strength of the relationship between self-efficacy and social loafing in the context of collaborative learning among senior high school students. A quantitative approach with a correlational design was employed. The participants consisted of 388 senior high school students in Indonesia selected through accidental sampling. Data were collected using a self-efficacy scale and a social loafing scale, and were analyzed using Spearman’s correlation because the data were not normally distributed. The results showed a significant, strong, and positive relationship between self-efficacy and social loafing (ρ = 0.642; p < 0.01). This finding indicates that higher levels of students’ self-efficacy are associated with higher reported tendencies of social loafing in group work. This result differs from the initial hypothesis and from several previous findings that generally associate high self-efficacy with active participation. Theoretically, this study demonstrates the contextual limitations of self-efficacy theory in adolescent collaborative learning situations with limited individual accountability. Practically, the findings emphasize the importance of clear role distribution, individual contribution assessment, and accountability mechanisms in group assignments to reduce social loafing among senior high school students. ABSTRAK Berbeda dengan mayoritas penelitian sebelumnya yang lebih banyak berfokus pada populasi mahasiswa, penelitian ini mengisi kesenjangan literatur dengan mengkaji hubungan antara self-efficacy dan social loafing pada siswa Sekolah Menengah Atas (SMA), yaitu kelompok remaja yang memiliki dinamika kerja kelompok dan pola evaluasi kolektif yang berbeda dari mahasiswa. Penelitian ini bertujuan menganalisis arah dan kekuatan hubungan antara self-efficacy dan social loafing dalam konteks pembelajaran kolaboratif siswa SMA. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Partisipan terdiri atas 388 siswa SMA di Indonesia yang dipilih melalui teknik accidental sampling. Data dikumpulkan menggunakan skala self-efficacy dan skala social loafing, kemudian dianalisis dengan korelasi Spearman karena data tidak berdistribusi normal. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang signifikan, kuat, dan positif antara self-efficacy dan social loafing (r = 0,642; p < 0,01). Temuan ini menunjukkan bahwa semakin tinggi self-efficacy siswa, semakin tinggi pula kecenderungan social loafing yang dilaporkan dalam kerja kelompok. Hasil ini berbeda dari hipotesis awal dan sebagian temuan terdahulu yang umumnya mengaitkan self-efficacy tinggi dengan partisipasi aktif. Secara teoretis, penelitian ini menunjukkan batasan kontekstual teori self-efficacy dalam situasi pembelajaran kolaboratif remaja yang minim akuntabilitas individu. Secara praktis, temuan ini menegaskan pentingnya pembagian peran yang jelas, evaluasi kontribusi individu, dan mekanisme akuntabilitas dalam tugas kelompok untuk mengurangi social loafing pada siswa SMA.
HUBUNGAN SOCIAL COMPARISON DENGAN SELF-ESTEEM PADA REMAJA PENGGUNA INSTAGRAM DI KOTA MANADO Mirando Abram Pakasi; Dewita Karema Sarajar
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.11018

Abstract

ABSTRACT Instagram is one of the most widely used social media platforms among adolescents, and its use is closely associated with activities of comparing oneself to other users. This phenomenon prompted the researcher to examine the relationship between social comparison and self-esteem among adolescent Instagram users in Manado City. This study employed a quantitative approach with a correlational design. A total of 151 adolescent participants aged 13–18 years were selected using purposive sampling. Data were collected using the Iowa Netherlands Comparison Orientation Measure (INCOM) to measure social comparison and the Self-Liking and Self-Competence Scale Revised (SLCS-R) to measure self-esteem. Data analysis was conducted using Spearman's rho correlation test. The results showed a correlation coefficient of −0.664 with a significance value of 0.000 (p < 0.01), indicating a significant negative relationship with strong magnitude between social comparison and self-esteem. These findings suggest that adolescents with higher tendencies toward social comparison tend to have lower self-esteem. The results of this study can serve as a basis for developing psychological interventions aimed at helping adolescents manage their tendency to compare themselves on social media in order to maintain their mental health. ABSTRAK Instagram merupakan salah satu platform media sosial yang paling banyak digunakan oleh remaja, dan penggunaannya tidak lepas dari aktivitas membandingkan diri dengan pengguna lain. Fenomena ini mendorong peneliti untuk mengkaji hubungan antara social comparison dan self-esteem pada remaja pengguna Instagram di Kota Manado. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Sebanyak 151 partisipan remaja berusia 13–18 tahun dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan Iowa Netherlands Comparison Orientation Measure (INCOM) untuk mengukur social comparison dan Self-Liking and Self-Competence Scale Revised (SLCS-R) untuk mengukur self-esteem. Analisis data menggunakan uji korelasi Spearman's rho. Hasil penelitian menunjukkan koefisien korelasi sebesar -0,664 dengan nilai signifikansi 0,000 (p < 0,01), yang berarti terdapat hubungan negatif yang signifikan dengan kekuatan kuat antara social comparison dan self-esteem. Temuan ini mengindikasikan bahwa social comparison dan self-esteem memiliki keterkaitan yang bermakna secara psikologis, di mana keduanya bergerak dalam arah yang berlawanan pada remaja pengguna Instagram di Kota Manado. Hasil penelitian ini dapat menjadi dasar bagi pengembangan intervensi psikologis yang bertujuan membantu remaja mengelola kecenderungan membandingkan diri di media sosial guna menjaga kesehatan mental mereka.
PENGARUH DUKUNGAN ORANG TUA TERHADAP KEBAHAGIAAN ANAK TUNGGAL USIA DEWASA AWAL Ancilla Carolina Kartijoso; Dewita Karema Sarajar
Jurnal Psikologi Malahayati Vol 8, No 1 (2026): Jurnal Psikologi Malahayati
Publisher : Program Studi Psikologi Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jpm.v8i1.24407

Abstract

Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pengaruh dukungan orang tua terhadap kebahagiaan anak tunggal usia dewasa awal (18-25 tahun). Metode yang digunakan adalah kuantitatif dengan desain analisis regresi, melibatkan 127 partisipan anak tunggal yang dipilih melalui teknik accidental sampling. Kebahagiaan diukur dengan menggunakan Oxford Happiness Questionnaire (OHQ), sedangkan dukungan orang tua diukur melalui Perceived Parental Academic Support Scale. Hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh positif yang signifikan antara dukungan orang tua dan kebahagiaan anak tunggal dewasa awal. Temuan ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menekankan pentingnya dukungan orang tua dalam meningkatkan kesejahteraan emosional dan psikologis individu dewasa awal. Diharapkan individu anak tunggal dewasa awal dapat merefleksikan pengalaman mereka terkait dukungan orang tua, dan orang tua dapat lebih aktif dalam memenuhi kebutuhan emosional anak tunggal mereka Kata Kunci: Kebahagiaan, Dukungan Orang Tua, Anak Tunggal, Dewasa Awal AbstractThis study aims to explore the influence of parental support on the happiness of only children in early adulthood (18-25 years old). The method used was quantitative with regression analysis design, involving 127 only child participants selected through accidental sampling technique. Happiness was measured using the Oxford Happiness Questionnaire (OHQ), while parental support was measured using the Perceived Parental Academic Support Scale. The results showed a significant positive influence between parental support and happiness of early adult only children. This finding is in line with previous research that emphasizes the importance of parental support in improving the emotional and psychological well-being of early adult individuals. It is hoped that individual early adult only children can reflect on their experiences regarding parental support, and parents can be more active in meeting the emotional needs of their only children. Keywords: Happiness, Parental Support, Only Child, Early Adulthood