Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Determinan Tingkat Kesejahteraan Masyarakat di Kabupaten Karangasem Ni Komang Widia Sentani; I Nyoman Mahaendra Yasa
Journal of Education Transportation and Business Vol 1, No 2 (2024): Desember 2024
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/jetbus.v1i2.4400

Abstract

Memiliki kehidupan yang sejahtera merupakan impian yang ingin dicapai oleh setiap orang karena kualitas hidup masyarakat digambarkan melalui tingkat kesejahteraan. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) digunakan sebagai tolak ukur kesejahteraan masyarakat dengan mengamati sudut pandang lain dari penerapan pembangunan manusia atas dasar tiga indikator, yaitu kesehatan, pendidikan, serta daya beli. Kabupaten Karangasem merupakan kabupaten dengan peringkat Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang masih berada pada posisi “sedang” dan paling rendah dibandingkan kabupaten lainnya di Provinsi Bali, artinya terjadi ketimpangan/disparitas kesejahteraan masyarakat di Kabupaten Karangasem. Adapun beberapa faktor yang memengaruhi kesejahteraan masyarakat di Kabupaten Karangasem adalah tingkat kemiskinan, rasio ketergantungan, Angka Partisipasi Murni (APM), dan angka kesakitan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh tingkat kemiskinan, rasio ketergantungan, Angka Partisipasi Murni (APM), dan angka kesakitan secara simultan dan parsial terhadap kesejahteraan masyarakat di Kabupaten Karangasem. Desain penelitian yang digunakan yaitu metode kuantitatif yang bersifat asosiatif. Lokasi penelitian dilakukan di Kabupaten Karangasem. Sumber data penelitian ini bersumber dari publikasi Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Karangasem pada periode tahun 2010-2023. Jenis data dalam penelitian ini adalah data kuantitatif yang bersumber dari Badan Pusat Statistik (BPS) Karangasem. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu observasi non partisipan dan dianalisis menggunakan model regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel tingkat kemiskinan, rasio ketergantungan, Angka Partisipasi Murni (APM), dan angka kesakitan secara simultan berpengaruh signifikan terhadap kesejahteraan masyarakat. Secara parsial, tingkat kemiskinan, rasio ketergantungan, dan angka kesakitan berpengaruh negatif dan signifikan terhadap kesejahteraan masyarakat. Angka Partisipasi Murni (APM) berpengaruh positif dan signifikan terhadap kesejahteraan masyarakat. Berdasarkan implikasi hasil penelitian, bahwa alokasi anggaran pendidikan yang tepat sasaran mampu memutus rantai kemiskinan sehingga menurunkan tingkat kemiskinan. Upaya menurunkan rasio ketergantungan melalui peningkatan kualitas tenaga kesehatan dan peningkatan pengguna Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) sehingga menekan angka kelahiran dan kematian. Pemerintah harus lebih fokus pada pembangunan dan perbaikan sekolah dan penyediaan bahan ajar yang berkualitas sehingga meningkatkan Angka Partisipasi Murni (APM). Peningkatan kualitas sanitasi melalui penggunaan jamban sehat akan berdampak pada penurunan angka kesakitan.
DETERMINAN PERTUMBUHAN EKONOMI DAN TINGKAT KEMISKINAN DI KABUPATEN BULELENG Putu Agung Krisna Dwipayana Putra; I Nyoman Mahaendra Yasa
E-Jurnal Ekonomi Pembangunan Vol. 13 No. 01 (2024): Vol. 13, No. 01, Januari 2024
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/EEP.2024.v13.i01.p02

Abstract

This study aims to analyze the influence of the quality of human resources, UMK, and investment on economic growth and poverty levels in Buleleng Regency. The research location is in Buleleng Regency with secondary data obtained from the Central Bureau of Statistics (BPS). The number of observations in this study is 15 observations in the 2008-2022 timeframe using time series data. The data analysis technique used in this research is descriptive analysis and path analysis. The results of the research show that 1) the quality of human resources, district minimum wages (UMK), and investment have a positive and significant effect on economic growth; 2) The quality of human resources and investment has a negative and significant effect, the district minimum wage (UMK) has a negative and insignificant effect, while economic growth has no negative and significant effect on the poverty rate; 3) The quality of human resources, the District Minimum Wage (UMK), has an indirect effect, while investment does not indirectly affect the poverty rate through economic growth in Buleleng Regency. Keywords : human resources quality, district minimum wage (UMK), investment, economic growth, poverty rate
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI EKSPOR BATUBARA INDONESIA KE JEPANG Gilbert Simaremare; I Nyoman Mahaendra Yasa
E-Jurnal Ekonomi Pembangunan Vol. 14 No. 2 (2025): Vol.14.No.2. FEBRUARI 2025 [118-186]
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/EEP.2025.v14.i02.p05

Abstract

Perdagangan internasional sudah lama di lakukan dengan melakukan ekspor maupun impor dari dua negara atau lebih. Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber alamnya dari segala sektor salah satunya disektor mineral dan tambang. Sektor mineral dan tambang menjadi unggulan dalam perdagangan internasional. Komoditas unggulan dari sektor tambang yaitu batubara. Batubara memberikan nilai eskpor yang lebih besar di bandingkan komoditas tambang lainnya.Perkembangan ekspor batubara Indonesia ke 10 negara pada tahun 2019 sampai 2021 mengalami penurunan dan pada tahun 2022 sampai 2023, volume ekspor batubara ke negara Jepang berada pada urut kedelapan terbesar dari 10 negara tujuan ekspor sebesar 3,57 persen. Faktor yang mempengaruhi volume ekspor adalah pertumbuhan sektor industri, kurs dollar dan harga batubara internasional. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis pengaruh pertumbuhan sektor industri, kurs dollar AS dan harga batubara internasional terhadap volume ekspor batubara Indonesia ke Jepang. Objek pada penelitian ini adalah volume ekspor batubara ke Jepang. Pengumpulan data mengunakan data sekunder dengan data kuantitatif yang digunakan pertumbuhan sektor industri, kurs dollar AS, harga batubara internasional dan volume ekspor batubara. Penelitian ini menggunakan data time siries dengan jumlah pengamatan 25 dan rentang waktu 1999-2023 yang diperoleh dari studi literatur yang di publikasikan oleh UN Comtrade, Kementerian Pedagangan, BPS Indonesia, World Bank. Penelitian mengunakan teknik analisis regresi linear berganda. Hasil penelitian ini menunjukkan pertumbuhan sektor industri, kurs dollar AS, harga batubara internasional berpengaruh secara simultan terhadap volume eskpor batubara ke Jepang. Secara parsial pertumbuhan sektor industri berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap volume ekspor batubara, kurs dollar AS berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap volume ekspor batubara ke Jepang dan harga batubara Internasional berpengaruh positif dan signifikan terhadap volume ekspor batubara ke Jepang. Implikasi hasil penelitian ini mempunyai implikasi bahwa faktor ekternal negara tujuan utama ekspor batubara Indonesia berupa harga batubara internasional menentukan volume ekspor batubara indonesia.
PENGARUH DIMENSI GLOBALISASI TERHADAP PERDAGANGAN INTERNASIONAL DI BEBERAPA NEGARA ASIA TENGGARA Safitri; I Made Endra Kartika Yudha; I Nyoman Mahaendra Yasa; I Nyoman Wahyu Widiana
Berajah Journal Vol. 6 No. 4 (2026): Berajah Journal
Publisher : CV. Lafadz Jaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47353/bj.v6i4.513

Abstract

International trade is an important indicator of a country’s economic openness and integration into the global system, where Southeast Asian countries such as Indonesia, Malaysia, Myanmar, and Thailand exhibit varying trade dynamics influenced by economic, social, and political globalization. This study aims to analyze the impact of these three dimensions of globalization on international trade during the 1980–2023 period using panel data regression with the Fixed Effect Model at a five percent significance level. The results show that, simultaneously, all dimensions of globalization have a significant effect on international trade. However, partially, economic globalization has a negative and significant effect, while social and political globalization have positive and significant effects. This indicates that economic openness without adequate domestic readiness can hinder trade performance, whereas social connectivity and political cooperation can enhance trade activities. Therefore, appropriate policies are needed to optimize the benefits of globalization while minimizing risks such as import dependency, global commodity price volatility, and low export diversification.
Analysis of Sectoral Contributions and Intersectoral Linkages in The Economy of Bali Province: An Input-Output and Multiplier Product Matrix Approach Luh Made Arisusanti; I Nyoman Mahaendra Yasa
Journal of Business, Social and Technology Vol. 7 No. 3 (2026): Journal of Business, Social and Technology
Publisher : Politeknik Siber Cerdika Internasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59261/jbt.v7i3.670

Abstract

Background: Regional economic development aims to improve community welfare through a productive and sustainable economic structure. Bali Province still shows a high dependence on the service sector, particularly tourism, making it vulnerable to external shocks such as the COVID-19 pandemic. Objective: This study aims to analyze the contribution of economic sectors, forward and backward linkages, dispersion power, degree of sensitivity, and output, income, and labor multipliers in Bali Province. Methods: This study uses a quantitative approach with Input-Output analysis and the Multiplier Product Matrix (MPM). The data were obtained from the 2016 Input-Output Table of Bali Province, updated to 2024 using the RAS method. Results: The findings show that Bali’s economic structure is still dominated by the service sector, particularly the accommodation and food service sector, which serves as the main contributor to output, gross value added, and final demand. The accommodation and food service sector has the strongest forward linkages (index = 4.671), while the electricity and gas supply sector has the highest backward linkages (index = 1.892) and serves as a key sector in the economy. The multiplier analysis indicates that the accommodation and food service sector has the highest output multiplier (2.341), the financial and insurance services sector has the highest income multiplier (1.756), and the wholesale and retail trade sector has the highest labor multiplier (3.124). Conclusion: Bali’s economic development needs to continue strengthening the tourism sector as a leading sector, while also promoting economic diversification and strengthening strategic sectors to sustainably enhance regional economic resilience.