Amprasto Amprasto
Master Program of Biology Education, Faculty of Mathematics and Natural Science Education, Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung, West Java

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Learning innovation: Reconstruction laboratory activities design on respiratory air and designing a simple spirometer Solikhah Isti Fadilah; Bambang Supriatno; Alfyn Abdan Nurahman; Amprasto Amprasto
BIO-INOVED : Jurnal Biologi-Inovasi Pendidikan Vol 6, No 2 (2024): June 2024
Publisher : Master Program of Biology Education, Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/bino.v6i2.19252

Abstract

Laboratory practicum in science learning is considered important, especially in the context of the Independent Curriculum. Science-based learning is needed to encourage the development of students' skills and character, supported by practical activities. Good practical activities not only allow students to understand scientific concepts but also train students to apply scientific methods effectively. The aim of this research is to analyze, reconstruct, and design simple tools to improve Laboratory Activities Designed (LAD) on the respiratory air sub-material. The research method used is descriptive to show existing phenomena. Analysis was carried out using Vee Diagrams; then trials were carried out, reconstruction and design of simple tools, second trials, and revisions. The results of the analysis show that the five LAD samples are still in the very poor category, so improvements need to be made to avoid mistakes in the future. Researchers carried out LAD reconstruction, which included appearance, title, purpose, tools and materials, procedures, and questions. Reconstruction is supported by designing a tool in the form of a simple spirometer. The design of this simple tool can be assigned to students to train creativity and solve problems. It is hoped that the results of this analysis and reconstruction can help teachers in designing LAD for other materials in the future to suit learning objectives and the applicable curriculum.Abstract. Praktikum laboratorium dalam pembelajaran sains dinilai penting terutama dalam konteks Kurikulum Merdeka. Pembelajaran berbasis sains diperlukan untuk mendorong pengembangan keterampilan dan karakter siswa dengan didukung kegiatan praktikum. Kegiatan praktikum yang baik tidak hanya memungkinkan siswa untuk memahami konsep sains, tetapi juga melatih siswa dalam menerapkan metode ilmiah dengan efektif. Tujuan penelitian ini yaitu untuk menganalisis, melakukan rekonstruksi dan merancang alat sederhana untuk menyempurnakan Laboratory Activities Designed (LAD) pada sub materi udara hasil pernafasan. Metode penelitian yang digunakan yaitu deskriptif untuk menunjukkan fenomena yang ada. Analisis dilakukan menggunakan Diagram Vee, selanjutnya dilakukan uji coba, rekonstruksi dan perancangan alat sederhana, uji coba kedua, dan revisi. Hasil analisis menunjukkan bahwa kelima sampel LAD masih dalam kategori sangat buruk sehingga perlu dilakukan perbaikan untuk menghindari kekeliruan di masa yang akan datang. Peneliti melakukan rekonstruksi LAD yang mencakup tampilan, judul, tujuan, alat dan bahan, prosedur, dan pertanyaan. Rekonstruksi didukung dengan perancangan alat berupa spirometer sederhana. Perancangan alat sederhana ini dapat ditugaskan kepada siswa untuk melatih kreativitas dan memecahkan masalah. Hasil analisis dan rekonstruksi ini diharapkan dapat membantu guru-guru dalam merancang LAD materi lain di masa depan agar sesuai dengan tujuan pembelajaran dan kurikulum yang berlaku.
Development of gamification-based e-module on global warming material for grade X Novita Resti; Kusnadi Kusnadi; Amprasto Amprasto
BIO-INOVED : Jurnal Biologi-Inovasi Pendidikan Vol 7, No 2 (2025): June 2025
Publisher : Master Program of Biology Education, Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/bino.v7i2.22110

Abstract

Although electronic modules offer interactivity, the integration of gamification remains limited, particularly for topics such as global warming in high school biology. This gap highlights the need for teaching materials that align with the demands of the digital era and the characteristics of modern learners. This study aims to develop a gamification-based e-module on global warming, determine the feasibility of the developed e-module, and assess student responses. This research is of the Research and Development (R&D) type using the 4D model, limited to the development stage. The instruments used in this study include interview sheets and environmental literacy questions in the define stage, the e-module design blueprint in the design stage, content feasibility validation sheets, graphic design and language validation sheets, as well as student response questionnaires in the development stage. The results of this research are as follows: (1) the feasibility of the gamification-based e-module in terms of content has a score of 85.49, categorized as "very feasible," (2) the feasibility in terms of graphic design has a score of 91.16, categorized as "very feasible," (3) the feasibility in terms of language has a score of 87.27, categorized as "very feasible," (4) the average student response score is 91.11, with 89% of students giving a positive response to the e-module, and (5) the gamification-based e-module on global warming is highly feasible to be used in the learning process. This study has both theoretical and practical implications. Theoretically, the gamification-based e-module opens opportunities for the development of more interactive learning materials that can enhance environmental literacy and learning motivation. Practically, this e-module serves as an engaging alternative in science education, particularly in biology, and can be further developed by teachers for various subjects and educational levels.Abstrak. Meskipun modul elektronik menawarkan interaktivitas, integrasi gamifikasi masih terbatas, terutama untuk topik seperti pemanasan global dalam biologi SMA. Kesenjangan ini menyoroti kebutuhan akan bahan ajar yang sesuai dengan tuntutan era digital dan karakteristik pembelajar modern. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan e-module berbasis gamifikasi pada materi pemanasan global, mengetahui kelayakan dari e-module yang dikembangkan dan respon peserta didik. Jenis penelitian ini adalah Research and Development (R&D) dengan menggunakan model 4D yang dibatasi hanya sampai pada tahap development. Instrumen pada penelitian ini adalah lembar wawancara, lembar validasi kelayakan isi materi, kegrafikan dan bahasa serta angket respon. Hasil penelitian yaitu; (1) kelayakan e-module berbasis gamifikasi pada aspek kelayakan isi adalah 85,49 dengan kategori “sangat layak”, (2) kelayakan pada aspek kegrafikan mendapatkan nilai 91,16 dengan kategori “sangat layak”, (3) kelayakan pada aspek bahasa sebesar 87,27 dengan kategori “sangat layak”, (4) nilai rata-rata respon peserta didik yaitu sebesar 91,11 dengan 89% peserta didik memberikan respon positif terhadap e-module (5) e-module berbasis gamifikasi pada materi pemanasan global sangat layak digunakan dalam proses pembelajaran. Penelitian ini memiliki implikasi baik secara teoritis maupun praktis. Secara teoritis, e-module berbasis gamifikasi membuka peluang untuk pengembangan bahan ajar yang lebih interaktif yang dapat meningkatkan literasi lingkungan dan motivasi belajar peserta didik. Secara praktis, e-module ini berfungsi sebagai alternatif menarik dalam pendidikan sains, khususnya biologi, dan dapat dikembangkan lebih lanjut oleh guru untuk berbagai mata pelajaran dan jenjang pendidikan.
Level of systems thinking competencies among senior high school students Lia Zaradiva; Widi Purwianingsih; Amprasto Amprasto; Fuad Mardhatillah
BIO-INOVED : Jurnal Biologi-Inovasi Pendidikan Vol 7, No 3 (2025): October 2025
Publisher : Master Program of Biology Education, Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/bino.v7i3.22479

Abstract

Environmental issues are characterized by dynamism and complexity, which challenge traditional problem-solving approaches and demand adherence to sustainability principles. In this context, students need to be equipped with systems thinking competencies to better understand and address environmental problems. Systems thinking encompasses the ability to identify components within a system, understand their interrelationships, and manage uncertainty, diversity, and risks. However, there was a lack of empirical evidence on how secondary students conceptualize and apply systems thinking in real-world environmental contexts. This study aimed to assess the level of systems thinking competencies among senior high school students. The participants were 133 tenth-grade students enrolled in the 2024–2025 academic year in East Aceh. Data were collected using an essay-based test consisting of eight items developed from the systems thinking framework UNESCO. Criterion validity was analyze using Pearson correlation, while the reliability of the instrument was determined through Cronbach’s Alpha (0.79, moderate). Descriptive statistics were used to analyze students’ competencies levels. The results showed that most students were categorized at Level 1 (insufficient) and Level 2 (satisfactory), with a smaller portion at Level 3 (good). No students reached Level 4 (very good). These findings offer preliminary insights into students’ systems thinking abilities and highlight the pressing need for effective educational interventions to strengthen their engagement with sustainable development. Therefore, the results provide a standard for designing targeted interventions aimed at advancing sustainable education.Abstrak. Isu-isu lingkungan yang terus berkembang menuntut penanganan yang kompleks dan berpihak pada prinsip keberlanjutan. Oleh karena itu, sangat penting untuk membekali siswa dengan kompetensi berpikir sistem sebagai bekal dalam menghadapi permasalahan lingkungan. Kompetensi berpikir sistem mencakup kemampuan mengenali dan memahami komponen serta hubungan timbal balik antarkomponen dalam suatu sistem yang kompleks, serta kemampuan menghadapi ketidakpastian dari tindakan yang diambil. Namun masih sedikit penelitian yang membahas tentang bagaimana siswa sekolah menengah mengonseptualisasikan dan menerapkan pemikiran sistem dalam konteks lingkungan dunia nyata. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkatan kompetensi berpikir sistem siswa SMA. Sampel penelitian terdiri dari 133 siswa kelas X pada tahun ajaran 2024–2025 di Aceh Timur. Teknik pengumpulan data menggunakan instrumen tes berupa 8 soal esai yang disusun berdasarkan kerangka kompetensi berpikir sistem dari UNESCO. Analisi Data dengan uji Pearson dan Nilai Cronbach Alpha 0,79 (Sedang) dan Statistik Deskriptif untuk tingkatan berpikir sistem. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar siswa berada pada tingkat kompetensi kurang (Level 1) dan cukup (Level 2). Belum ditemukan siswa yang mencapai tingkat kompetensi baik (Level 3 dan 4). Penelitian ini memberikan gambaran awal mengenai kompetensi berpikir sistem siswa SMA serta menegaskan urgensi perlunya pengembangan intervensi pembelajaran yang tepat guna meningkatkan kemampuan berpikir sistem dalam rangka mendukung partisipasi aktif siswa terhadap pembangunan berkelanjutan. Oleh karena itu, hasil ini memberikan standar untuk merancang intervensi yang terarah dan bertujuan memajukan pendidikan berkelanjutan.